JawaPos Radar

AS Paksa Sekutunya Pilih Pasar Amerika yang Besar atau Iran

06/10/2018, 08:53 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
iran, sanksi iran, as, trump, perjanjian nuklir 2015,
Amerika Serikat menyatakan, tetap menjalankan rencananya untuk memberlakukan sanksi ekonomi pada Iran. Dilansir dari New York Times beberapa waktu yang lalu, Amerika yang keluar dari Kesepakatan Nuklir 2015 (CNBC)
Share this image

JawaPos.com - Amerika Serikat menyatakan, tetap menjalankan rencananya untuk memberlakukan sanksi ekonomi pada Iran. Dilansir dari New York Times beberapa waktu yang lalu, Amerika yang keluar dari Kesepakatan Nuklir 2015 tersebut rela memperburuk hubungannya dengan Eropa, demi tetap memberlakukan sanksi pada Iran.

Presiden AS Donald Trump merasa yakin, sikapnya dengan mundur dari kesepakatan tersebut akan memaksa Iran untuk menutup upaya pengayaan nuklirnya, mengekang program senjatanya,  dan mengakhiri dukungannya terhadap pemerintah atau pemberontakan brutal di Timur Tengah.

iran, sanksi iran, as, trump, perjanjian nuklir 2015,
Presiden AS Donald Trump merasa yakin, sikapnya dengan mundur dari kesepakatan tersebut akan memaksa Iran untuk menutup upaya pengayaan nuklirnya, mengekang program senjatanya (Reuters)

Dalam sebuah pernyataan, Trump mengatakan, Pemerintah Iran menghadapi pilihan, yaitu mengubah perilaku mengancam, mendestabilisasi dan mengintegrasikannya dengan ekonomi global, atau terus menyusuri jalan isolasi ekonomi seperti sekarang.

Sanksi yang ditetapkan Trump pun cukup kejam, yakni akan memblokir negara yang mempunyai hubungan kerja sama dengan Iran. “Siapapun yang berbisnis dengan Iran tak akan berbisnis dengan Amerika Serikat,” ujar Trump dalam Twitter-nya.

Para pejabat Eropa mengatakan, perjanjian nuklir Iran sangat penting untuk keamanan nasional mereka. "Kami bertekad untuk melindungi operator ekonomi Eropa yang terlibat dalam bisnis yang sah dengan Iran," kata para Menteri Luar Negeri Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa dalam sebuah pernyataan bersama. Rusia dan Tiongkok yang juga menandatangani Kesepakatan Nuklir 2015 dengan Iran.

Dengan menetapkan sanksi, Amerika Serikat secara langsung memaksa sekutunya untuk mengikuti hukumannya, menekan perusahaan-perusahaan besar Eropa untuk memilih antara pasar Iran yang kecil dan pasar Amerika yang besar.

"Kami telah menghentikan kegiatan kami di Iran, yang bagaimanapun juga sangat terbatas, sampai pemberitahuan lebih lanjut sesuai dengan sanksi yang berlaku," ujar pernyataan Daimler, pembuat mobil dan truk Mercedes-Benz Jerman.

Setiap penandatangan lain dari Kesepakatan Nuklir 2015 telah menentang tindakan Trump dan berpendapat bahwa perjanjian itu adalah kesempatan terbaik untuk memperlambat, dan akhirnya mengakhiri, ambisi nuklir Iran. Hal yang ditakutkan, begitu Iran tidak lagi menerima bantuan ekonomi, tekanan di Iran akan meningkat untuk melanjutkan kegiatan nuklirnya.

Perjanjian saat ini mencegah Iran mengumpulkan cukup bahan bakar untuk membangun senjata nuklirnya sampai 2030. Trump berpendapat bahwa itu tidak cukup lama.

Dua minggu setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan itu, Menlu AS Mike Pompeo menguraikan strategi untuk membuka negosiasi baru dengan Iran. Dia menuntut agar Iran mengakhiri semua pengayaan nuklir dan pengembangan rudal-rudal berkemampuan nuklir,  membebaskan semua warga Amerika, mengakhiri dukungannya untuk Hizbullah, Hamas, Jihad Islam, dan milisi Houthi, juga menarik pasukannya dari Syria.

Administrasi Trump mengatakan, mereka menginginkan perubahan perilaku dari Teheran, dan tidak menuntut perubahan dalam pemerintahan. Mereka mencatat, ancaman sanksi telah berdampak pada ekonomi Iran, termasuk penurunan nilai rial, mata uang Iran, meningkatnya pengangguran, dan meningkatnya protes.

Beberapa analis khawatir, keputusan administrasi Trump untuk terus maju dengan sanksi yang mendorong Eropa, Rusia, dan Tiongkok untuk menemukan cara di sekitar sistem keuangan yang dipimpin Amerika dan merongrong keberhasilan hukuman ekonomi di bidang lain.

Uni Eropa juga memperbarui undang-undang pemblokiran yang berusaha untuk melindungi perusahaan-perusahaan Eropa dari hukuman AS  karena melakukan bisnis dengan, atau di, Iran.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up