JawaPos Radar

Ini Ujian, Ini Kesempatan Emas

Oleh FAJAR JUNAEDI*

06/10/2018, 12:30 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ini Ujian, Ini Kesempatan Emas
Aksi suoporter Indonesia setelah meninggalnya Haringga di Bandung. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - PADA 28 September lalu, Jawa Pos menurunkan sebuah berita di halaman pertama yang berjudul Sepakat Hilangkan Nyanyian Dibunuh Saja.

Berita itu berisi liputan wawancara dengan berbagai suporter sepak bola di Indonesia, termasuk Aremania dan Bonek, dua kubu suporter yang kerap berseteru.

Kebetulan, hari ini Arema FC dan Persebaya Surabaya dijadwalkan berhadapan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Laga tersebut bakal menjadi ujian sekaligus kesempatan emas mewujudkan komitmen menghilangan provokasi kematian yang disenandungkan dalam chant Dibunuh Saja.

Selama lagu itu, juga provokasi kematian lain, tetap dikampanyekan di tribun, ketidakberpikiran untuk melakukan kejahatan akan terus tertanam kepada mereka yang datang di stadion. Maupun mereka yang menyaksikan pertandingan melalui siaran langsung atau video di media sosial.

Padahal, kita sungguh ingin siklus kekerasan itu berakhir. Kita sungguh berharap Haringga Sirila, seorang suporter Persija Jakarta yang tewas dikeroyok pendukung Persib Bandung 23 September lalu, jadi korban terakhir.

Sudah terlalu banyak nyawa yang melayang akibat kekerasan yang terjadi di sepak bola. Baik di dalam maupun di luar stadion. Fatalnya lagi, kekerasan dalam sepak bola selama ini dianggap sebagai hal yang biasa.

Dan, yang melakukannya juga orang-orang biasa. Dari anak kecil sampai orang dewasa. Mulai kekerasan verbal dengan menyanyikan lagu berlirik "dibunuh saja" sampai mempraktikkan lirik itu dengan benar-benar membunuh orang lain.

Hannah Arendt menulis dalam buku Eichmann in Jerusalem, A Report on the Banality of Evil (1963) berargumen tentang latar kejahatan yang dinamakan sebagai banalitas kejahatan (banality of evil). Yakni, situasi ketika kejahatan tidaklah dianggap lagi sebagai kejahatan. Melainkan dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang wajar.

Dalam pengamatan Arendt, pelaku kejahatan adalah orang yang tidak menggunakan kecerdasannya secara maksimal. Untuk berpikir secara menyeluruh, berpikir dengan sistemis. Akibatnya, pelaku kejahatan tidak sadar bahwa mereka berbuat kejahatan dan berpartisipasi dalam tindakan kejahatan.

Mengikuti pikiran Arendt, kita bisa menyaksikan dalam berbagai pemberitaan media, kekerasan yang terjadi pada suporter sepak bola di Indonesia terutama berpola pengeroyokan. Para pelaku bisa berasal dari suporter sepak bola, seperti pada peristiwa kejahatan terhadap Haringga Sirila. Atau orang-orang yang dicirikan sebagai aparat keamanan. Sebagaimana yang terjadi kepada Banu Rusman. Juga, kelompok di luar suporter sepak bola yang menyerang suporter, misalnya yang menimpa Miko Pratama.

Saat melakukan pengeroyokan, mereka sering kali tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar-benar brutal. Mereka adalah orang-orang yang tidak berpikir tentang tindakan yang mereka lakukan. Ketidakberpikiran itulah yang menjadi prasyarat untuk menjadi penjahat.

Di tribun stadion, ketidakberpikiran itu dimulai dengan dinyanyikannya lagu berlirik "dibunuh saja". Lirik lagu itu secara jelas mengajak orang untuk meniadakan nyawa orang lain.

Ketidakberpikiran lanjutannya ditandai dengan dinyanyikannya lagu tersebut dengan riang gembira. Seolah-olah ajakan membunuh adalah hal normal dan wajar.

Mengikuti semiotika dua tingkat dari Roland Barthes, lirik lagu "dibunuh saja" tidak lagi bisa dimaknai dalam konteks pemaknaan di tingkat secondary signification atau konotasi. Namun, tepat didudukkan dalam pemaknaan di tingkat primary signification atau denotasi. Lirik itu tidak hanya bermakna membunuh sebagai kiasan, seperti mengalahkan lawan. Melainkan membunuh dalam arti yang sebenarnya.

Lirik lagu itu juga mencederai kesucian tribun stadion. Tribun stadion adalah tempat di mana ritual mendukung sebelas pemain yang mengenakan jersey kebanggaan sedang bertanding menjaga kehormatan klub.

Jika tribun stadion dianggap sakral, seharusnya yang dilantunkan adalah chant (nyanyian yang di dalamnya ada doa). Bukan lagu provokasi yang berisi ajakan untuk membunuh.

Sesungguhnya para dirigen atau capo adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kampanye kematian itu. Sebagaimana Hannah Arendt menggambarkan Adolf Eichmann yang tampak sebagai orang biasa, mereka yang memimpin suporter bernyanyi adalah orang-orang biasa pula.

Di wajah mereka tak tampak penjelmaan setan yang sangar dan kejam. Seperti wajah dengan mata yang nanar, gigi yang memanjang keluar dari mulut, atau tanduk yang keluar dari kepala.

Wajah mereka biasa-biasa saja sebagaimana manusia pada umumnya. Saat tidak menjadi dirigen atau capo, mereka beraktivitas sebagaimana manusia lain beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam wajah yang biasa-biasa itu, kampanye kejahatan didengungkan ketika mereka memimpin lagu Dibunuh Saja di tribun stadion.

Agar wajah itu menjadi kembali normal, sudah waktunya lagu Dibunuh Saja diakhiri. Hakikat suporter adalah mendukung klub yang sedang bertanding, bukan membunuh suporter lawan.

Jika terus menyanyikan lagu Dibunuh Saja, perlu dipertanyakan totalitas kesuporterannya dalam mendukung klub. Anda sebagai suporter perlu mempertanyakan totalitas kecintaan dirigen atau capo Anda kepada klub jika dia masih mengajak untuk menyanyikan lagu Dibunuh Saja.

*) Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; penulis buku Merayakan Sepakbola 

(*/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up