JawaPos Radar

Menkeu Era SBY Buka-bukaan Soal Pertemuan Tahunan IMF di Bali

07/10/2018, 19:44 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Menkeu Era SBY Buka-bukaan Soal Pertemuan Tahunan IMF di Bali
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri (Becky Subechi/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Indonesia akan segera melangsungkan pertemuan besar dengan International Monetory Fund - World Bank di Bali pada esok hari 8 Oktober 2018 hingga 14 Oktober 2018 nanti. Sejumlah tokoh mulai ramai berkomentar dan saking bersahutan mengenai acara tersebut yang dinilai kontroversial.

Melalui akun Twitternya, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menyebut, terjadinya acara besar tersebut merupakan usulan dari Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden RI.

Mantan Menteri Keuangan era SBY Chatib Basri pun melalui akun Twitternya juga mengakui benar bahwa pemerintahan SBY yang mengajukan diri sebagai tuan rumah pertemuan IMF.

"Ya benar, bersama Bank Indonesia , pemerintah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Sept 2014. Prosesnya tdk mudah, bersaing dg negar2 lain. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Okt 2015, kalau sy tdk salah," tulisnya, Minggu (7/10).

Tudingan miring pun mulai berdatangan menyalahkan pemerintahan Joko Widodo mulai dari anggaran yang dinilai besar hingga etika kemanusiaan lantaran saat ini Indonesia tengah dirundung duka atas bencana gempa yang terjadi di Lombok dan Palu.

Chatib menjelaskan, digelarnya pertemuan ini untuk membahas mengenai situasi perekonomian dunia dan untuk mendiskusikan selain kebijakan yang akan diterapkan di setiap negara.

“Di dalam pertemuan ini dibahas situasi ekonomi dunia, diskusi mengenai kebijakan negara2. Perkembangan teknologi dsb. Indonesia bisa memanfaatkan itu utk komunikasi dan memasukkan idenya,” ujarnya.

Chatib memandang, Indonesia justru harus memanfaatkan pertemuan tahunan ini untuk memasukkan agendanya. Dengan begitu Indonesia akan berperan di level global.

“Di Asia setahu saya baru Filippina, Singapura, Thailand dan Indonesia. Baru empat negara termasuk Indonesia. Proses menjadi tuan rumah tidak mudah, diseleksi dan dilihat kemampuannya,” jelasnya.

Menurut Chatib, dalam pertemuan tersebut tidak bertujuan untuk meminta tambahan hutang. Karena meminta tambahan utang tidak perlu menjadi tuan rumah.

“Argentina meminta utang IMF tahun ini karena krisis. Mereka bukan tuan rumah,” imbuhnya.

Sedikit bercerita, Chatib mencontohkan, pada 2013 ketika terjadi taper tantrum yaitu mata uang beberapa negara termasuk rupiah melemah akibat rencana Fed mengakhiri kebijakan ekspansi moneternya. Indonesia menyampaikan perhatiannya kepada Bank Sentral Amerika Serikat The Fed.

“Bersama Gubernur Rajan dari India saat itu dalam meeting terbatas saya meminta the Bernanke dari the Fed untuk melakukan komunikasi dan mempertimbangkan dampak policy nya pada emerging economies. IMF mendukung kita,” ucapnya.

Kemudian, pada 2014, ketika Yellen menjadi chair the Fed, Ia mulai mengkomunikasikam kebijakannya, agar negara lain siap. Di G-20 Sydney misalnya, Chatib dan Gubernur Rajan menjadi lead speaker bersama Yellen waktu itu, membahas dampak kebijakan Fed terhadap pasar negara berkembang.

“Itulah salah satu manfaat pertemuan tahunan. Kita bisa memperjuangkan ide kita di forum-forum itu. Sedangkan utk tambahan utang, tak perlu pertemuan tahunan,” tandasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up