JawaPos Radar

Laporan Khusus Hari Satwa Sedunia (3)

Ikhlas Mengabdi, Penjaga Harangan Batangtoru: Hutan Ini Nyawa Kami

08/10/2018, 12:54 WIB | Editor: Dida Tenola
Ikhlas Mengabdi, Penjaga Harangan Batangtoru: Hutan Ini Nyawa Kami
Ebenezer Sitompul yang akrab disapa Opung Na Burju, salah seorang poter yang turut menjaga kawasan Harangan Batangtoru. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Harangan Batangtoru tak hanya menjadi tempat berlindung satwa asli. Keberadaannya menjadi harmonisasi alam. Menjadi sandaran bagi sebagian warga di desa sekitarnya untuk menyambung hidup. Sayang, hutan rimbun yang menyimpan berbagai pesona itu mulai tergusur dengan tangan jahil berlabel industrialisasi.

Prayugo Utomo, Medan

Ikhlas Mengabdi, Penjaga Harangan Batangtoru: Hutan Ini Nyawa Kami
Sisa-sisa pembalakan liar di dalam kawasan Harangan Batangtoru. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Celana ketat hijau lumut membalut kakinya yang kurus. Sepatu karetnya berdecit nyaring saat menginjak daun basah di jalur menuju Harangan Batangtoru.

Perawakannya biasa-biasa saja. Berbadan kurus tapi sedikit berotot. Ada bekas rajah tepat di dadanya. Motifnya tak terlalu telihat jelas. Sudah buram. 

Laki-laki berusia 56 tahun itu biasa dipanggil Opung Na Burju. Dalam bahasa Batak artinya Kakek yang baik. 

Sepanjang perjalanan kami ke tengah hutan untuk menelusuri habitar Orang Utan Tapanuli, mulut sang kakek nyaris tak pernah berhenti bercuap. Dia banyak bercerita. Apapun ceritanya, dia bisa membuat kami terhibur. Tidak kesepian di pedalaman hutan. Mulai pengalaman hidupnya, sampai ungkapan-ungkapan absurd yang kerep mengocok perut kami.

Tidak ada beban kehidupan di wajahnya. Tingkahnya cukup jenaka. Meski dia harus menopang tas ransel saya yang berisi peralatan liputan, baju, bekal dan alat lainnya. Jika dihitung beratnya hingga 30 kg. 

Menjadi seorang porter atau tukang angkut barang bukanlah cita cita, laki-laki bernama Asli Ebenezer Sitompul itu. Diumur lebih setengah abad, dia mesti keluar masuk hutan. Hanya untuk mencari penghidupan. "Cita-citaku kepengin naik ke puncak monas dan naik kapal terbang," kelakar Opung Na Burju. 

Saya mencoba mengejar langkah si Opung. Mencoba mengobrol mendalam dengannya. Langkahnya nyaris tak terkejar. Padahal saya hanya menenteng sebuah tas kecil berisi bekal dan kamera saja. 

Ayah tiga orang anak itu tetap melanjutkan ceritanya. Dia banyak curhat soal lika-liku hidupnya. Opung pernah bertaruh nyawa di laut mencari ikan. Pernah juga merantau ke Jambi bekerja serabutan. "Nggak tahan di sana, balik ke kampung lagi. Langsung menikah di kampung," tambahnya antusias.

Pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Di Desa Sait Nihuta Kalangan II, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Dia kembali me-refresh hidupnya.

Sekarang pekerjaan tetapnya menyadap karet. Namun karet harganya murah. Sehingga dia mencari uang tambahan bersama teman-temannya dengan menjadi porter. Secara tak langsung, kehidupannya menjadi porter sekaligus ikut menjaga hutan. Opung dan teman-temannya adalah penjaga hutan sesungguhnya. Mereka ikhlas mengabdi. Merelakan hidupnya di tengah-tengah hutan.

Meski hidup sulit, dia tetap bersyukur. Anak-anaknya bisa kuliah. Seorang diantaranya bahkan bisa tembus ke salah satu BUMN. Selama hidup dekat hutan, banyak hewan yang sudah dilihatnya. Ular, siamang, oa, burung rangkong hingga pelanduk (kancil).

Baginya, hutan menjadi sumber penghidupan. Tanpa hutan bisa jadi Opung dan keluarganya tidak makan. "Yang penting dijagalah hutan. Kalau sudah habis bingunglah mau makan apa," ujarnya.   

Saat berisitirahat, menghela napas lebih panjang, saya bercengkerama dengan poter lainnya. Ada seorang porter bernama Azuar. Dia paham betul kondisi Hutan Batangtoru. Khususnya di kawasan Areal Peruntukan Lain (APL) yang mulai dirambah warga secara ilegal. 

Secara kasat mata memang terlihat, banyak lahan baru yang digarap di dalam kawasan APL. Tak sedikit juga yang diganti tanaman lain. 

Azuar juga sempat menunjukkan penebangan liar yang terjadi di pinggir sungai. Ada kayu besar yang ditebang pembalak. Kayu-kayu bekas tebangan dibiarkan berserakan di sungai. Ditinggalkan begitu saja. "Kami sudah minta kepala desa bikin surat larangan menebang di pinggir sungai dan zona larangan. Tapi kepala desa nggak mau," sebut Azuar sambil mengisap dalam-dalam rokoknya. 

Azuar melanjutkan, warga sekitar sudah mengerti pentingnya menjaga hutan. Karena hutan adalah penyangga hidup mereka. "Kami juga sudah mendorong pemerintah supaya ada pengawasan ketat di hutan. Khususnya di Batangtoru. Hutan ini nyawa kami," ungkapnya. 

Lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) takut, jika nantinya hutan benar-benar habis, malapetaka akan mendatangi desa mereka. "Kami takut, kalau banjir nanti seperti apa jadinya kampung kami. Pasti kena," imbuhnya. 

Harangan Batangtoru sendiri masih menyimpan keistimewaan flora dan fauna. Di dalam hutan masih hidup hewan liar seperti ular, beruang madu, tapir, baboon, kucing hutan, bahkan Harimau Sumatera. Hutan Batangtoru juga punya tingkat kecuraman yang sangat tinggi. Kawasannya rata-rata berada di atas ketinggian 850 mdpl. Sedangkan puncak tertingginya berada di 1.909 mdpl. 

Data Yayasan Ekonomi Lestari (YEL) menunjukkan, luas Hutan Batangtoru sekitar 150 ribu hektare. Dari total itu, hampir 142 ribu hektare merupakan hutan primer. Selebihnya sudah mulai terjadi deforestasi. Pembalakan liar dan pembukaan lahan sudah terjadi di beberapa kawasan.

Selama perjalanan kami menuju kawasan Hutan Lindung, suara mesin pemotong kayu meraung-raung. Suaranya begitu dekat, meskipun masih di kawasan APL. Biasanya, para penebang liar membalak kayu saat hari libur. Sehingga lolos dari monitoring petugas. 

Di dalam harangan, pepohonannya memang masih sangat padat. Kadar kelembapannya juga sangat tinggi. Hampir seluruh pohon yang dilewati ditumbuhi lumut. 

YEL turut melampirkan data United Nations Environment Programme (UNEP), salah satu lembaga di bawah naungan PBB yang concern membantu negara-negara berkembang untuk melakukan kebijakan soal alam. Laporan itu menyebutkan, Batangtoru mempunyai manfaat tinggi untuk masyarakat. Mereka juga memprediksikan bahwa Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) dapat mengimbangi bahkan melebihi pendapatan dari pemanfaatan lain. Daripada membuat lahan perkebunan sawit mupun menebang hutan, YEL lebih menyarankan agar pemerintah menerapkan REDD. 

Penghitungan tersebut belum memasukkan nilai dari jasa lingkungan dan biaya yang harus ditanggung apabila hutan hilang. Air dari ekosistem Batangtoru sangat penting bagi masyarakat di ketiga Kabupaten, yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Terutama untuk perkebunan, pertanian lahan basah dan keperluan rumah tangga. 

Semua irigasi lahan sawah yang cukup luas di lembah Sarulla maupun lokasi lain berasal dari ekosistem Batangtoru. Praktisi Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) Onrizal menyebut, ekosistem Batangtoru adalah aset yang berharga untuk Indonesia. Termasuk hutan tropika yang masih tersisa di Sumatera Utara. Selain Taman Nasional Gunug Leuser (TNGL). "Kenapa masih bagus, karena memang topografinya yang berat," terang Onrizal. 

Onrizal sudah meneliti di sana sejak tahun 2000 hingga sekarang. Dia juga mengkritisi bagaimana industrialisasi yang mengepung Batangtoru menjadi salah satu faktor percepatan degradasi hutan. Selama meneliti, dia cukup kagum dengan kenekaragaman hayati didalamnya. Termasuk saat dia menemukan jejak Harimau Sumatera yang jumlahnya diprediksi terus menurun. "Setiap saya ke lapangan, masih ditemui. Jejaknya yang masih baru," ujarnya. 

Hasil penelitiannya juga menunjukkan hutan itu punya kadar karbon yang cukup tinggi. Lebih banyak ketimbang hutan lainnya. Belum lagi tumbuhan yang ada di dalamanya. "Sehingga ketika itu ada gangguan sedikit. maka tingkat kepunahannya sangat tinggi. Orang Utan sangat bergantung pada itu. Ekosistem terakhir juga," paparnya.

Komunitas Peduli Hutan Sumatera Utara (KPHSU) juga memberikan kritik pedas terhadap kerusakan hutan. Saat ini, negara sudah punya kebijakan yang cukup bagus untuk hutan. Hanya saja menjadi pertanyaan, bagaimana niat bersama untuk menjaga hutan. "Sebenarnya kita cukup kaya. Dari mulai konsep REDD, penghapusan utang dengan cara mempertahankan hutan, konsep masyarakat adat yang menghargai hutan dan lainnya," kata Sekretaris Jenderal KPHSU Mei Leandha. 

Namun sayangnya, saat ini kerakusan manusia juga yang mempercepat kerusakan. Tak sedikit juga yang mengatasnamakan diri atas konservasi dan masyarakat. Namun nyatanya malah menjual hutan untuk kepentingan sendiri dan lembaga. "Akhirnya masyarakat juga yang menjadi korban," ungkapnya. 

Untuk industrialisasi yang mengepung Batangtoru, Mei dengan tegas menolaknya. Harusnya tidak ada toleransi ketika ada pembabatan hutan. "Untuk yang sudah ada dihentikan. Jangan dilanjutkan izinnya. Yang masih membangun, silakan dicabut izinnya. pemerintah punya kewenangan itu," tegas Mei.

Pelestarian hutan juga harus melibatkan masyarakat. Terlebih yang ada di sekitar kawasan hutan. Bukan malah membuat mereka harus kehilangan mata pencaharian.

Mei juga mewanti-wanti mereka yang mengaku sebagai putra daerah. Seharusnya mereka yang melabeli dirinya sebagai putra daerah lebih berpihak ke masyarakat. Untuk memperjuangkan hak mereka dan memberikan edukasi tentang pentingnya hutan. Jangan malah meratakan hutan dengan dalih pembangunan. "Orang Utan lebih manusia daripada manusia. Sebab mereka penjaga hutan sesungguhnya. Intinya selamatkan hutan meski terlambat," ucap Mei.

 

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up