JawaPos Radar

Laporan Khusus Hari Satwa Sedunia (1)

Menjelajahi Harangan Batangtoru, Rumah Bagi Orang Utan Tapanuli

05/10/2018, 07:10 WIB | Editor: Dida Tenola
Menjelajahi Harangan Batangtoru, Rumah Bagi Orang Utan Tapanuli
Bittang (kiri) dan Beta nangkring di atas pohon yang berada di Harangan Batangtoru. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com– Orang Utan Tapanuli sempat menjadi primadona tahun lalu. November 2017, para peneliti mengumumkan satwa yang mempunyai nama ilimiah Pongo Tapanuliensis itu sebagai spesies baru di Sumatera Utara. Sayangnya, bersamaan dengan pengumumuman itu, Orang Utan Tapanuli justru terancam punah.

Prayugo Utomo- Medan

Mencari keberadaan Orang Utan Tapanuli memang tidak gampang. Beruntung saya punya kesempatan untuk menelusuri habitat spesies langkah itu. Jujur saja, rasa antusiasme saya membuncah.

Habitat Orang Utan Tapanuli berada di Harangan Batangtoru. Dalam Bahasa Batak, harangan artinya hutan. Selama ini rimbunnya Harangan Batangtoru memang masih menyimpan beribu tanya. Tak sedikit yang menanyakan bagaimana satwa penghuni hutan itu bisa bertahan di tengah gempuran industri.

Saya memulai perjalanan panjang ini pada 18 September lalu. Dari Bandara Kualanamu, saya terbang ke Tapanuli Tengah. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dengan pesawat. Kalau lewat jalur darat, bisa-bisa pinggang saya encok. Perjalanan darat dari Medan ke Tapanuli Tengah bisa sampai 12 jam.

Si burung besi yang saya tumpangi mendarat di Bandara FL Tobing sekitar pukul 13.00 WIB. Oh iya, dalam misi mencari si Orang Utan nan menggemaskan ini, saya berangkat bersama teman-teman dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan beberapa porter. YEL ini adalah salah satu lembaga yang concern terhadap pelestarian Orang Utan.

Sebelum benar-benar masuk ke alam bebas, saya singgah semalam di Kantor YEL Batangtoru. Lokasinya di Jalan Dangol Tobing, Tapanuli Tengah. Semalaman saya mengecek lagi perbekalan. Rasanya memang seperti mau berangkat perang. Semua harus dipersiapkan secara matang. Apalagi mau masuk hutan belantara.

Sejak berangkat dari Medan saya sudah bawa satu tas besar dan dua tas pinggang. Isinya macam-macam. Mulai dari logistik makanan, senter, kamera, sleeping bag, baju ganti, matras, jas hujan hingga plastik untuk membuang sampah. Di dalam hutan pasti nggak ada tempat sampah. Makanya saya siapkan kantong plastik untuk wadah sampah sementara.

Menjelajahi Harangan Batangtoru, Rumah Bagi Orang Utan Tapanuli
Beta dan Bittang nangkrin dengan santai di atas pohon. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Tak lupa juga sepatu bot yang tingginya nyaris selutut. Penting bawa sepatu bot, karena bisa jadi jalan yang akan kami lewati nantinya becek. Penuh lumpur. Bukannya jijik, paling tidak mobilitas kami nggak bakal terganggu.

Keesokan harinya, matahari sudah menyambut kami dengan ramah. Teriknya bersahabat. Tidak terlalu menyengat kulit. Sekitar pukul 10.00 WIB, tibalah kami di Desa Sait Nihuta Kalangan II, Kecamatan Tukka. Desa itu adalah gerbang masuk petualangan kami yang sesungguhnya.

Pintu rimba masih berada di kawasan Areal Peruntukan Lain (APL) Hutan. Sepanjang jalan setapak, kiri kanan mata memandang, perkebunan warga nan hijau benar-benar menyegarkan mata. Sebagian besar warga di sana menanam karet. Tapi kami juga bisa menemui tanaman lain. Mulai dari kopi, aren, hamijon (kemenyan, Red) dan cokelat.

Di kawasan APL saja, medan yang ditempuh lumayan berat. Belum lama berjalan, dengkul saya mau copot rasanya. Saya mendaki bukit, menuruni lembah. Jadi teringat lirik lagu Ninja Hattori.

Terkadang kami melewati sumber-sumber air yang mengalir ke hilir. Airnya masih jernih. Bahkan kami juga melewati kawasan, tempat para warga di sekitar hutan berburu kalong (kelelawar, Red).

Lagi enak-enaknya menyeka built keringat yang mengucur dari pelipis, tiba-tiba seorang porter nyeletuk.  "Masih banyak ular di sini bang," celetuk porter bernama Azuar.

Menjelajahi Harangan Batangtoru, Rumah Bagi Orang Utan Tapanuli
Bittang sedang menggigit daun muda Agathis Borneensis. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Alamak! Sontak saja suasana jadi sedikit horor. Terbayang kan kalau dari atas tiba-tiba ada ular yang menggelayut di ranting-ranting pohon. Atau tiba-tiba dari balik rerimbunan semak-semak, muncul ular Cobra yang siap menggigit.

Hiiii. . Pikiran saya sudah macam-macam saja waktu itu. Bisa copot jantung saya kalau beneran ada ular. Mana ada rumah sakit di tengah-tengah belantara?

Bismillah! Saya bersama teman-teman YEL dan beberapa poter lebih memperhatikan langkah. Dari kejauhan, masih terdengar suara siamang bersahutan. Disambut suara serangga yang juga ikut menemani perjalanan kami. "Ah, nyanyian hutan yang merdu," batinku.

Rute menuju camp yang akan kami tuju memang sudah ada. Sebab memang sudah banyak yang sering masuk ke dalam hutan. Mulai dari pembuat film, peneliti dan petugas research camp. Terkadang juga ada peneliti dari luar negeri yang masuk untuk meneliti keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan. "Kalau kami memang udah rutin masuk. Karena setiap minggu harus antar logistik ke camp," imbuh Azwar saat duduk beristirahat sejenak. 

Tak terasa sudah satu jam kami berjalan. Di depan kami, terdapat sebuah papan peringatan. Rupahnya kami sudah melangkah masuk ke dalam area hutan lindung. 

Jalur yang kami lewati semakin berat. Jalanan lebih menanjak. Lebih menurun terjal. Tak terhitung berapa kali kaki-kaki kami terjerembab masuk ke kubangan lumpur. Batangtoru adalah hutan hujan tropis dengan kadar kelembaban yang cukup tinggi. Sekarang tahu sendiri kan kenapa saya pakai sepatu bot!

Menjelajahi Harangan Batangtoru, Rumah Bagi Orang Utan Tapanuli
Pondok-pondok yang menjadi camp Stasiun Riset Batangtoru. (Prayugo Utomo/ JawaPos.com)

Kondisi Hutan Batangtoru masih sangat alami. Pepohonan masih sangat rapat. Bahkan kerapatannya membuat sinar matahari susah tembus. Hawa dingin langsung menusuk masuk. 

Sesekali sang porter mencabut golok dari pinggangnya. Ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan kami ditebas dengan ganas.

Setelah blusukan ke hutan selama enam jam, terlihat beberapa pondok-pondok di seberang sungai. Alhamdulillah, sampai juga kami di camp Stasiun Riset Batangtoru. 

Kami langsung disambut oleh beberapa staf YEL dan peneliti di sana. Koordinator Riset Stasiun Riset Batangtoru Sheila Kharismadewi Sitompul dengan supel menyapa kami. "Ah tiba juga kalian. Besok kita cari Orang Utan yah," sapa perempuan berambut panjang itu.

Kami dipersilakan untuk menempati pondok-pondok yang cukup nyaman untuk sekadar berteduh. Camp itu sangat sederhana. Jangan bayangkan bangunannya terbuat dari beton-beton kokoh. Dindingnya hanya berupa daun-daun rumbia. Atapnya cuma terpal berwarna biru.

Namun itu semua cukup untuk berlindung dari sengatan matahari maupun berteduh bila hujan deras menghujam bumi. Ada sekitar lima pondok di sana. Termasuk pondok ruang kerja dan dapur.

Saya tak menyia-nyiakannya. Duduk-duduk santai berkawan dengan keheningan alam, sambil menikmati senjakala. Syahdu benar suasananya.

Saat malam tiba, tidak ada gemerlap lampu-lampu seperti di kota. Sinar rembulan seolah menyala paling terang.

Asap mengepul dari dapur. Beberapa staf tampak sibuk meracik makan malam. Kesibukan mereka bertambah. Memang saat itu ada beberapa jurnalis dari stasiun televisi asing yang sudah hampir sebulan berada di dalam. Betah juga mereka memburu berita.

Selepas santap malam, saya kembali menghimpun energi untuk esok hari. Sebelum terlelap, lamunan saya menggantung pada wujud Orang Utan Tapanuli itu. Selama ini saya hanya sebatas mendapat informasi dari referensi beberapa artikel. Tak sabar rasanya ingin cepat bertemu mereka.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up