JawaPos Radar

Heboh Peristiwa Ratna Sarumpaet, Begini 7 Pelajaran Kebohongannya

05/10/2018, 13:40 WIB | Editor: Kuswandi
Ratna Sarumpaet
Ratna Sarumpaet saat menggelar konferensi pers terkait pengakuan dirinya berbohong dikeroyok orang tak dikenal, di Jakarta, Rabu (3/10) (Mifathul Hayat/ Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Aktivis HAM Ratna Sarumpaet tengah menghebohkan publik. Sebab, pada Kamis (4/10) malam dia dicekal oleh Polda Metro Jaya ketika hendak bertolak ke Chili saat akan menghadiri kongres perempuan di negara tersebut.

Pencekalan itu, karena aktivis HAM tersebut telah membohongi publik dengan mengaku dianiaya oleh orang tidak dikenal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat pada (21/9) lalu. Hal itu pun terbongkar ternyata Ratna melakukan operasi plastik hingga wajahnya terlihat babak belur.

Menanggapi peristiwa tersebut, Komunikonten dari Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria memandang terdapat tujuh pelajaran kebohongan yang dapat diambil dari peristiwa aktivis HAM Ratna Sarumpaet.

Pertama, sebagai masyarakat yang tidak mengetahui bidang medis tidak bisa membedakan wajah Ratna bengkak akibat dipukuli oleh sejumlah orang atau akibat dari operasi plastik.

"Karenanya begitu melihat wajah Ratna Sarumpaet bengkak, wajar banyak orang langsung bersimpati dan menyampaikan duka bahkan kecaman lewat media sosial," kata Hariqo dalam keterangannya, Jumat (5/10).

Kedua, untuk para politisi seharusnya tidak mudah percaya atas pernyataan yang belum tentu kebenarannya. Sehingga informasi yang didapat untuk dicari tahu kebenarannya.

"Para politisi mempunyai nomor dokter, polisi, psikolog, psikiater yang bisa diminta tolong untuk mengecek sebelum memutuskan menggunggah di medsos apalagi konferensi pers. Sehingga ini pun penting bagi setiap organisasi atau tim sukses merekrut anggota tim dari latar belakang berbeda seperti dokter, psikiater atau bahkan psikolog," paparnya.

Ketiga, banyak individu yang bersimpati melihat bengkaknya wajah Ratna Sarumpaet. Mereka bukan saja pendukung Prabowo-Sandi, namun juga pendukung Jokowi-Maruf. Bahkan banyak juga warganet yang selama ini netral ikut bersimpati.

"Motif mereka mengecam bisa berbeda, bisa karena kemanusiaan, politik, dan lain sebagainya," tuturnya.

Keempat, terdapat juga individu yang tidak bersimpati atas peristiwa Ratna Sarumpaet. Mereka tidak terbawa informasi yang belum diketahui kebenarannya.

"Tidak suka Prabowo-Sandi dan kebetulan Ratna Sarumpaet mendukung Prabowo-Sandi. Tidak mengikuti kejadian karena sibuk urusan lain atau mengikuti kejadian namun berhati-hati sebelum merespon informasi," ungkapnya.

Kelima, pemberitaan media harus mengandung unsur berimbang sehingga tidak terkesan menuduh. Sehingga pemberitaan yang dimuat tidak menyudutkan kelompok tertentu.

"Apalagi mengarahkan pembaca bahwa pelakunya adalah kelompok tertentu," paparnya.

Keenam, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini tergolong luar biasa. Hal ini pun kerap kali terjadi di masyarakat. "Misalnya pernah ada kejadian si A menyampaikan ke masyarakat bahwa saudaranya atau pacarnya dibunuh, namun setelah diperiksa cukup lama oleh polisi, psikiater dan ahli lainnya barulah terungkap. Ternyata si A-lah pembunuhya," urainya.

Ketujuh, dalam membuat pernyataan mengenai fenomena Ratna Sarumpaet seharusnya tidak langsung melalui media sosial yang berakibat akan merugikan.

"Sebaiknya pelajari berbagai pendapat orang yang benar-benar ahli di bidang tersebut sebelum beraktivitas di medsos. Demikian juga, jika ada kejadian serupa Ratn Sarumpet untuk tidak langsung menuduh di medsos bahwa ini bohong atau acting. Sebaiknya menunggu pendapat orang yang benar-benar ahli," pungkasnya.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up