JawaPos Radar

CBT Lebih Mahal dari Buoy, Tapi Lebih Aman

05/10/2018, 05:27 WIB | Editor: Estu Suryowati
CBT Lebih Mahal dari Buoy, Tapi Lebih Aman
ILUSTRASI Gempa Donggala dan Palu. Gempa berkekuatan 7,4 SR disertai tsunami meluluhlantahkan infrastruktur di Palu, Sigi, dan Donggala. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Sistem peringatan dini di Indonesia menuai sorotan usai bencana tsunami di Palu. Sistem peringatan dini berbasis buoy dikabarkan sudah tidak beroperasi karena biaya perawatan tinggi dan mengalami kerusakan.

Selain buoy, Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengenalkan teknologi cable based tsunamimeter (CBT). Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Hammam Riza menuturkan, baik buoy maupun CBT fungsinya sama-sama sebagai tsunami early warning system (TEWS).

Hanya saja, dia menjelaskan, untuk biaya pengadaan di awal, perangkat buoy lebih murah dibandingkan dengan dengan sistem CBT. Ketika Indonesia mendapatkan sejumlah peralatan buoy pada 2008 lalu, diperkirakan nilainya sekitar USD 500 ribu atau setara Rp 7,6 miliar (kurs 15.200). Sedangkan biaya perawatannya Rp 1 miliar/tahun.

Sementara itu untuk pemasangan CBT yang berbasis kabel, biayanya bisa triliunan rupiah. Harga itu tergantung dengan panjang kabel yang dipasang di dasar laut. Untuk bisa mendeteksi tsunami, pada kabel yang dibenamkan di dasar laut itu dipasang sensor.

"Sistem CBT selain lebih murah biaya perawatannya, juga aman. Karena barangnya ada di dasar laut," jelasanya di kantor BPPT Kamis malam (4/10).

Dia menuturkan cara kerja CBT itu adalah, sensor mengirim sinyal tekanan air laut. Nah tekanan air laut kemudian diolah untuk menjadi bahan penetapan bakal terjadi tsunami atau tidak.

Hammam menuturkan bencana alam itu merupakan sebuah siklus. Diawali dari pra bencana atau mitigasi. Kemudian tanggap darurat ketika bencana terjadi. Dan tahap terakhir adalah pemulihan atau recovery.

Dia menjelaskan untuk ketiga tahap tersebut, BPPT sudah memiliki teknologi masing-masing. Untuk mitigasi bencana, selain alat deteksi dini tsunami, BPPT juga memiliki teknologi deteksi konstruksi gedung.

Dengan pemodelan tertentu, sebuah gedung akan disimulasikan bisa kuat sampai menghadapi guncangan gempa berapa skala richter. Kemudian saat gempa terjadi atau pada masa tanggap darurat, BPPT memiliki teknologi pengemasan makanan dalam wujud biskuit.

Selain itu juga memiliki teknologi Arsinum. Teknologi ini mampu mengolah air baku yang keruh di lokasi gempa menjadi air siap minum. "Arsinum maksudnya air siap minum," tutur dia.

Teknologi Arsinum sudah diterapkan di bencana gempa Lombok. Satu unit perangkat teknologi Arsinum saat ini juga sedang perjalanan ke Palu diangkut menggunakan Kapal Baruna Jaya I. Diharapkan bisa membantu penyediaan air bersih korban bencana.

Sedangkan pada masa recovery atau pemulihan, BPPT memiliki teknologi rumah berasal dari komposit. Rumah ini dinilai tahan terhadap guncangan gempa.

Rumah komposit BPPT diharapkan bisa digunakan sebagai tempat tinggal korban bencana, daripada tinggal cukup lama di tenda pengungsian sampai rumahnya kembali dibangun pemerintah.

(wan/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up