JawaPos Radar

Gempa Sulteng

Melihat Desa Kapal yang Teseret Tsunami Hingga ke Desa Wani

07/10/2018, 18:23 WIB | Editor: Ilham Safutra
Melihat Desa Kapal yang Teseret Tsunami Hingga ke Desa Wani
Kapal Sabuk Nusantra 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani,Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10). (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Sebuah pemandangan unik terdapat di wilayah Mamboro hingga Wani, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Setelah diterjang gelombang tsunami, di wilayah itu kini terdapat sejumlah kapal besar yang berdandar di daratan dan pinggir rumah.

Sedangkan rumah-rumahnya sudah rata. Kalau pun bersisa hanya puingnya saja. Penduduknya tidak ada lagi. Kalau pun ada, mereka merupakan warga yang terselamatkan diri dari tsunami.

Mamboro merupakan daerah yang tidak begitu jauh dari pesisir sepanjang Palu-Donggala. Tapi wilayah ini yang paling merasakan dampak paling besar dari gelombang tsunami.

Melihat Desa Kapal yang Teseret Tsunami Hingga ke Desa Wani
Dua kapal yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani,Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, kamis (4/10). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Dari Mamboro hingga Wani, material bangunan dan kapal terlihat menumpuk sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Wani merupakan daerah administrasi Kecamatan Tanatovea, Kabupaten Donggala.

Untuk sampai ke sana, dari kota Palu, membutuhkan waktu sekitar 60 menit. Jaraknya tak panjang sebetulnya. Hanya 30-an kilometer. Hanya saja, material tsunami di jalan membuat laju kendaraan harus diturunkan.

Di Mamboro, kawasan padat penduduk itu kini hanya tersisa puing-puing. Kawasan pergudangan yang ada di situ nyaris hancur semua. Truk-truk tronton terbalik dan melintang di jalan. Kontainer-kontainer barang hanyut dan terdampar di kaki bukit. Bangunan gudang roboh. Dinding dan tiangnya juga hanyut terbawa gelombang raksasa.

Edy, 36, termasuk salah seorang yang masih beruntung dari tsunami. Kendati rumahnya hancur, namun keluarganya selamat. Istri, tiga anak, dan kakeknya masih sempat sampai ke bukit sebelum tsunami menghantam rumahnya.

"Kakek ketika itu mengampelas perahu. Dia lihat air laut surut. Langsung dia naik dan peringati keluarga. Katanya itu tanda tsunami," urai Edy kepada FAJAR (Jawa Pos Group) yang mengunjunginya di Wani, Jumat (5/10).

Saat gelombang besar itu datang, Edy masih berada di Palu. Sebagai karyawan PLTU Palu, dia tak setiap hari pulang ke kampungnya. Dia lebih sering di kota.

Dia lalu bergegas. Memacu sepeda motornya. Melewati rintangan berupa material dengan cara zig-zag. Saat air laut mulai turun kembali. "Alhamudulillah, selamat semua," kata pria keturunan Bugis dan Kaili ini.

Ketika Fajar menemui Edy di Pelabuhan Wani. Di sana, sebuah kapal ukuran besar masih teronggok di atas sisa-sisa rumah penduduk. "Katanya di sana sumber gempanya," Edy menunjuk ke laut di hadapan kami.

Cerita serupa juga diungkapkan Andi. Pria 23 itu sempat waswas setelah tsunami. Saat kejadian Andi memang berada di luar kota. Jumat malam dia mendapat kabar dari media ada tsunami di kampung halaman. Tak ayal dia terbang dari Banjarmasin menuju Palu.

"Karena tidak ada kabar, saya langsung ke sini. Rabu baru sampai. Alhamdulillah keluarga dekat semua selamat," bebernya.

Kisah lebih mendebarkan lagi dialami Suandi, 47. Dia merupakan saksi mata gempa dan tsunami. Warga Desa Nupabomba, Kecamatan Tanatovea ini sempat berpelukan erat di sebatang pohon, namun tetap terempas. Nyaris jadi korban. "Saya bapeluk di pohon, talepas saya punya tangan," katanya dengan logat Palu kental.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up