JawaPos Radar

Butuh Izin Pemuka Agama Jadikan Balaroa, Petobo Jadi Pemakaman Masal

09/10/2018, 09:45 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gempa sulteng, balaroa, petobo, kuburan masal,
Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) mendekati 2.000 pada Senin (8/10) (Picture-Alliance)
Share this image

JawaPos.com - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) mendekati 2.000 pada Senin (8/10), tetapi ribuan korban lainnya diyakini belum ditemukan. Para pejabat mengatakan tim pencari berencana berhenti mencari korban akhir pekan ini.

Dilansir dari CNBC pada Senin, (8/10), pejabat bagian satuan tugas bencana Jamaluddin mengatakan, jumlah korban resmi mencapai 1.948 orang. Dia mengoreksi angka jumlah korban yang sebelumnya disebutkan dalam konferensi pers di Jakarta sejumlah 1.944 orang.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei mengatakan, mungkin ada 5.000 korban yang masih terkubur di lumpur dalam di Balaroa dan Petobo, dua dari lingkungan paling parah di Palu. Namun dia menambahkan, angka itu harus diverifikasi oleh timnya. Gempa 28 September menyebabkan tanah basah dan gembur meleleh di sana. Terlalu lunak untuk menggunakan alat berat untuk pemulihan.

gempa sulteng, balaroa, petobo, kuburan masal,
Pembicaraan sedang dilakukan dengan otoritas agama dan anggota keluarga yang masih hidup untuk memutuskan apakah beberapa area dapat diubah menjadi kuburan masal untuk korban dimakamkan (AFP)

"Tidak mungkin untuk membangun kembali di daerah-daerah dengan risiko likuifaksi tinggi seperti Petobo dan Balaroa," katanya, menambahkan desa di sana akan direlokasi.

Pembicaraan sedang dilakukan dengan otoritas agama dan anggota keluarga yang masih hidup untuk memutuskan apakah beberapa area dapat diubah menjadi kuburan masal untuk korban dimakamkan di sana dengan monumen yang dibangun untuk mengingat mereka.

Pejabat menegaskan, pencarian diharapkan akan berakhir pada hari Kamis. Namun, batas waktu dapat diperpanjang jika diperlukan. Rampangilei mengatakan, kehidupan mulai kembali normal di beberapa daerah yang terkena bencana. Kebutuhan makanan dan air segera telah terpenuhi, dan pemerintah daerah mulai berfungsi kembali.

Banyak sekolah telah hancur total, tetapi dia mengatakan kelas akan dilanjutkan jika memungkinkan. Meski, banyak siswa yang masih terlalu takut untuk memulai aktivitas.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up