JawaPos Radar

Komplotan Pemeras Penumpang Terminal Purabaya Diringkus Polisi

05/10/2018, 16:55 WIB | Editor: Budi Warsito
Komplotan Pemeras Penumpang Terminal Purabaya Diringkus Polisi
AKBP Leonard M Sinambela menunjukkan barang bukti berupa satu bendel tiket kosong dsri CB Divana Putrie Wisata Tour dan Travel.  (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Jajaran Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur (Jatim) membongkar aksi komplotan perampas dan pemeras penumpang yang kerap beraksi di Terminal Purabaya. Komplotan itu, digawangi 3 orang preman yang juga bekerja sebagai calo. 

Mereka adalah Munikrah, 56, warga Jalan Wonokusumo Jaya Barat, Surabaya; Aris, 39, waga Jalan Brigjen Katamso, Sidoarjo dan Nurul, 38, warga Dusun Karongan, Sampang, Madura.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur,  AKBP Leonard M Sinambela mengungkapkan, para pelaku dibekuk, Kamis (4/10) kemarin di terminal. Penangkapan dilakukan dari laporan seorang penumpang yang bermaksud pulang ke Madiun. 

Saat ini, pihak Polda Jatim sudah membawa kasus tersebut ke tahap penyidikan. Sebab,  masih dilakukan pengembangan untuk mengejar 2 pelaku lainnya yang juga terkait komplotan tersebut. 

"Namanya, Fahrihin, 36, warga Jalan Sumbo Sidodadi, Surabaya dan Pendik, warga Bungurasih. Leonard mengatakan, kedua pelaku itu masih dalam pengejaran," papar AKBP Leonard, Jumat (5/10) di Mapolda Jatim.

"Kami akan periksa terus ketiga tersangka. Karena, pasti pelakunya ngga sedikit. Ini, modus premanisme," imbuhnya.

Dari keterangan para pelaku yang diringkus, mereka selalu menyasar para penumpang dari luar kota atau provinsi dengan barang bawaan yang banyak. Lalu, menawarkan tiket bus sesuai dengan tujuan penumpang dengan sedikit memaksa. 

Jika, ada penumpang yang tertarik, komplotan tersebut menarik ongkos tiket lebih mahal dari harga asli. Penumpang yang sebenarnya, ragu dengan tarifnya, langsung dimanfaatkan tersangka dengan merampas uang korban. 


"Lalu, tersangka menggiring korban masuk ke dalam bus yang akan ditumpangi. Usai naik, tersangka meminta kembali tiket yang sudajh dijual kepada korban. Hasilnya itu, kemudian dibagi rata kepada lima anggota komplotan tersebut," terangnya.

Hal itu terbukti dari laporan korban yang mengaku membayar Rp 400 ribu untuk tiket ke Madiun kepada Aris dan Nurul. Padahal, berdasarkan Peraturan Gubernur dan Dirjen Perhubungan, harga atas dan bawah sudah ada aturannya. Sementara, Harga atas tiket bus ke Madiun itu hanya Rp 49 ribu. 

"Pas naik bus, penumpang korban perampasan itu, dikenakan tarif lagi. Tapi, penumpang lebih memilih menggerutu ketimbang melaporkan kepada kami," tegas Leonard. 

Lebih lanjut, Leonard mengatakan, tidak hanya akan memproses tersangka. Pihaknya, juga akan memanggil dan memeriksa pihak travel dan pengelola bus. 

Menurutnya, ada kemungkinan kongkonglikong antara pihak pengelola (kantor PO) atau travel dengan ketiga tersangka. Untuk itu, Leonard mengimbau segera melapor jika ada masyarakat yang mengalami hal serupa. 


"Pihak kantor PO-nya akan kami panggil. Karena, pengakuan sementara, tersangka bukan karyawan kantor PO itu," tegasnya. 

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up