JawaPos Radar

Prospek Cerah Bisnis Laundry di Era Milenial

Potensi Pasar Masih Terbuka Luas

07/10/2018, 13:09 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Gebyar HIPLI Jateng 2018
GEBYAR HIPLI: Salah seorang pemateri membagikan sukses usaha laundry di Hotel Indah Palace, Tipes, Surakarta, Minggu (7/10). (Sari Hardiyanto/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Usaha laundry kian menjamur. Pertumbuhan penduduk dan banyaknya permintaan akan hidup efisien di tengah kesibukan masyarakat, mendorong usaha yang berkaitan dengan urusan cuci-mencuci tersebut terus berkembang.

Perlu diketahui, usaha laundry tidak hanya menyasar urusan cuci baju semata, namun sudah berkembang pesat dan menyeluruh mulai dari laundry sepatu, karpet, tas lain-lain.

Kabid Pengembangan Organisasi Himpunan Pengusaha Laundry Indonesia (HIPLI) Pusat, Heriwati menegaskan prospek bisnis laundry masih sangat cerah. Bahkan pasarnya masih terbuka luas. "Saat ini pasar yang tergarap untuk usaha laundry itu baru sekitar 2 persen. Pasarnya masih sangat luas dan terbuka," ujarnya kepada JawaPos.com saat ditemui di acara Gebyar HIPLI Jateng 2018 di Indah Palace, Tipes, Surakarta, Minggu (7/10).

Rata-rata usaha laundry, sambungnya berdiri dikarenakan iseng semata dan motif mengisi kesibukan. Padahal potensinya sangat terbuka luas dan sangat menguntungkan. "Ibaratnya selagi orang masih memakai pakaian dan belum diciptakan pakaian sekali buang, maka prospeknya masih besar," tandasnya.

Sejauh ini, sudah ada sekitar 300-an pengusaha yang tergabung dengan HIPLI. Wilayahnya tersebar mulai dari Bengkulu, Palu, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Artinya masih banyak pengusaha dan wilayah yang belum terakomodir. "Makanya kita terus genjot ini HIPLI agar di setiap daerah mempunyai peran," imbuh dia.

Menurutnya kehadiran HIPLI sangat diperlukan di tengah menjamurnya usaha laundry. Selain fungsi monitoring juga dapat memperkuat dan mengedukasi pelaku usaha laundry. "Cita-cita HIPLI ingin menjadi mitra pemerintah untuk mendorong penguatan ekonomi. Karena ekonomi menyangkut segala aspek," paparnya.

Prospek Luas
Lebih lanjut, perempuan yang tinggal di Bekasi Jawa Barat ini menambahkan, sejauh ini pasar laundry belumlah menyeluruh. Prospek pasar untuk institusi lembaga pun belum tergarap sepenuhnya. Terlebih potensi di dunia pariwisata. Padahal peluang bisnisnya sangat menjanjikan.

"Kebanyakan pengusaha laundry masih mencari titik aman dengan menyasar masyarakat bawah. Padahal segmen hotel, rumah sakit masih terbuka luas," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu pengusaha laundry Ahmad M, 34, mengaku sudah melakoni usaha laundry selama beberapa tahun terakhir. Meski masih belajar, namun prospeknya terbuka lebar. Terlebih ia menjalani usahanya di lingkungan kampus.

"Kalau penghasilan, lumayan. Awal-awal merintis memang lesu. Tapi berjalannya waktu semua akan berbuah manis," kata dia.

Selain melayani pencucian baju, Ahmad juga banyak menerima pencucian helm. Meski mengambil untung tidak banyak, namun dirinya mengaku senang dengan aktivitasnya tersebut. "Awalnya kenal laundry dikenalkan temen. Awalnya memang capai tapi sekarang mengasyikkan," pungkasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up