JawaPos Radar

Perjuangan Korban Gempa Palu Bertemu Keluarga

Tak Lelah Mencari, Anjas Tulis Nama Istri dan Anaknya di Kardus Bekas

05/10/2018, 08:20 WIB | Editor: Dida Tenola
Tak Lelah Mencari, Anjas Tulis Nama Istri dan Anaknya di Kardus Bekas
Seorang warga berjalan di tengah-tengah puing rumah yang hancur di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Senin (1/10) (Haritsah Almudatsir/ Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com- Banyak pengalaman yang didapat relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) selama terjun ke Sulawesi Tanggap Bencana. Salah satunya saat mereka bertemu dengan seorang lelaki bernama Anjas Firmansyah secara tak sengaja.

Setelah bencana berlalu, bukan berarti para korban yang selamat bisa hidup tenang. Apalagi mereka yang terpisah dengan keluarganya. Termasuk Anjas. Dia tidak berdiam diri. Setiap hari dia terus bergerak bertanya ke tim evakuasi, mendatangi rumah sakit, hingga ke beberapa tempat pengungsian.

Seperti yang diceritakan salah seorang relawan ACT, Nimas Afridha Aprilianti saat bertemu dengan Anjas. Anjas langsung menarik perhatian orang di sekitarnya. Betapa tidak, selembar sobekan kardus yang telah usang dikalungkan di lehernya. Di kardus itu tertulis nama istri dan anak keduanya. Warga Perumnas Balaroa, Kota Palu itu, memang masih berjuang mencari sanak keluarganya.

Tak Lelah Mencari, Anjas Tulis Nama Istri dan Anaknya di Kardus Bekas
Anjas Firmansyah menulis nama istri dan putranya di atas sobekan kardus agar memudahkan pencariannya. (Aksi Cepat Tanggap (ACT) for JawaPos.com)

Raut keletihan terpampang jelas di wajah Anjas. Tak terhitung berapa puluh kilometer jalan yang telah dilaluinya sambil menahan sakit. Hanya dengan mengandalkan kedua kakinya, Anjas mengaku telah berjalan dari rumahnya, keliling seisi kota, hingga akhirnya sampai di Rumah Sakit Anutapura. Di rumah sakit itulah, relawan ACT bertemu dengannya. “Saya mampir ke sini untuk mengambil obat, kaki saya sempat mendapat lima jahitan karena gempa. Sambil mencari tahu keberadaan istri dan anak saya. Saya yakin mereka masih hidup,” tutur Anjas, Kamis (4/10).

Sebelum gempa mengguncang, saat senjakala, istrinya sempat memberi tahunya. ”Dia bilang ada gempa di Donggala,” tambah Anjas.

Namun Anjas menganggapnya biasa. Dia memilih untuk mandi. Belum lama berada di dalam kamar mandi, Anjas merasakan guncangan yang sangat hebat. Seketika itu juga dia panik. Keluar kamar mandi. Tubuhnya hanya berbalut handuk.

Gempa berskala 7,4 SR itu memang benar-benar dahsyat. ”Saya lihat tanah terangkat. Ada masjid bergerak ke arah timur,” katanya lagi.

Anjas mencoba menyelamatkan diri ke atap. Sambil merangkak, dia berusaha mempertahankan posisinya. Kakinya bahkan sampai terjepit kayu-kayu atap yang hancur. Saat berusaha menyelamatkan diri, Anjas tidak melihat keluarganya.

Dia panik luar biasa. Sebagai kepala rumah tangga, Anjas merasa punya tanggung jawab untuk mencari keluarganya. Setelah beberapa meter bergerak, harapan itu muncul. Dia bertemu dengan anak sulungnya. Tangan anaknya langsung digandeng erat.

Keduanya kemudian bergerak ke timur. Tanah yang dipijaknya mengarah ke Jalan Kelor. Ada sekitar 20 orang yang juga berhasil bertahan. Mereka semua sekuat tenaga meraih segala benda untuk pegangan. Ada yang bertahan dengan sisa-sisa reruntuhan atap rumah, batang pohon, hingga saling bergandengan satu sama lain.

Perumnas Balaroa memang luluh lantak. Kerusakan perumahan padat penduduk itu mencapai 100 persen. Tanah amblas. Tanah terangkat, seperti sebuah buku yang dilipat tepat di halaman tengah. Semuanya porak poranda akibat likuefaksi atau hilangnya kekuatan tanah yang berubah menjadi lumpur akibat guncangan gempa.

”Saya juga minta orang-orang supaya cepat, soalnya saya lihat ada titik api di salah satu sudut perumnas. Khawatir api itu menjalar karena tiupan angin, apalagi hari semakin gelap,” ceritanya.

Setelah berhasil sampai di Jalan Kelor Anjas kembali mencari istri dan anak keduanya. Mereka hilang bersama rumah yang ditinggali. Walau hari sudah gelap, di tengah jaringan listrik yang terputus, Anjas tetap berusaha mencari anggota keluarganya.

Teriakannya menggema ke berbagai penjuru. “Atri, Fajar. Kalian di mana?” teriak Anjar memanggil nama istri dan putra bungsunya.

Malam itu, pasca gempa melanda, Anjas mengungsi di Terminal Pasar Lama. Anaknya sudah lelah berjalan.

Keesokan harinya, Anjas mengungsi di pelataran Hotel Buana. ”Setelah memastikan anak (pertama) saya aman, saya kembali keliling cari Atri dan Fajar,” lanjut Anjas.

Meskipun saat itu kondisi kakinya belum pulih, Anjas tetap tak patah arang berusaha menemukan istri dan anaknya.

Dia yakin masih ada keajaiban. Meskipun hati kecilnya juga tak bisa berbohong setelah menyaksikan betapa besarnya dampak bencana itu. Dia sudah pasrah. ”Saya akan terus cari mereka. Saya yakin mereka masih hidup. Mungkin diselamatkan orang lain dan dibawa ke pengungsian,” harapnya.

”Tapi andai tidak selamat, saya tetap menerimanya. Yang penting ketemu,” sambung Anjas.

(did/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up