JawaPos Radar

Pertemuan Tahunan IMF Dinyinyirin Fadli Zon Cs, Ini Fakta Sebenarnya

07/10/2018, 16:38 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Pertemuan Tahunan IMF Dinyinyirin Fadli Zon Cs, Ini Fakta Sebenarnya
Wakil Ketua DPR Fadli Zon sebut pertemuan tahunan IMF tak etis di tengah banyaknya bencana di Indonesia (JPNN/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Indonesia akan segera melangsungkan pertemuan besar dengan International Monetory Fund - World Bank di Bali pada esok hari 8 Oktober 2018 hingga 14 Oktober 2018 nanti. Acara penting tersebut menjadi kontroversial lantaran dinilai memakan biaya besar ditengah musibah gempa yang sedang dialami tanah air.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menyebut, terjadinya acara besar tersebut merupakan usulan dari Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden RI. Dikutip dari alun Twitternya hari ini, Andi menyebut SBY tidak mengharapkan pertemuan IMF akan digelar secara besar-besaran.

“Pak SBY dan kabinet di tahun 2014 tentu tidak berharap pertemuan IMF jadi pesta-pesta yang memakan uang sebesar sekarang. Event internasional yang setara jaman SBY gak pernah hamburkan uang negara sebesar pertemuan IMF bali ini,” ujarnya melalui akun Twitternya, Minggu (7/10).

Menurutnya, menggelontorkan uang negara demi pertemuan tersebut merupakan hal tang tidak etis. “Kalau Jokowi membatalkan pertemuan IMF di Bali karena alasan gempa lombok dan Palu, apakah kemudian Pak SBY marah? apakah kemudian petinggi IMF mau kasih sanksi ke RI, Bukankah kita sudah berdaulat dari IMF, mengapa takut?,” ucapnya.

Sementara, mantan Menteri Keuangan era SBY saat itu Chatib Basri mengaku benar bahwa pemerintahan SBY yang mengajukan diri sebagai tuan rumah pertemuan IMF.

"Ya benar, bersama Bank Indonesia , pemerintah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan September 2014. Prosesnya tidak mudah, bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Oktober 2015, kalau saya tidak salah," tulisnya.

Merespon cuitan Andi Arief yang menyebut anggapan pertemuan dengan IMF-WB merupakan pertemuan mewah para renternir, Rustam Ibrahim kemudian menyindir jika SBY lah yang ternyata mengundang 'rentenir (IMF)' ke Indonesia.

“Ternyata benar, masa Presiden SBY-lah pemerintah ajukan diri jadi tuan rumah Pertemuan IMF-Bank Dunia.
Jokowi hanya laksanakan komitmen pemerintah sblmnya, sebaik mungkin. Klo @AndiArief__ sebut mrk rentenir, maka yg undang rentenir tsb SBY & SBY pernah dipinjami "rentenir" ini," tulis Rustam.

Disisi lain, Andi Arief juga menyinggung penyanyi Tompi yang memandang wajar jika pertemuan tersebut memerlukan anggaran yang besar.

“Kalau @dr_tompi pro kemewahan pertemuan IMF Bali wajar karena dia besar di dunia hiburan. Kalau partai wong cilik trah Soekarno memuja kemewahan kiamat sudah dekat,” kata Arief.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon, menilai tidak ada urgensi dalam pertemuan itu. Namun, pertemuan ini menunjukkan bahwa pemerintah telah gagal menjawab pertanyaan publik atas urgensi Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan event mahal tersebut.

“Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 bukanlah bentuk penghargaan, karena kita mengajukan diri melalui bidang proposal.
Masalahnya, apa urgensinya kita mengajukan diri jadi tuan rumah event mahal tersebut? Ini agak berbeda dengan penyelenggaraan Asian Games atau Olimpiade yang jelas manfaatnya?” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, pemerintah hanya bicara tentang dampak terhadap pariwisata Bali dan sekitarnya saat berbicara tentang acara tersebut.

“Menurut saya itu jawaban yang dangkal.
Biaya teknis event tersebut menyedot anggaran sekitar Rp 1 triliun, sementara biaya yang harus dikeluarkan negara untuk membangun infrastruktur pendukung mencapai Rp 4,9 triliun,” imbuhnya.

Menurutnya, jika hanya untuk mempromosikan pariwisata Bali, atau Indonesia, itu jelas biaya promosi yang sangat mahal dan tak masuk akal. Kecuali, untuk kepentingan prestise beberapa elite di pemerintahan.

“Pemerintah sebenarnya tak punya target yang jelas atas event yang menyedot anggaran hampir Rp 6 triliun tersebut,” ucapnya.

Senada dengan Fadli Zon, politisi Demokrat Zara Zettira pun setuju jika pertemuan itu dibatalkan.

Diberitakan sebelumnya, pertemuan IMF-WB di Bali sempat menjadi kontroversi lantaran besaran biaya yang digelontorkan pemerintah untuk acara tersebut di tengah bancana yang kini melanda Lombok, Palu, dan Donggala.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up