JawaPos Radar

Tiongkok dan Hongkong Kutuk FCC, Klub Pers Terkemuka di Asia

08/10/2018, 11:35 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
wartawan hongkong, hongkok, tiongkok, fcc,
Pemerintah di Tiongkok dan Hongkong mengutuk FCC, salah satu klub pers terkemuka di Asia, untuk menyelenggarakan pidato oleh seorang aktivis kemerdekaan, menghidupkan kembali perdebatan tentang kelangsungan hidup kebebasan (Pro Fellow)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Tiongkok mengatakan, prinsip Tiongkok untuk Hongkong tidak berubah yaitu satu negara, dua sistem. Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari penyangkalan klaim adanya penolakan memperbarui visa kerja bagi jurnalis Financial Times. Surat kabar China Daily mengatakan, pembaruan visa editorial adalah hak kedaulatan negara, dan pemerintah lain tidak diizinkan untuk campur tangan. Tuduhan dari beberapa otoritas asing adalah upaya untuk menyerang Pemerintah Tiongkok.

Surat kabar Financial Times mengatakan pekan lalu Otoritas Hongkong telah menolak permohonan untuk memperbarui visa kerja editor berita Asia, Victor Mallet, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Klub Koresponden Asing atau Foreign Correspondents Club (FCC). Penolakan tersebut membuat kaget banyak masyarakat antar bangsa dan juga kebebasan pers.

Hal itu terjadi dua bulan setelah pejabat Pemerintah di Tiongkok dan Hongkong mengutuk FCC, salah satu klub pers terkemuka di Asia, untuk menyelenggarakan pidato oleh seorang aktivis kemerdekaan, menghidupkan kembali perdebatan tentang kelangsungan hidup kebebasan yang dijanjikan kota.

wartawan hongkong, hongkok, tiongkok, fcc,
Pemerintah Tiongkok mengatakan, prinsip Tiongkok untuk Hongkong tidak berubah yaitu satu negara, dua sistem (Reuters)

“Pemerintah asing menuntut penjelasan ini. Apa yang sebenarnya mereka inginkan bukanlah jawaban tetapi untuk menciptakan ilusi bahwa kebebasan berbicara dan pers di Hong Kong berkurang," kata editorial China Daily.

Surat kabar Global Times, yang diterbitkan oleh Harian Rakyat yang berkuasa dari Partai Komunis, mengatakan penolakan visa tidak ada hubungannya dengan kebebasan berbicara. Namun, dikatakan tindakan Mallet di FCC merusak keamanan nasional Tiongkok dan menggerogoti kebebasan berekspresi. "Semua negara dan wilayah memiliki hal-hal yang mereka rasa sensitif dan tidak dapat mundur," katanya.

“Hongkong akan menjadi lebih baik tanpa Mallet. Masa depan kota tidak perlu menjadi perhatian Mallet, Pemerintah Inggris atau media Barat," kata Global Times.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up