JawaPos Radar

Menristekdikti Ngotot Rektor Unnes Tak Plagiat

06/10/2018, 23:13 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Menristekdikti M. Nasir
Menristekdikti M. Nasir saat dijumpai wartawan di Gedung Gedung Sudharto, Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu (6/10). (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir, kembali menegaskan bahwa Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman tak melakukan tindak plagiasi. Dia mengutarakannya saat dijumpai wartawan di Gedung Sudharto, Universitas Diponegoro, Semarang, Sabtu (6/10).

“Plagiat yang ada bukan di situ letaknya. Katakanlah, kamu mahasiswa saya. Saya beri tugas, saya yang melakukan penelitian. Kamu ini contohnya, tapi publikasikan nggak lapor saya. Kemudian saya publikasikan. Yang plagiat siapa?" tanyanya balik kepada wartawan.

Nasir memastikan bahwa segala tuduhan mengenai tindak plagiasi yang selama ini dituduhkan kepada Fathur, tidak terbukti. Terlebih, ia sendiri mengaku sudah menerima hasil laporan investigasi dari tim independen. Meski tak merinci apa isinya.

Nasir sendiri mengatakan bahwa kasus tersebut terjadi sebelum tahun 2010. Dan di sisi lain, peraturan terkait plagiarisme ditetapkan pada tahun 2010 melalui Permendiknas No. 17. Sang menteri menegaskan bahwa segala kasus plagiat yang terjadi sebelum tahun aturan itu ada tidak bisa diproses. 

“Pada 2010 sampai sekarang pasti saya tangkap. Rektor yang melakukan pasti saya berhentikan. Saya sudah memberhentikan tiga rektor selama ini. (Fathur) pasti deh (bukan plagiat), karena bukan kejadian 2010,” cetusnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan tindak plagiarisme rektor Unnes naik ke permukaan setelah ditemukannya kemiripan antara karyanya dan tulisan salah satu milik alumnus kampusnya, Anif Rida.

Karya Fathur berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas terbitan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Litera Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004, disebut menjiplak hasil karya Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas. Hasil publikasi Konferensi Linguistik Tahunan (Kolita) Atma Jaya, Februari 2003.

Beberapa waktu sebelumnya, atau Juli 2018 lalu, Menristekdikti juga telah menyebut tidak ada pelanggaran pada isu dugaan plagiat yang melibatkan Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman. Menurutnya, justru karya tulis Fakthur lah yang dijiplak.

"Akhirnya seolah-olah karena mahasiswa tahun 2003 dan rektor 2004 publikasinya, seolah rektor plagiasi terhadap mahasiswa. Padahal rektor plagiasi karya rektor tahun 2002," ujarnya kepada wartawan di Surabaya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up