JawaPos Radar

Sumsel Dilanda Kekeringan, Operasi TMC Dihentikan Sementara

05/10/2018, 20:38 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Sumsel Dilanda Kekeringan, Operasi TMC Dihentikan Sementara
Kondisi kabut asap yang terjadi di Kota Palembang (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dinilai mampu mengatasi persoalan Karhutla dan bencana asap belum terlihat maksimal. Pasalnya, kondisi panas yang melanda Sumsel diperparah dengan curah hujan yang menipis membuat Sumsel pun dilanda kekeringan.

Akibatnya, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus terjadi di Sumsel. Kondisi udara di Palembang juga berada pada level yang tidak sehat.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Teknologi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Sutrisno mengakui pihaknya terpaksa menghentikan sementara TMC karena potensi cuaca selama seminggu terakhir relatif kering. Kelembaban udara pun sangat rendah di wilayah Sumsel.

“Artinya kami tidak dapat melakukan penyemaian. Tapi, kami tetap standby jika memang ada awan maka kami langsung melakukan penyemaian,” katanya saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (5/10).

Ia mengaku kondisi kekeringan ini terjadi akibat adanya sirkulasi Eddy di sebelah barat Sumatera Utara dan dua sistem tekanan rendah di laut Cina Selatan sebelah Barat Malaysia yang menuju siklon Kong Rey.

Akibat sirkulasi ini menyebabkan tertariknya masa udara menuju pusat sirkulasi tersebut. Ia pun memprediksi jika kondisi ini akan mulai kembali membaik pada 9 Oktober mendatang, sehingga TMC dapat dilakukan secara optimal.

“Kami harap kondisi cuaca ini dapat kembali membaik sehingga TMC dapat kembali dilakukan,” tutupnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data pantauan alat konsentrasi udara PM 10 Staklim Palembang pada Jumat (5/10) pada pukul 06.00 WIB hingga 07.00 WIB yakni sebesar 151 – 250 mikron/gram atau berada pada level tidak sehat.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo mengatakan memang sejak 10 hari terakhir Kota Palembang dan kabupaten di Sumsel belum mendapatkan curah hujan yang cukup akibatnya sangat berpotensi terjadinya kekeringan di hutan dan lahan.

"Dengan meningkatnya kekeringan maka partikel debu juga meningkat akibatnya pada kondisi udara di Palembang," katanya saat dihubungi JawaPos.com, 

Terbukti, ada Jumat (5/10) jarak pandang berkisar 1 kilomter hingga 2 kilometer. Jika kondisi ini terus terjadi maka kondisi udara pun bisa semakin buruk. "Kami berharap kepedulian masyarakat dan pemerintah untuk menjaga agar Sumsel zero asap," harapnya.

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up