JawaPos Radar

Nilai Positif Indonesia Dalam Gelaran Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018

08/10/2018, 17:12 WIB | Editor: Ilham Safutra
Nilai Positif Indonesia Dalam Gelaran Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018
Suasana di venue IMF-Bank Dunia, Nusa Dua, Bali (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Indonesia mendapat kesempatan dalam sebagai tuan rumah pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group 2018. Pertemuan yang berlangsung di Nusa Dua, Bali itu berlangsung sepekan sejak hari ini (8/10).

"Menjadi tuan rumah acara ini bukan hanya mendudukkan Indonesia di posisi penting dunia dalam kancah pendanaan pembangunan, tetapi juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit,” Agus Sari dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Senin (8/10).

Tentunya para acara yang dihadiri para tokoh dunia itu, Indonesia akan berkesempatan untuk memasukkan ide dan konsepnya untuk mendorong investasi swasta. Lalu pengembangan keuangan syariah.

Menurut Agus, meski annual meeting IMF-Bank Dunia ini menelan anggaran sebesar Rp 850 miliar, nantinya akan ada dampak berantai kepada ekonomi lokal pada usaha kecil masyarakat. “Jadi, pertemuan tersebut memberikan keuntungan ekonomi kepada Indonesia,” lanjutnya.

Selain itu, di tengah kondisi yang berduka karena baru saja ditimpa musibah, Indonesia mendapat pengakuan dari dunia. Terutama dalam penanganan ekonomi. Buktinya di tengah kondisi ekonomi dunia yang memburuk, Indonesia mampu memperlihatkan progres yang baik.

Agus yang juga politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyarankan, dari momentum pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia ini, pemerintah perlu menyiapkan pendanaan pembangunan berkelanjutan dengan cara yang lebih inovatif daripada sekadar pemberian utang.

Sebelumnya Kepala Unit Kerja Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group Peter Jacobs menyebut, panitia telah mengubah konsep acara pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia untuk berempati kepada korban bencana. Panitia tidak akan mengusung acara berkonsep pesta, tapi akan mengusung konsep solidaritas.

Panitia juga telah menghemat anggaran dengan menekan jumlah peserta acara resepsi penyambutan negara dari 6.000 orang menjadi 2.500 orang. Sebelumnya, pemerintah menyediakan anggaran sekitar Rp 850 miliar untuk acara itu. Namun, dengan penghematan yang dilakukan, panitia berharap pengeluaran dapat ditekan.

"Biasanya anggaran acara ini USD 50 juta sampai USD 60 juta di tahun-tahun sebelumnya. Ini kita enggak sampai USD 50 juta. Tenang saja, panitia tidak menyajikan wine," ujar Peter.

(jpk/gwn/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up