JawaPos Radar

Laporan Khusus Hari Satwa Sedunia (2)

Terkepung Industrialisasi, Orang Utan Tapanuli di Ambang Kepunahan

05/10/2018, 09:10 WIB | Editor: Dida Tenola
Terkepung Industrialisasi, Orang Utan Tapanuli di Ambang Kepunahan
Beta, Indukan Orang Utan Tapanuli yang mendiami Harangan Batangtoru. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Di tengah-tengah cerianya mereka bermain, Orang Utan Tapanuli justru terancam tergusur dari rumahnya sendiri. Rimbunnya Harangan Batangtoru mulai tergerus dengan deru mesin industrialiasasi. Pembangunan sebuah PLTA yang didanai investor asing, perlahan-lahan mulai membungkam teriakan nyaring sang penghuni asli.

Prayugo Utomo, Medan

Kamis pagi (20/9), kami mulai mencari Orang Utan Tapanuli. Sheila dan Ulil Amri yang mendampingi. Keduanya adalah peneliti satwa yang gambarnya pernah mejeng di lembaran uang pecahan Rp 500 tersebut.

Lagi-lagi kami harus menerobos hutan yang lembap. "Pakai sepatu boot ya, biar kaki tetap kering. Medannya cukup sulit, kalau kami sudah biasa," kata Ulil dengan logat Angkola yang masih kental.

Matahari masih terlihat samar ketika kami memulai perjalanan. Melintasi jalur yang masih jarang ditapaki. Para staf YEL memang sudah hafal jalur di dalam hutan. 

Setelah berjalan 45 menit, ada pergerakan di atas pohon. Jaraknya cukup dekat. Langkah kami terhenti. Kami langsung mendongakkan kepala.

Dan benar saja. Terlihat dua Orang Utan sedang bercengkerama seru. Keduanya asyik bergelantungan, berayun ke sana ke mari. Pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka tampak girang.

Para peneliti di sana sudah memberi mereka nama. "Yang indukan betina namanya Beta. Yang anakan namanya Bittang," terang Sheila. 

Sheila buru-buru mengambil catatan kecilnya. Sejurus kemudian dia menandai posisi di alat Global Positioning System (GPS) yang ada di genggamannya. 

Beta dan Bittang seakan tidak takut dengan lalu lalang manusia di dekatnya. Dalam istilah ilmiah, keduanya adalah individu Orang Utan yang sudah terhabituasi. 

Beta dan Bittang tampak sibuk memilih-milih buah terentang atau camnosperma. Sejenis buah-buahan kecil. Sesekali dia juga memakan daun muda Agathis Borneensis atau sejenis damar. 

Matahari tepat berada di atas kami. Beta dan Bittang langsung membuat sarang di atas pohon. Bentuknya menyerupai bola yang disusun dari ranting dan daun. Sekitar 15 menit mereka berada di dalam sarang, Beta dan Bittang kembali keluar. 

Mereka mulai bergerak. Tentu saja kami segera bergegas mengikutinya. 

Terkepung Industrialisasi, Orang Utan Tapanuli di Ambang Kepunahan
Beta bersembunyi di balik rimbunnya daun pohon Agathis. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Sesekali Bittang berusaha mendekat ke arah kami. Melempar beberapa ranting kecil. Rupanya itu pertanda kalau si anak Orang Utan ingin berkenalan. Menggemaskan! "Udah biasa kalau begitu. Bukan marah. Kalau marah beda lagi. Biasanya akan mengeluarkan suara menyerupai suara ciuman (quick kiss)," ujar Sheila.

Sheila menjelaskan, Beta adalah indukan berumur 30 tahun. Sedangkan Bittang diperkirakan berusia 3 tahun. 

Orang Utan Tapanuli pada umumnya akan terus mengawasi anaknya hingga berusia 8-14 tahun. Dia masa itu juga, dia tidak akan kawin dengan lawan jenisnya. Sehingga reproduksinya cukup lama.

Selama menjaga anaknya, sang betina dewasa akan terus berupaya menjauhi jantan. Sang jantan bisa saja memaksa si betina untuk kawin. Memang, Orang Utan jantan lebih agresif. 

Hal ini juga yang membuat fase reproduksi Orang Utan menjadi cukup lama. Sehingga perkembangan populasinya juga sangat lambat.

Beta dan Bittang punya tingkah laku berbeda. Beta lebih pemalu ketimbang anaknya. Setiap kali kamera mengarah ke Beta, dia langsung berbalik badan. Berbeda 180 derajat, anaknya justru lebih narsis. Seakan ingin berpose ketika kamera menjepretnya. 

Sheila dan Ulil mencatat tingkah laku Beta dan Bittang setiap dua menit sekali. Mulai dari bangun, makan, bergerak, tidur, hingga buang air besar dan kecil. Semua lengkap. Tercatat dengan rapi.

Sheila yang merupakan alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, memang sedang melakukan penelitian yang berkaitan tentang tingkah pola Orang Utan Tapanuli. Sebab, memang ada perbedaan cukup kuat antara spesies Orang Utan Tapanuli, Sumatera, dan Kalimantan. 

Pukul 14.00 WIB, cuaca tidak bersahabat dengan kami. Hujan deras mengguyur hutan. Kami terpaksa membuat tenda darurat untuk berteduh. Letaknya tak jauh dari Beta Bittang.

Beta tampak kembali membuat sarang untuk berteduh dengan anaknya. Sekitar dua jam hujan membasahi tanah. Selama itu juga Beti dan Bittang berada di sarang. 

Selama pengamatan Sheila di harangan, Orang Utan Tapanuli yang betina lebih rajin membuat sarang. Sedangkan sang jantan lebih jarang. "Terkadang kalau hujan, yang jantan itu cuma duduk saja di dahan," katanya. 

Setelah keluar dari sarangnya, Beta dan Bittang kembali bergerak. Berpindah-pindah pohon sambil mengunyah dedaunan yang dilintasinya. 

Terkepung Industrialisasi, Orang Utan Tapanuli di Ambang Kepunahan
Bittang, anakan Orang Utan Tapanuli dengan lincah pindah dari satu ranting pohon ke ranting lainnya. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Hari mulai gelap. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB. Beta kembali membuat sarang. Di atas pohon Agathis setinggi sekitar 20 meter. 

Saat itu Beta dan Bittang memang membuat lebih cepat dari biasanya karena hujan. Jika hari cerah, Beta dan Bittang baru membuat sarang sekitar pukul 18.00 WIB. 

Sheila memasang sebuah pita merah di ranting pohon. Menandai tempat terakhir Beta dan Bittang bersarang. Dia juga menandai lokasi Beta dan Bittang di GPS-nya. Sehingga memudahkan peneliti di keesokan harinya. 

Biasanya mereka akan mengikuti individu orangutan selama 10 hari. Kemudian, mereka akan melanjutkan untuk meneliti lainnya. "Jadi kami juga tidak mau mereka terbiasa dengan manusia," katanya.

Selama riset di stasiun, ada 32 ekor Orang Utan yang sudah diberi nama. Kebanyakan menggunakan nama seperti orang Batak. Misalnya seperti, Tigos, Togos, Beta, Beti, Bittang, Gepor, Torop, Tiur, dan lainnya. Dari jumlah itu, ada 10 yang terhabituasi dan sudah tidak takut dengan kedatangan manusia. 

Kesimpulan awal penelitian Orang Utan Tapanuli menunjukkan, spesies primata (kera) besar itu adalah penyendiri. Setiap individu punya kawasan sendiri. Seperti Beta dan Bittang, dalam sehari mereka hanya menjelajah sekitar 300-500 meter. Berbeda dengan individu jantan yang punya kawasan lebih luas dan daya jelajah yang lebih jauh. 

Orang Utan Tapanuli punya waktu berkumpul dengan individu yang lain. Istilahnya disebut party. Biasanya mereka berkumpul saat musim buah. Saat itu juga sang jantan mencari betina untuk dikawini.

Individu Orang Utan juga punya perilaku yang sama seperti manusia. Misalnya saja, sang bayi bisa merengek saat dia tidak bisa melompat ke pohon lainnya. Kemudian sang ibu kembali menjemput dan membuatkan jembatan ranting. 

Orang Utan betina juga punya siklus menstruasi hingga menopouse. Masa hidup Orang Utan juga hampir sama dengan manusia. Antara 50-60 tahun. 

Saat ini habitat Orang Utan Tapanuli terbagi di beberapa lokasi. Di blok barat, blok timur, dan Cagar Alam Batu Dolok Sibualbuali di Selatan. Harangan Tapanuli sendiri berada di wilayah tiga Kabupaten. Yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. 

Data yang dirilis YEL menunjukkan, luas Hutan Batangtoru sekitar 150 ribu hektare. Dari total itu, hampir 142 ribu hektare merupakan hutan primer. Selebihnya sudah mulai terjadi deforestasi. Pembalakan liar dan pembukaan lahan sudah terjadi di beberapa kawasan. 

Terkepung Industrialisasi, Orang Utan Tapanuli di Ambang Kepunahan
Bittang tampak asyik bergelantungan di pohon. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Manajer Program YEL Batangtoru Burhanuddin menyebut, Hutan Batangtoru menyimpan keistimewaan flora dan fauna. Di dalam hutan masih hidup hewan liar seperti ular, beruang madu, tapir, baboon, kucing hutan, bahkan harimau sumatera.

Hutan Batangtoru juga punya tingkat kecuraman yang sangat tinggi. Kawasannya rata-rata berada di atas ketinggian 850 mdpl. Sedangkan puncak tertingginya berada di 1.909 mdpl. 

Hutan Batangtoru juga terbagi menurut ketinggiannya. Mulai dari hutan tropis di dataran rendah. Hingga hutan berlumut di dataran tinggi. Curah hujan di sana juga cukup tinggi.

Ekosistem Batangtoru juga merupakan hulu dari sembilan Daerah Aliran Sungai (DAS). Keberadaannya sangat penting untuk menjaga penataan air di DAS tersebut. Yang paling nyata adalah DAS Sipansihaporas, yang seluruh hulunya berada di Ekosistem Batang Tor. Lokasi itu menjadi sumber air untuk PLTA berkapasitas 50 MW.

Selain PLTA Sipansihaporas terdapat dua instalasi pembangkit listrik tenaga air di Aek Raisan, yang memanfaatkan aliran dari Ekosistem Batangtoru. "Ekosistem Batangtoru adalah hutan terakhir yang dimiliki Sumatera Utara," ucap lelaki yang akrab disapa Aan tersebut.

Lebih lanjut lagi, Aan juga mengkritisi dampak yang akan disebabkan industrialisasi di tengah ekosistem Batangtoru. Pasti akan mengancam.

Ada beberapa industri di sana. Seperti pertambangan dan pembangkitan listrik. 

Teranyar adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang sedang dibangun oleh salah satu investor dari luar negeri. Aan mengungkapkan, industri ini akan memutus koridor satwa di ekosistem Batangtoru. Sebab, letaknya berada di antara blok barat dan blok timur. "Khususnya Orang Utan. Karena letaknya juga dekat dengan cagar alam. Mulai dari Dolok Sipirok, Sibualbuali dan Lubuk Raya," ungkapnya. 

Pembangunan PLTA itu menghubungkan koridor wilayah antara tiga cagar alam dan ekosistem Batangtoru. Secara ekologis berarti tidak terjadi konektivitas antarblok itu. 

Dia dengan tegas menolak soal pembangunan PLTA tersebut. Sebab bisa mengancam kepunahan satwa yang ada di dalamnya. Khususnya Orang Utan Tapanuli yang menurut data YEL, populasinya saat ini kurang dari 800 ekor. "Kami berharap PLTA itu tidak dilanjutkan. Sebab akan terjadi fragmentasi habitat," tegas Aan.

(ce1/pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up