JawaPos Radar

Survei LSI Denny JA

Jokowi Vs Prabowo, Siapa yang Paling Pro Pancasila?

04/10/2018, 23:33 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Jokowi dan Prabowo
Presiden Joko Widodo saat minum teh bersama Prabowo Subianto di Istana Negara. (jpnn/jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dalam kurun 13 tahun terakhir saja publik pro Pancasila menurun sebanyak 10 persen. Berbanding terbalik dengan publik pro khilafah yang bertambah 13,2 persen dalam kurun waktu yang sama.

Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar mengungkap dua figur yang dianggap paling konsisten memperjuangkan dan menajaga Pancasila lewat hasil riset terbarunya.

Hasilnya didapati diantara dua tokoh yang ditawarkan kepada responden, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap sosok sentral paling pancasilais dengan vote 65,8 persen. Disusul Prabowo Subianto 28,7 persen. Sedangkan 5,5 persen lainnya memilih tidak menjawab.

"Publik menilai Jokowi paling konsisten memperjuangkan dan mempertahankan Pancasila," ujar Rully di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (5/10).

Hasil tersebut tentu bertentangan dengan isu yang beredar selama ini, di mana Jokowi kerap kali diisukan sebagai pro Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun Rulky berpendapat isu tersebut hanya gosip belaka dan tidak ada bukti kuat untuk membuktikannya.

"Saya rasa isu PKI sudah selesai. Terbukti tidak ada fakta kuat dan korelasi antara Jokowi dengan anak PKI," jelasnya.

Lebih lanjut Rully menyebut jika isu PKI tidak efektif diangkat untuk memberikan citra buruk kepada Jokowi. Sebab rakyat belakangan lebih senang disuguhkan dengan program, serta janji yang ditepati.

"Dari hasil survei kita walaupun isu (PKI) itu dikeluarkan kembali nyatanya tidak pengaruh ke Jokowi dan PDIP. Rakyat tidak melihat isu primordial, tapi lebih ke program, janji apa saja yang diberikan dan apa saja yang sudah dilakukan," tukasnya.

Sebagai informasi, survei LSI ini dilakukan pada rentang waktu 14-22 September 2018. Diambil menggunakan metode multistage random sampling, dengan 1.200 responden. Wawancara dilakukan dengan tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of errornya sendiri 2,9 persen.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up