JawaPos Radar

Bantuan Belum Sampai, Korban Gempa Diduga Meninggal Kelaparan

08/10/2018, 05:49 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Bantuan Belum Sampai, Korban Gempa Diduga Meninggal Kelaparan
Kondisi korban gempa dan tsunami di Donggala Sulawesi Tengah (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gempa berkekutan 7,4 SR disusul tsunami yang menghantam Kabupaten Donggala, Sigi dan kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Baru-baru ini, kabar duka datang dari kawasan pelosok terisolir di Donggala. Seorang warga, korban dampak bencana di desa Malei, kecamatan Balaisang Tanjung, meninggal dunia akibat kelaparan. 

Kehebohan terkait meninggalnya seorang warga akibat kelaparan itu, rupanya tersebar hingga ke kecamatan dampak bencana lain di Donggala. Rizaldi, 41, seorang warga di desa Wani II, kecamatan Tawaeli, Donggala, mengaku mendengarkan kabar terkait meninggalnya warga berusia lanjut itu di kawasan terilosir, pesisir Malei. 

"Memang kita dengar itu parah juga. Kan ini daerah situka pesisir semua. Kawasan pesisir itu pasti parah. Ada sepupu saya yang dari pantai barat (Balaisang Tanjung) itu dikawasan pesisir juga disana dan itu tenda-tenda semua berjejer disana itu dampak parahnya," kata lelaki yang berprofesi sebagai pengacara di Kuningan, Jaksel ini saat ditemui di desa Wani II, Minggu (7/10) sore tadi.

Keterlambatan datangnya bantuan logistik, karena tersentralisir di satu titik lokasi  bencana disebut-sebut menjadi faktor utama satu nyawa melayang akibat kelaparan di Donggala. "Lokasi itu desa jauh. Jauh sekali. Akses sebenarnya bisa cumankan harus ada bahan bakar lagi. Apa lagi ketika kejadian, kan ini fokus Palu dan sekitarnya. Ini kemarin kita liat sudah ada pasokan truk yang mengarah ke sana," ucapnya. 

Jarak waktu antara desanya dan desa korban meninggal karena kelaparan disebutkan kurang lebih sekitar 4 jam. Jalur darat, merupakan akses satu-satunya yang bisa ditempuh ke lokasi. Mengingat, kondisi geografis Malei dan lima desa lainnya disana dilingkupi pegunungan dan pesisir. 

"Kita informasikan juga. Karena informasikan cepat sekali ini. Ketika ini sudah aktif, mereka kemudian menyampaikan bahwa disana ada korban, baik luka parah, sehingga kita forward langsung kesana, untuk butuh bantuan langsung kesana," jelasnya. 

Rizaldi sendiri, merupakan salah satu korban yang rumahnya habis tersapu gelombang tsunami Jumat (28/9) lalu. Ia mengaku pulang kembali ke kampung halaman Wani II, dari Jakarta setelah mengetahui bahwa nyaris seluruh isi kota dan kawasan pelosok di Donggala habis disapu bencana. 

Kasman, 37, warga Wani II lainnya yang ditemui di lokasi yang sama menyebutkan bahwa kawasan terparah dampak bencana alam di Donggala berada di kawasan pesisir Balaisang Tanjung. Di dalamnya terdapat enam desa termasuk Malei yang cukup terisolir dan terdampak parah. 

"Kalau kita disini parah juga. Tapi lebih parah lagi itu mungkin disana, karena memang lokasinya itu jauh sekali dibandingkan dengan kita ini. Biar sama-sama di pesisir tapi disana parah karena jauhnya itu baru katanya dekat dengan gempa tsunami itu," tambahnya. 

Menyoal bantuan logistik dan sarana transportasi disebutkan bisa diakses melalui jalur darat. Kondisi jalan saat ini, dikabarkan telah sepenuhnya bisa diakses untuk menuju ke kawasan terparah disana. "Iya kalau sekarang-sekarang mungkin sudah mulai ada, mulai bisa, tapi itu jauh lokasinya mungkin kalau berangkat siang biaa tiba malam, kalau mau di lokasinya langsung itu," tambahnya. 

Kabar terkait meninggalnya warga akibat kelaparan itu diketahui dari seorang warga lain bernama Harjo, 38. Harjo sendiri adalah korban, asal desa Malei, tentangga desa korban yang meninggal karena kelaparan, pada Kamis (4/10) sore lalu itu. 

Intinya, Harjo menyebut bagaimana kondisi memperihatikan ribuan warga korban bencana di tujuh desa di kecamatan Balaisang Tanjung, Donggala, yang tak tersentuh bantuan logistik, berimbas dengan meninggalnya satu orang korban.

"Saya kurang tahu usia tepatnya itu berapa tapi yang jelas dia itu laki-laki baru sudah lanjut usia. Diperkirakan mati kepalaran karena paginya, dia turun ke kampung cari makanan. Tapi orang yang punya kios-kios yang penjual-jual beras disitu mengungsi juga jadi dia tidak sempat beli beras. Jadi sorenya begitu langsung meninggal diperkirakan mati kelaparan," Harjo bercerita saat ditemui di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Palu, Sabtu (6/10) kemarin. 

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up