JawaPos Radar

Atasi Masalah Pangan, Sandi Pastikan Benahi Data dan Tak Alergi Impor

08/10/2018, 15:45 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Atasi Masalah Pangan, Sandi Pastikan Benahi Data dan Tak Alergi Impor
Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno (ISSAK RAMDHANI/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com – Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno memastikan sudah menyiapkan beberapa langkah untuk isu ketahanan pangan. Salah satu sorotannya adalah menyamakan data. Termasuk, produksi dan distribusinya. Permasalahan data pula yang membuat Kementan dan Kemendag memiliki pandangan yang berbeda soal beras.

’’Data yang mereka pakai berbeda. Data produksi mereka nggak sinkron. Ini akan kami benahi datanya,’’ ujar Sandi di kantor Jawa Pos, Kamis (4/10).

Sektor pangan memang menjadi salah satu tantangan terberat. Sebab, kenaikan harga beras menyumbang inflasi. Kalau inflasi naik, maka kemiskinan akan bertambah. ’’Kami akan menggerakkan sektor hulu. Diamankan pasokannya. Lalu, didorong dengan rantai distribusi sederhana. Kami akan terbuka dan berkeadilan,’’ tegas Sandi.

Dia lantas mengutip data World Bank. Bahwa bahan makanan di Indonesia lebih mahal dari beberapa negara termasuk India. Itulah kenapa, dia menyebut sepiring makan siang di Jakarta bisa lebih lebih mahal Singapura. Kondisi itu diperburuk harga bahan pokok seperti beras naik, tak mencerminkan kesejahteraan petani.

Apa yang disampaikan Sandi sesuai dengan data Center for Indonesian Policy Stuides (CIPS). Di Jawa Barat, buruh tani tanpa lahan pribadi rata-rata pendapatannya Rp 333 ribu per bulan. Sedangkan dengan lahan kecil sekitar 0,25 hektar sekitar Rp 583 ribu.

’’Harga belinya tinggi, tapi ongkos petani juga meningkat dari pupuk. Penghasilannya tidak naik. Itu yang bikin petani tidak sejahtera,’’ jelasnya.

Lebih lanjut Sandi menjelaskan, pengalamannya berkecimpung di sektor kewirausahaan bisa membantu untuk mencari kebijakan yang pas. Petani yang tidak mendapatkan keuntungan dari tingginya harga beras diketahuinya sendiri. Itulah kenapa, Sandi berjanji saat terpilih nanti akan fokus ke sumber-sumber nasional.

Sandi lantas menceritakan pengalamannya saat masih jadi Wagub DKI Jakarta. Dia pernah berbincang dengan pimpinan Food Station Jakarta untuk memastikan ketersediaan bahan makanan. Berdasar data akurat, Sandi dan Food Station berhasil mendapatkan beras dengan harga terbaik dari petani di Sulawesi dan Jawa.

’’Food station, Bulog versi pemda itu tidak membeli beras impor. Itu karena kami tahu. Kami punya data. Fokus nanti, membenahi datanya,’’ tutur Sandi.

Bagaimana jika nanti Sandi dihadapkan pada pilihan impor beras? Dia menegaskan tidak anti dengan itu. Katanya, masyarakat tidak peduli dengan dari mana beras itu berasal. Dari petani lokal, atau impor. Yang penting adalah masyarakat bisa menjangkaunya dengan mudah. ''It's okay to import. Beras itu penyumbang angka kemiskinan, kalau beras naik angka kemiskinan naik juga'' terangnya.

’’Nggak usah muluk anti impor. Kita punya suplay, production model, musim, atau soal hama, itu bagaimana dengan produksi kita. Terjangaku atau tidak. Saya rasa, kita perlu bergerak dengan data yang sama,’’ imbuh Sandi.

(dim/uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up