JawaPos Radar

Survei LSI: Kurun 13 Tahun, Pendukung NKRI Bersyariah Makin Banyak

04/10/2018, 16:22 WIB | Editor: Estu Suryowati
Survei LSI: Kurun 13 Tahun, Pendukung NKRI Bersyariah Makin Banyak
ILUSTRASI. Survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan responden pro ideologi Pancasila turun. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan temuan menarik soal pilihan ideologi responden. Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, jumlah responden pro NKRI bersyariah alias khilafah, angkanya naik signifikan.

Peneliti senior LSI Rully Akbar memaparkan, pada 2005, responden pro khilafah tercatat hanya kisaran 4,6 persen. Angka ini perlahan naik hingga mencapai 13,2 persen pada 2018.

Seiring dengan meningkatnya dukungan terhadap sistem khilafah, responden yang pro Pancasila menurun. Masih berdasarkan survei yang sama, responden pro Pancasila tercatat sebesar 75,3 persen pada 2018.

Angka ini turun cukup tajam dibandingkan kondisi 2005 yang mencapai 85,2 persen. Banyak responden khawatir terhadap perubahan dukungan ideologi ini.

"Sebanyak 72,6 persen responden khawatir, dukungan atas Pancasila menurun. Sebanyak 7,5 persennya mengaku tidak khawatir," kata Rully di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (4/10).

Mereka pun berharap, ideologi Pancasila sebagai dasar negara bisa kembali menguat. Ini untuk menjaga keutuhan NKRI agar terhindar dari segala jenis perpecahan.

"Hanya Pancasila yang membuat pulau-pulau atau provinsi tak ingin memisahkan diri. Pancasila terbukti merekatkan keberagaman di Indonesia," imbuh Rully.

Selain itu jika Pancasila terus melemah, maka responden juga khawatir akan lahirnya paham berlandaskan pada agama tertentu. Sehingga berujung pada terjadinya diskriminasi.

"Ketiga, responden khawatir bangkitnya sektarianisme. Dan Pancasila merupakan minitaur keberadaan keberagaman Indonesia," pungkas Rully.

Sebagai informasi, survei LSI ini dilakukan antara 14 hingga 22 September 2018. Diambil menggunakan metode multistage random sampling, survei melibatkan 1.200 responden. Wawancara dilakukan dengan tatap muka menggunakan kuesioner, dengan margin of error 2,9 persen.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up