JawaPos Radar

Melihat Aktifitas Dapur Umum di Balaroa, Palu

Puing-puing Sisa Sapuan Tsunami Dimanfaatkan untuk Memasak

06/10/2018, 12:20 WIB | Editor: Dida Tenola
Puing-puing Sisa Sapuan Tsunami Dimanfaatkan untuk Memasak
Kondisi kelurahan Balaroa, Palu, yang hancur karena gempa dan tsunami . (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Peran dapur umum di tenda pengungsian Balaroa, Palu, sangat vital. Setiap hari, anggota Tanggap Bencana (Tagana) tanpa pamrih melayani kebutuhan makanan warga yang kehilangan tempat tinggal. Setelah rumah mereka luluhlantak diguncang gempa, tenda itu menjadi sarana untuk saling menguatkan batin.

Sahrul Ramadan, Palu

Puing-puing Sisa Sapuan Tsunami Dimanfaatkan untuk Memasak
Para pengungsi di Balaroa, memakan masakan ala kadarnya yang dimasak tim Tagana di dapur umum. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)

Kamis pagi (5/9), matahari sudah tak malu-malu lagi berkuasa di atas langit Kota Palu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA. Aktifitas di tenda pengungsian sibuk luar biasa. Di tengah-tengah para pengunsi,  Hengky, 37, tampak sibuk memerintahkan empat orang anggotanya. Mereka langsung menyiapkan seluruh wadah makanan yang sementara masih dimasak.

Agar api tetap terjaga di atas slang regulator, 2 tabung gas berukuran 13 kg ditindih dengan balok kayu. Kayu-kayu itu adalah bekas patahan maupun puing-puing rumah yang terbawa sapuan tsunami. Saksi bisu bencana maha dahsyat itu dimanfaatkan untuk bertahan hidup.

Pasukan dengan seragam biru itu, serentak beraktifitas di atas mobil bak berukuran 3x2 meter. Mobil itu disulap jadi dapur umum.

Mobil terparkir di halaman warga setempat yang lokasinya berjarak 50 meter dari pusat tenda pengungsian. Dalam satu halaman, dua unit mobil dengan tangki besar, menyuplai kebutuhan air bersih.

Di dalam mobil penuh dengan berbagai macam alat dapur. Mulai penanak nasi, wajan, panci, gelas dan juga wadah lainnya. "Kalau sudah masak kasih pindah langsung ke tempat yang kosong di situ," seru Hengky dengan logat khas orang Sulawesi.

Beberapa anak buah Hengky tampak sibuk mengaduk-ngaduk olahan tempe kecap. Mereka mencampurnya dengan bahan rempah-rempah seadanya. Walaupun sederhana, menu makan siang itu sangat membantu ribuan jiwa pengungsi.

Seperti tak kenal lelah, satu tim beranggotakan lima orang dari Tagana Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatanitu terus bekerja. Wajan yang digunakan untuk penggorengan diletakkan di atas satu kompor. Sedangkan di kompor lainnya, tampak panci besar yang airnya mulai mendidih. Panci itu dipakai untuk merebus mi instan, sebagai menu pelengkap.

Mereka harus bergerak cepat, berpacu dengan waktu agar makanan bisa segera disantap para pengungsi. "Mereka ini tidak makan pagi. Mau makan apa kalau sudah tidak ada apa-apa yang bisa diselamatkan, apa lagi dimasak. Jadi kami masak sepagi mungkin, biar siang sudah jadi. Mereka (pengungsi, Red), tinggal datang ambil di sini dan langsung makan," jelas Hengky yang bertindak sebagai koordinator lapangan Tagana Lutim.

Saat itu merupakan hari keempat dapur umum berdiri. Mereka harus menyiapkan kebutuhan makanan bagi 2.114 jiwa pengungsi di Balaroa.

Dari Lutim, mereka mengangkut 500 kg beras, 40 kardus mi instan, 2 karung campuran sayur mayor. Semuanya diangkut ke atas satu mobil pembantu dengan bak terbuka. Semua itu dipersiapkan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Lutim, markas tim Tagana ini bernaung. "Jadi ini persiapan dadakan juga karena memang kami harus cepat bergerak dari sana (Lutim). Kemungkinan kalau stok makanan sudah habis, kami kembali ke sana. Tapi tergantung juga bagaimana perintah kantor ini, karena kami kan Cuma tim lapangan,” lanjut Hengky.

Tak terasa, aktifitas memasak itu telah rampung. Tiga jenis menu makan siang sudah  tersaji di atas meja kecil. Nasi, tempe goreng kecap, mi instan rebus dan ikan kering kecil ditutup rapat dalam wadah penyajian beralas koran-koran bekas.

Saat akan dibagikan ke pengungsi, Hengky kembali memerintahkan seorang anggotanya untuk mendata warga di dalam tenda pengungsian.

Tenda-tenda itu sendiri didirikan di atas lahan tandus yang luasnya sekitar 1 hektare. Kebanyakan pengungsinya terdiri dari sekeluarga. Mulai laki-laki, perempuan, lansia hingga bayi. "Supaya rata semua pembagiannya kami harus memastikan semuanya bisa dapat makanan. Kalau air minum mungkin ada beberapa stok yang bisa dipakai, selain dari tangki penampungan yang di bawah mobil itu," ucap Hengky sembari mengusap keringat di wajahnya.

Di luar dapur umum, Warni, 40 seorang warga Perumnas Petobo yang rumahnya hancur dan tertimbun di tanah, tampak mempersiapkan wadah untuk menampung makanan. Dia lalu membawa makanan itu ke tendanya. Terlihat dua anak putrinya sedang bercengkrama dengan sang kakek, ayah dari Warni.

"Alhamdulillah kami bersyukur sekali karena langsung ada bantuan. Walaupun sementara, yang jelas kami-kami di sini ada persiapan dulu untuk isi perut. Karena tidak ada apa-apa yang bisa dibawa, rumah sudah habis, pakaian-pakaian tinggal di badan, bisa apa lagi kami disini. Makanya ini kami sudah bersyukur sekali," ucapnya.

Warni mengaku telah menerima bantuan langsung dari Presiden Joko Widodo. Bantuan itu terdiri dari kebutuhan logisitik, kelengkapan dapur seperti beras, minyak hingga bahan lainnya.

Bantuan sembako sebanyak 800 paket itu diserahkan melalui perwakilan staf kepresidenan, Mayor Agus dari Korem 132. Kemudian diterima oleh Lurah Balaroa Ramansyah. Bantuan itu diharapkan bisa meringankan beban warga korban gempa.

(rul/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up