JawaPos Radar

Akibat Sengketa Saham, Boy Thohir Digugat Rp 8 Triliun

05/10/2018, 10:50 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Akibat Sengketa Saham, Boy Thohir Digugat Rp 8 Triliun
Ilustrasi BFI Finance. (Dok. JawaPos.Com)
Share this image

JawaPos.com - PT Aryaputra Teguharta (APT) mengajukan dua gugatan perdata terkait uang paksa (dwangsom) dan tidak dibayarkannya total dividen lebih dari Rp1,3 triliun oleh PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).

Sebagai tindak lanjut dari upaya melindungi hak dan kepentingannya atas 32,32 persen saham BFIN yang dimiliki APT selaku lawful owner berdasarkan Putusan PK MA No. 240/2006, APT kembali mengajukan gugatan terkait transaksi ilegal dan pembeli beritikad buruk. Gugatan tersebut didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 1 Oktober 2018.

Dalam gugatannya, APT meminta pertanggungjawaban hukum terhadap tindakan akuisisi yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh saham milik APT yang dilakukan oleh salah satu Indonesian tycoon, Garibaldi Thohir atau yang dikenal sebagai Boy Thohir pada tahun 2011 yang bertindak selaku pemimpin Trinugraha Capital & Co SCA (konsorsium bentukan TPG Capital dan Northstar Group Pte Ltd). 

Kuasa hukum APT Pheo Hutabarat menjelaskan, konsorsium Trinugraha Capital sudah seharusnya mengetahui adanya sengketa kepemilikan saham di dalam PT BFI Finance Indonesia Tbk. Padahal, saat transaksi itu terjadi sudah jelas secara hukum bahwa APT saat itu sebagai pemilik sah atas 32,32 persen saham BFIN.

Pheo mengungkapkan, untuk memfasilitasi dilaksanakannya tindakan transaksi ilegal tersebut, Trinugraha Capital & Co SCA sengaja didirikan sebagai perusahaan cangkang (special purpose vehicle/SPV) di Luxemburg hanya kurang dari satu bulan, sebelum dilaksanakannya akuisisi saham BFIN oleh Trinugraha. 

“Untuk menyesatkan khalayak umum seakan-akan modal berasal dari dalam negeri, digunakanlah nama Trinugraha yang merupakan trademark nama (grup) perusahaan yang sering digunakan oleh Boy Thohir,” ujarnya seperti diberitakan, Jumat (5/10).

Namun berdasarkan gugatan, didalilkan bahwa sumber dana untuk pengakuisisian tersebut sama sekali bukan bersumber dari beliau, tetapi diduga berasal dari mafia investor internasional.

Kata Pheo, motif konsorsium Trinugraha Capital membeli saham BFI yang sedang dalam perkara diduga bukan murni alasan investasi komersial belaka, melainkan ada modus tersembunyi.

"Sudah jelas ada sengketa, sudah jelas ada risiko, melanggar prinsip hukum caveat emptor, semakin jelas lah kalau Pak Boy Thohir dan kawan-kawan ini memang pembeli beritikad buruk gemar melanggar hukum, atau biasanya disebut mafia investor internasional," imbuhnya.

Ia menyatakan, pihaknya mengajukan tuntutan kepada Boy Thohir , Trinugraha Capital & Co SCA, TPG Capital, Northstar Group Pte Ltd, Compass Banca S.P.A., Mediobanca S.P.A., PT BFI Finance Indonesia Tbk dkk. dihukum ganti kerugian lebih dari Rp 8 triliun.

Lebih lanjut, Pheo menyampaikan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) harus memberikan pertanggungjawaban hukumnya, karena melakukan pembiaran atas tindakan melawan hukum yang terjadi di pasar modal.

Sementara, saat di konformasi oleh JawaPos.com, Garibaldi Thohir tidak begitu merespon terhadap kabar gugatan tersebut.

“Saya tidak terlalu mengikuti. Yang pasti kalau pembeli pasti mempunyai itikad baik. Thanks,” ujarnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up