JawaPos Radar

Orang-orang Berduit

Kisah Rahasia Cinta Tuan dan Nyonya Kaya dalam Koper Merah

07/10/2018, 02:24 WIB | Editor: Kuswandi
Cak Lontong
Cak Lontong, Akbar, Alexandra dan Desy JKT48 dalam adegan lakon 'Orang-orang Berduit' di Graha Bhakti Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (5/10) malam (Anggoro Tri Wicaksono/Kayan Production)
Share this image

JawaPos.com - “Koper itu tak boleh hilang, tak boleh hilang, tak boleh hilang,” demikian penggalan dialog Yu Ningsih (Sumingsih), yang berperan sebagai ‘Nyonya Kaya’, di awal pembuka pentas ke-30 kelompok teater Indonesia Kita dengan Lakon ‘Orang-orang Berduit’.

Dalam pentas penutup di penghujung tahun 2018 ini, lakon tersebut bercerita tentang dua orang kaya, yakni Butet (Butet Kartaredjasa) dan Yu Ningsih (Sumingsih). Dua orang kaya ini eksentrik, bersaing dan bermusuhan. Namun di balik itu semua, ada rahasia mendalam yang tidak diketahui semua orang.

Rahasia itu tersimpan dalam koper merah misterius yang dimiliki keduanya. Untuk menjaga rahasianya, keduanya memerintahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk selalu menjaganya sepanjang hari dengan penuh tanggung jawab.

Marwoto
Marwoto bersana Yu Ningsih, dalam adegan lakon 'Orang-orang Berduit' di Graha Bhakti Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (5/10) malam (Anggoro Tri Wicaksono/Kayan Production)

Yu Ningsih, memerintahkan kepada Mery (Juliaman Sinaga), asistennya agar menjaganya dengan baik koper merah miliknya. Tak boleh ada seorang pun yang boleh membukanya kecuali dirinya.

Hal yang sama juga dilakukan Butet. Bahkan dia rela memberikan semua harta bendanya kepada Cak Lontong (Lies Hartono) jika mau mengembalikan koper yang dicurinya kepada dirinya.

Ada yang berbeda dalam pentas yang bertema Budaya Pop: Dari Lampau Ke Zaman Now kali ini. Jika biasanya di berbagai pentas Cak Lontong biasa berperan sebagai bos. Kini giliran Akbar (Insan Nur Akbar) pasangannya, yang memerankannya.

Sementara Cak Lontong berperan sebagai orang miskin yang berprofesi sebagai cleaning service. Kendati miskin, dia mempunyai istri cantik yang diperankan Alexandra (Alexandra Ria Farista Gottardo).

Mengenakan setelah jas hitam dengan dasi kupu-kupu dan menenteng tas berisi duit, Akbar tampak pede berjalan membusungkan dada sembari meledek Cak Lontong. Sebagai orang kaya, menurut Akbar tidak ada yang salah jika dia bersikap demikian.

Tanpa sungkan-sungkan dia pun menyombongkan semua harta bendanya yang dimilikinya termasuk empat istrinya yang dipanggil bunda, mama, mami dan umi kepada Cak Lontong.” Hebat kan aku tong. Orang kaya,” kata Akbar sombong kepada Cak Lontong dengan bangga.

Sebagai bentuk eksistensi kekayaannya, dia pun pamer membagi-bagikan uang yang ada di tasnya kepada empat istrinya di depan Cak Lontong.

Hal itu dilakukan Akbar setiap dirinya dipanggil dengan kata ‘Papa’ oleh perempuan-perempuan pujaan hatinya.

Saking tergila-gilanya dengan panggilan kata ‘Papa’ tersebut, dia tak menyadari jika lembaran duit miliknya hampir habis diberikan kepada Alexandra. Ini dilakukan Akbar karena berkali-kali dirinya mendengar panggilan kata ‘Papa’ dari Alexandra. Padahal Alexandra bermaksud memanggil Cak Lontong yang notabennya adalah suaminya.

Adegan tersebut menjadi salah satu bumbu yang menarik dalam segmen pembuka. Selain itu joke-joke satir dari Cak Lontong dan Akbar juga turut mengocok perut ratusan pengunjung yang memadati ruang teater Graha Budaya Taman Ismail Marzuki Jumat (5/10) malam.

Dalam segmen selanjutnya, peran Sruti (Sruti Respati) menjadi daya tarik sendiri ketika bersikap kemayu saat menyindir sang nyonya kaya yang memamerkan hartanya serta empat suaminya yang unik. Adapun empat suaminya yang unik diperankan oleh Trio GAM yang terdiri dari Joned (Marsudi Wiyono), Wisben (Wisben Antoro), Susilo (Susilo Nugroho), ditambah dengan seniman senior Marwoto (Sri Slamet Sumarwoto).

Meskipun lawakannya kurang lucu, namun suaranya yang unik dan etnik dari perempuan kelahiran Solo, 38 tahun silam tersebut berhasil menyedot perhatian penonton.      

“Kaya sih boleh tapi, tapi selera tetap tak bisa bohong, moso dinggo kocomoto opo kuwi (masa dipakai buat kacamata, apa itu),” cetus Sruti dengan nada mengejek Yu Ningsih.

Menanggapi ejekan pesaingnya, Yu Ningsih pun langsung berang. “Kamu dengan orang tua sangat menghina loh. Kamu manusia juga kan?, besoknya kamu juga akan jadi tua, nggak enom (muda) terus. Kalau saya seperti ini (keriput) dari kecil. Sampai tua ya kayak gini,” kata Yu Ningsih disambut tawa pengunjung.

Selain peran Sruti yang menarik, dalam segmen berikutnya, gaya genit Yu Ningsih saat naksir Cak Lontong juga cukup menggelitik dan mengocok perut pengunjung. Ini terjadi karena Akbar berniat menjodohkan Cak Lontong sahabatnya dengan Yu Ningsih. Padahal di balik perjodohan itu, Akbar bersiasat, yakni ingin mendapatkan harta benda Yu Ningsih agar pundi-pundi kekayaanya semakin melimpah.  

“Nyonya, ada yang mau ketemu nya,” kata Akbar kepada Yu Ningsih yang hendak mengenalkan Cak Lontong kepadanya.

Menjawab panggilan suara tersebut Yu Ningsih pun menjawab dengan malu-malu.

“Siapa ya,” jawab Yu Ningsih dengan suara manja.

Selanjutnya, karena terlanjur jatuh cinta kepada Cak Lontong Yu Ningsih pun tanpa malu-malu mengakui jika dirinya naksir dengan Cak Lontong.

“Halo Cak Lontong sayang,” kata Yu Ningsih kepada Cak Lontong.

Mendengar rayuan tersebut, Alexandra  pun langsung geram.”Apa sayang, sayang, sayang,” ucapnya kesal pada Cak Lontong.

Melihat reaksi sang istri yang cemburu, Cak Lontong pun mencoba menghiburnya. “Sayang opo kowe krungu. Dia (Yu Ningsih) nyanyi. Ini Via Vallen ini,” kata Cak Lontong mencoba menenangkan sang istri. Namun, karena terlanjur emosi, Alexandra pun tak menggubris omongan suaminya.

“Maksudnya apa itu,” kata Alexandra merajuk.

Singkat cerita, Cak Lontong dan Akbar pun berhasil mengambil koper merah baik yang dimiliki Tuan Butet maupun Yu Ningsih.

Merasa penasaran Cak Lontong pun berniat akan membukanya. Namun Akbar tak setuju. Karena sangat penasaran Cak Lontong pun tak menggubris nasehat sahabatnya.

Saat kedua koper merah tersebut terbuka, betapa kagetnya Cak Lontong dan Akbar. Demikian juga dengan sejumlah pihak lain seperti Mery dan empat suami Yu Ningsih. Ini Karena koper tersebut cuma berisi handuk kecil.

“Pak Butet nyawa anak istri saya taruhannya demi sepetong handuk ini,” kata Cak Lontong kesal.

Mendapat pertanyaan tersebut Tuan Butet pun mengatakan jika handuk kecil itu punya makna yang mendalam dalam hidupnya.

“Ini bukan sembarang handuk. Bagi saya ini bukan sekedar kain kumal, bukan juga gombal. Tapi di sinilah letak kebahagiaanku yang tidak akan pernah kulupakan,” ucap Tuan Butet.  

“Kamu keliru kalau menganggap kekayaan itu tujuan kebahagiaan. Keliru. Kebahagiaan itu letaknya di sini. Kalau cuma soal uang aku berlipat. Saking banyaknya, aku tak mampu lagi menghitungnya. Tapi dengan kain kumal nyatanya aku bisa membeli segala kemewahan dunia. Aku bisa membeli kekuasan. Membeli politisi. Membeli kehormatan, bahkan kehormatan Nenek untuk menghancurkan masa depannya sendiri. Semua bisa aku beli. Tapi setelah itu mampu membeli semuanya, aku hanya menemukan kesepian. Yang tidak bisa dibeli hanyalah kenangan,” imbuhnya.

Sementara itu, mendengar kata-kata Tuan Butet, Yu Ningsih pun tak bisa menyembunyikan perasaannya. “Handuk ini penuh kenangan cintaku dengan dia (Tuan Butet). Cinta  tak terpisahkan. Di dalam handuk ini sampai matipun kita berdua,” ucap Yu Ningsih sembari menangis sesenggukan.

Seperti pementasan-pementasan sebelumnya, dalam pertunjukkan yang ke-30, para pemain dalam lakon ini berhasil mengocok perut ratusan penonton yang memadati ruang teater.

Diharapkan, dalam pertunjukan ke depannya, sang sutradara bisa lebih baik lagi dalam mementaskan lakon “Kanjeng Sepuh”, yang akan digelar pada 23-23 Mraret 2019.

 

 

(wnd/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up