JawaPos Radar

Datangi Kantor Gubernur, Mahasiswa Papua Minta Premanisme Dihilangkan

04/10/2018, 19:45 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Aksi Premanisme
PREMANISME: Aksi mahasiswa Papua di Kantor Gubernur DIJ meminta premanisme dihilangkan dari Jogja. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ratusan mahasiswa dari Papua yang sedang tugas belajar di Jogjakarta mendatangi kantor Gubernur DIJ, Kamis (4/10). Mereka meminta agar premanisme yang ada, terutama yang melibatkan orang Papua agar diusut.

Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di DIJ mengatakan, sejak 10 tahun terakhir telah terjadi puluhan kasus yang melibatkan warga Papua di Jogjakarta. Namun hanya beberapa saja yang berhasil diusut oleh pihak kepolisian.

Semisal kasus 2010 silam yang menimpa seorang rekannya bernama Jessica Elsabeth. Ia diculik dari tempat kosnya, selang beberapa hari jenazahnya ditemukan di dekat rel kereta api.

Kemudian ada rekannya bernama Phaulus Petege yang menjadi korban pembacokan di titik nol kilometer Jogjakarta pada 2014. "Pelaku sampai kini juga belum terungkap," katanya, Kamis (4/10).

Kasus belum lama terjadi pada korban atas nama Kemis Murib. Ia ditusuk oleh seseorang pada 12 September di ST Bear, di daerah Seturan, Kabupaten Sleman. Kasus tersebut baru ada 1 pelaku yang ditangkap.

Kemudian pembacokan terhadap Rolando Nauw di Jalan Timoho pada 29 September lalu. "Kami sudah tidak nyaman. Besok kemungkinan ada lagi, itu yang kami takutkan. Basmikan premanisme itu," ucapnya.

Sementara itu, Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono X saat dimintai tanggapannya atas aksi itu, ia tidak tahu secara persis kasus mana yang dimaksudkan oleh mahasiswa asal Papua itu. Ia menyebut, sebelumnya mahasiswa Papua sudah berjanji untuk tidak berkelahi atau berbuat keributan.

"Saya nggak tahu persis. Terjadi korban kekerasan, sekarang ada kekerasan dia melakukan apa saya nggak tahu. Nanti saya undang Pak Sekda. Ya saya tanya dulu, saya nggak tahu masalahnya," ucapnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda DIJ, AKBP Yulianto saat dikonfirmasi mengatakan, pada prinsipnya seluruh laporan yang masuk di kepolisian diproses tanpa terkecuali. "Penganiayaan yang TKP Babarsari (Seturan) pelakunya sudah ditangkap, yang di Timoho juga sudah ditangkap. Semua laporan pasti ditindaklanjuti," pungkasnya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up