JawaPos Radar

3 Helikopter Dikerahkan Kirim Bantuan ke Daerah Belum Tersentuh

Pesawat Luar Negeri Bantu Angkut Logistik

05/10/2018, 11:00 WIB | Editor: Ilham Safutra
3 Helikopter Dikerahkan Kirim Bantuan ke Daerah Belum Tersentuh
Tim SAR dari Prancis ikut membantu mencari dan mengevakuasi korban gempa di Sulteng. Khususya di Hotel Mercure (Boy Slamet/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Persoalan pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) terus bermunculan. Kini pendistribusian menjadi perhatian besar bagi korban. Terutama untuk daerah yang terisolasi. Masyarakat di sana hingga kini belum tersentuh bantuan.

Di Donggala bagian utara salah satunya. Korban terdampak gempa yang mendirikan posko pengungsian darurat di perbukitan di sana sangat berharap bantuan segera tiba. Di antaranya, beras, selimut, tenda, dan obat-obatan. Sebab, persediaan makanan mulai menipis. Tenda pengungsian yang mereka bangun secara swadaya juga sudah tak layak.

Paling parah di Desa Batusuyagoo, Kecamatan Sindue Tombu Sabora. Mereka kini mengandalkan kelapa muda dan pisang untuk mengganjal perut. Makanan itu mereka peroleh dari perkebunan yang berada tak jauh dari lokasi pengungsian. Bukan hanya itu. Pengungsi di sana, khususnya anak-anak dan lanjut usia (lansia), juga mulai terserang demam karena kedinginan dan kekurangan makanan.

3 Helikopter Dikerahkan Kirim Bantuan ke Daerah Belum Tersentuh
Infografis Kebutuhan Dasar yang dibutuhkan pengungsi gempa Sulteng. (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Bahkan, Ahmad, seorang pengungsi di perbukitan, harus berjibaku melawan ganasnya penyakit mirip hernia di tengah kondisi serbasulit itu. Penyakit yang dia alami sejak tujuh bulan lalu tersebut kini makin mengenaskan. Buah zakarnya membengkak besar. "Rasanya sakit sekali," ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (4/10).

Sebetulnya Ahmad hendak dirujuk ke rumah sakit di Palu. Namun, karena desanya diguncang gempa, niat itu urung dilakukan. Jalan utama trans-Sulawesi yang terputus tidak memungkinkan dia dibawa ke Palu. "Ada gempa, tidak jadi dirujuk," tuturnya sambil meringis kesakitan. Sambil menunggu bantuan tiba, Ahmad tinggal di posko darurat yang terpisah dari pengungsi lain.

Donggala Utara menjadi wilayah terdampak gempa yang belum maksimal terjamah bantuan. Salbia, pengungsi di Kecamatan Sirenja, Donggala, mengatakan bahwa bantuan dari pemerintah baru tiba Rabu (3/10). Padahal, selain gempa, wilayah itu terdampak tsunami cukup parah pada Jumat (28/9). "(Desa) Tanjung Padang yang kena dampak tsunami," terangnya kepada Jawa Pos.

Jarak Sirenja dari Palu lebih jauh. Dari Sindue Tombu Sabora, Sirenja berjarak sekitar 30 kilometer ke utara. Selain Tanjung Padang, ada beberapa desa lain yang terdampak gempa parah. Yakni, Desa Lende, Tompe, dan Tondo Sao. Di Lende, beberapa rumah rata dengan tanah akibat gempa.

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan, pihaknya sudah memetakan daerah-daerah terisolasi tersebut. Beberapa strategi pun telah disiapkan untuk membantu mereka. "Setelah mapping (pemetaan, Red), kami langsung action," ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos di kantor Dinas Sosial Sulteng di Kota Palu kemarin.

Bukan hanya logistik, pihaknya juga berencana menurunkan tim terpadu yang terdiri atas petugas medis dan psikososial. Khusus untuk penanganan trauma pascagempa, Kemensos menggandeng Seto Mulyadi alias Kak Seto dalam tim layanan dampingan psikososial (LDP). Tim itu nanti disebar ke seluruh posko induk bansos. Yang diprioritaskan adalah pemulihan trauma anak-anak.

Sementara itu, kondisi rumah sakit (RS) sudah berangsur membaik. Tenda-tenda yang sebelumnya dibuat dari terpal kini sudah berganti tenda semipermanen milik BNPB, Kemensos, dan TNI.

Itu, antara lain, terlihat di RSUD Undata kemarin. Dua tenda sepanjang 20 meter menjadi ruang perawatan pasien korban gempa. Rumah sakit juga sudah memindah sebagian pasien ke ruang rawat inap di dalam gedung.

Nanang, seorang pasien, mengatakan bahwa RS sudah melakukan penanganan yang lebih baik. Itu dibandingkan dengan saat dia dirawat di RSUD Undata di awal-awal setelah terjadi gempa dan tsunami.

Perawatan mulai diberikan intensif sejak dia dirawat setelah dua hari. "Sampai sekarang (kemarin, Red) pelayanan jadi lebih baik," tutur lelaki yang mendapat 17 jahitan di kaki kirinya itu.

Nanang yang sehari-hari berjualan siomay di Pantai Talise, Kota Palu, itu hanya mengeluhkan ruang perawatan yang cukup panas. Maklum, Nanang menjalani perawatan di luar gedung RS. "Kalau malam panas sekali."

Koordinator IGD RSUD Undata Subhan mengatakan, pasokan obat untuk pasien sudah cukup. Saat ini yang menjadi kendala RS hanya ketersediaan listrik. Hingga kemarin, RSUD Undata masih mengandalkan genset untuk penerangan kala malam dan operasi pasien.

Genset tidak bisa berjalan maksimal karena jatah BBM yang kurang. Setiap hari penggunaan genset tidak bisa full 24 jam. Kondisi itu membuat pelayanan operasi yang dikerjakan tidak bisa maksimal. "Kami tidak bisa melakukan operasi dengan cepat," jelasnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menuturkan, sudah ada pengerahan sedikitnya tiga helikopter untuk menjangkau daerah-daerah yang belum mendapat bantuan pascagempa. Helikopter itu, antara lain, milik TNI dan Palang Merah Indonesia (PMI).

"Kita sudah siapkan tiga heli, hari ini (kemarin, Red) sudah," ujar JK di Istana Wakil Presiden kemarin (4/10).

Sebelumnya, JK yang juga ketua umum PMI itu meminta dua helikopter tipe Bolkow BO-105 untuk membantu distribusi logistik dan petugas kesehatan ke Palu dan Donggala. Helikopter itu diberangkatkan dari hanggar Bukit Baruga, Makassar.

JK menuturkan, helikopter akan membawa logistik berupa makanan, roti, dan lainnya. Khususnya untuk daerah-daerah yang berlokasi di ketinggian dan sulit terjangkau seperti Sigi dan Donggala. Termasuk empat kecamatan di Sigi yang sebelumnya dikabarkan belum menerima bantuan. Yakni, Kolawi, Kolawi Selatan, Lindu, dan Pipikoro. "Semua sekarang sudah dijangkau dengan heli," kata JK memastikan.

Sore kemarin JK bertemu Wakil Perdana Menteri Selandia Baru Winston Peter di Istana Wakil Presiden. Peter pun menjanjikan membantu korban gempa di Sulteng. Di antaranya, mengirimkan pesawat C-130 Hercules untuk mengangkut logistik dan relawan. Selain Selandia Baru, ada 17 negara lain yang ingin membantu Indonesia. "Hari ini masuk dari Jepang, masuk dari New Zealand, masuk dari India," kata JK.

Peter mengungkapkan, pihaknya memang berkomitmen untuk membantu korban gempa di Sulteng. Bantuan yang diberikan berupa pesawat angkut C-130 Hercules dan dana. "Akan tiba pukul 18.00 malam ini (pesawat) C-130. Dan, saya pikir, bantuan 5 juta dolar seperti apa yang saya ungkapkan," jelas Peter.

Menlu Retno Marsudi menuturkan, sudah ada dua pesawat dari Singapura dan dua dari India yang telah beroperasi di lapangan. Pesawat dari India berupa C-130J Super Hercules dan Boeing C-17 Globemaster. Negara lain yang akan membantu Indonesia juga sudah diberi clearance atau izin. Perizinan bisa lebih cepat karena menggunakan sistem online. Bantuan berupa pesawat itu dalam proses menuju Indonesia. "Misalnya, dari Jepang kemudian dari US Air Force itu juga dalam proses. Sementara yang lain clearance-nya sudah diberikan," ungkapnya.

Hingga petang kemarin, sudah ada tambahan pesawat yang sampai ke Indonesia. Pesawat berasal dari Australia, Qatar, dan Selandia Baru.

(tyo/lib/acm/jun/elo/c10/agm)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 05/10/2018, 11:00 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 05/10/2018, 11:00 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 05/10/2018, 11:00 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 05/10/2018, 11:00 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 05/10/2018, 11:00 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 05/10/2018, 11:00 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 05/10/2018, 11:00 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up