JawaPos Radar

Ini Biang Kerok Penyebab Rupiah Terus Merosot di Atas Rp 15 Ribu

05/10/2018, 17:22 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Ini Biang Kerok Penyebab Rupiah Terus Merosot di Atas Rp 15 Ribu
Tempat penukaran uang (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pasar finansial belakangan mengalami tantangan. Hal ini terbukti Rupiah menembus level Rp 15 ribu dan indeks bursa saham sulit bertahan di level 6.000 poin. Ekonom Yanuar Rizky, soal Rupiah itu ada dua faktor penyebab, yaitu teknikal pasar keuangan dan fundamental ekonomi.

"Fundamental Ekonomi, postur neraca perdagangan kita kan memang rapuh, cenderung defisit. Tapi, itu tertutupi kalau uang beredar di pasar keuangan dalam posisi inflow, sehingga kurs Rupiah kuat dan sisi daya beli impor juga bagus. Tapi, kalau teknikal uang beredarnya dalam posisi outflow, ya penyakitnya muncul," ujarnya dalam siaran persnya, Jumat (5/10).

Menurutnya, kondisi Rupiah dan IHSG mungkin sifatnya fluktuatif dan bisa bersifat jangka pendek. Namun, jika ditilik ke belakang, nyatanya Rupiah terus tergerus (Januari-September 2018/year to date). Begitu juga dengan IHSG, yang sulit duduk manis di atas level 6.000. Linier dengan hal tersebut, cadangan devisa pun semakin terkuras.

Jika dibiarkan terlalu lama, Yanuar menilai, psikologi pasar juga tertekan dan mempertanyakan kemampuan para pemangku kebijakan ekonomi dalam mengatasi tekanan yang bertubi-tubi. Bahkan, bisa mengungkit isu reshuffle kabinet tim ekonomi yang sempat santer di akhir 2017.

"Harus ada terobosan mikro dalam kebijakan makro. Kalau kata saya, perlu orang yang mengerti dalam detail-detail, sehingga tidak retorika," imbuhnya.

Yanuar mencontohkan, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Ben Bernanke merupakan seorang monetaris aliran makro. Namun, kebijakan Quantitative Easing (QE) adalah mikro inisiatif.

Sekadar diketahui, QE adalah salah satu instrumen moneter yang bisa dilakukan oleh bank sentral suatu negara. Tujuannya guna meningkatkan jumlah uang beredar (money supply) di pasar. Dalam hal ini, baik Darmin maupun Sri Mulyani adalah orang gaek dalam hal makro dan bisa memberikan rekomendasi kepada Bank Indonesia.

"Jadi, kritik saya di tim ekonomi ini perlu ada perubahan gaya bermain,” tandasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up