JawaPos Radar

Lilis Sudaryani, Mahasiswi Meninggal Usai Galang Dana Korban Sulteng

Diganjar Pahlawan Kemanusian

04/10/2018, 18:03 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Gempa sulawesi tengah, gempa palu, galang dana korban sulteng
Kondisi masjid Baiturr Rahman kota palu yang diterjang gempa dan Tsunami pada jumat lalu, Palu, Sulawesi tengah, Selasa (2/10/2018). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Batas usia seseorang memang sudah menjadi rahasia Tuhan. Bisa datang kapan saja tanpa ada pemberitahuan. Inilah yang dialami Lilis Sudaryani.

Usai menggalang dana untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), mahasiswi STAIM Mempawah itu meninggal dunia, Selasa (2/10). Kader Himpunan Mahasiswa (HMI) Cabang Mempawah ini mengalami kecelakaan di Desa Antibar usai aksi penggalangan dana di Kecamatan Sungai Pinyuh.

Formatur HMI Cabang Mempawah Muhammad Ali menjelaskan, almarhumah dikenal sosok yang ramah, santun, dan baik terhadap sesama. Dia juga begitu peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. “Beliau juga gigih dalam kegiatan kerja sosial,” ujarnya sebagaimana diberitakan Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Kamis (4/10).

Lilis Sudaryani, mahasiswi meninggal dunia, meninggal usai galang dana
Lilis Sudaryani semasa hidupnya sebelum meninggal dunia akibat kecelakaan di Desa Antibar, Mempawah Selasa (2/10). (Warga for Rakyat Kalbar/JPG)

Almarhumah merupakan mahasiswi semester 7 di Jurusan Tarbiyah STAIM Mempawah. Di kalangan kader HMI, Lilis juga sebagai tokoh pejuang. Dia terpilih sebagai formatur Kohati Cabang Mempawah yang baru digelar pada 16 September 2018. “Sejauh ini, almarhumah juga aktif sebagai pengurus DPD KNPI Mempawah,” ungkapnya.

HMI Mempawah akan memberikan penghargaan kepada Lilis sebagai Pahlawan Kemanusian. Karena wafat saat perjalanan pulang usai melakukan aksi penggalangan dana di Sungai Pinyuh untuk korban gempa bumi dan sunami Sulteng. “Kami akan berikan Almarhumah sebagai pahlawan kemanusiaan,” tutup Ali.

Sementara itu, korban gempa dan tsunami Sulteng mulai keluar dari daerah asalnya. Selain takut gempa susulan, mereka kekurangan pasokan makanan. Salah satu titik pengungsian adalah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Menurut informasi relawan kami di sana, pesawat yang menuju ke Palu dan sebaliknya membawa korban gempa Palu, sehingga Rumah Zakat membuka Posko di beberapa titik kedatangan pengungsian," ujar Branch Manager Rumah Zakat Kalbar, Asrul Putra Nanda ditemui Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group) di kantornya, Rabu (3/10)
.
Saat korban gempa tiba di Balikpapan, sebagian besar dari mereka belum makan dan minum. Sehingga pihak Rumah Zakat, aparat TNI dan seluruh pihak terkait lainnya segera melakukan tindakan yang dianggap perlu.

"Relawan Rumah Zakat di Balikpapan beserta pihak yang berwenang segera membangun Posko dan menyediakan makan serta minum untuk memulihkan kesehatan mereka,” tuturnya.

Sejak kemarin hingga hari ini, para korban terus mendapat suplai bantuan. Asrul berharap, masyarakat di Kota Pontianak tetap bersemangat untuk membantu korban gempa dan tsunami Sulteng. Terlepas dari apa yang beredar di media massa dan Medsos mengenai kekacauan di sana. "Mereka tetap saudara kita satu tanah air. Selayaknya kita bantu," pungkas Asrul.

(fab/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up