JawaPos Radar

Setelah Sesar Palu Koro yang Picu Tsunami, Sesar Walanae Ikut Bergerak

09/10/2018, 05:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Setelah Sesar Palu Koro yang Picu Tsunami, Sesar Walanae Ikut Bergerak
Pergerakan sesar Palu Koro yang menyebabkan gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala memicu pergerakan sesar Walanae. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Gempa Palu memicu aktivitas sejumlah lempengan atau patahan lain di Sulawesi. Salah satunya, sesar Walanae.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat cukup banyak gempa yang terjadi di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) pascagempa di Sulawesi Tengah (Sulteng). Mulai Sinjai hingga gempa di Bulukumba.

Petugas Tsunami Early Warning System (TEWS) BMKG Wilayah IV Makassar, Muh Karnaen mengatakan, sebelum gempa di Palu dan sekitarnya, alat seismometer di beberapa tempat masih dalam keadaan diam. Tak ada pergerakan lempeng.

Barulah pascagempa besar itu, kondisi sesar Walanae ikut berpengaruh. Mengeluarkan energi dan pergerakan. Sangat aktif dari kondisi sebelumnya.

"Membangkitkan gempa di sesar lain. Patahan atau sesar Walanae ikut bangkit dan bereaksi," tuturnya dikutip dari Fajar (Jawa Pos Group), Selasa (9/10).

Wilayah yang berpotensi terdampak gempa pun ada beberapa di Sulsel. Terutama wilayah sesar Walanae, seperti Pinrang, Soppeng, Bone bagian barat, Sinjai, Bulukumba, dan Selayar.

Pada 7 Oktober lalu, sudah terjadi 14 kali gempa tektonik di kawasan Bulukumba-Bantaeng-Selayar. "Semua akibat energi sesar Walanae. Kemarin, tidak ada aktivitas gempa yang terjadi," jelasnya.

Magnitudo gempa akibat pergerakan sesar Walanae sejauh ini belum pada level yang memberi dampak kerusakan. Rata-rata hanya 3 sampai 4 SR.

BMKG juga belum menyimpulkan jenis aktivitas sesar Walanae: apakah jenis sesar datar, menurun, atau naik. Jika jenisnya sesar mendatar, punya daya dorong lebih besar. Dampak kerusakannya pun besar.

"Sesar Palu Koro itu mendatar. Makanya ketika aktif, daya rusaknya besar. Apalagi sifatnya sesar regional," jelasnya.

Pihaknya juga memprediksi potensi gempa dengan skala besar minim terjadi. Setelah gempa besar, akan disusul gempa dengan skala lebih kecil untuk menghabiskan energi yang ada di dalam patahan.

"Setelah itu diam. Kemudian dalam periode yang lama, gempa besar akan terjadi kembali. Biasanya minimal 50 tahun ke depan," tambahnya.

Pakar Geologi Unhas, Dr Eng Adi Maulana mengatakan, sesar Walanae termasuk jenis sesar mendatar. Hanya saja dari beberapa bagian, ada bidang yang turun, sehingga punya daya rusak yang lebih kecil ketimbang Palu Koro.

Sesar Walanae pada dasarnya terbentuk akibat siklus alam—saat pembentukan Pulau Sulawesi pada zaman pliosen (skala waktu geologi yang berlangsung 5,332 hingga 1,806 juta tahun yang lalu).

"Ada proses regangan yang berimbas terhadap terbentuknya sesar yang membentang dari barat laut sampai tenggara," jelasnya, kemarin.

Meski jenis sesarnya sama, Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas ini mengatakan, sesar Walanae tidak terlalu menimbulkan gempa yang besar. Hanya saja untuk saat ini kondisi sesar-sesar di pulau Sulawesi aktif akibat dampak gempa Palu.

Dampaknya, kata dia, beberapa hari terakhir terjadi gempa tektonik. Namun, potensi untuk tsunami nihil, mengingat magnitudo gempa yang terjadi hanya pada skala 3 sampai 4 SR.

(jpg/ce1/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up