JawaPos Radar

Didakwa Suap Eni dan Idrus Marham, Kotjo Terancam 5 Tahun Penjara

04/10/2018, 15:44 WIB | Editor: Kuswandi
Johannes Budisutrisno Kotjo
Johannes Budisutrisno Kotjo, usai menjalani pemeriksaan kasus yang melilitnya (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemegang saham Black Natural Resources Ltd Johannes Budi Sutrisno Kotjo didakwa memberi suap kepada Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih sebesar Rp 4,75 miliar dan janji kepada mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

"Uang tersebut diberikan dengan maksud agar Eni Maulani Saragih membantu terdakwa Johannes Kotjo untuk mendapatkan proyek independent power producer PLTU Mulut Tambang Riau-1," kata Jaksa KPK Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat dakwaan di PN Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (4/10).

Menurut Jaksa, Kotjo mendengar adanya rencana pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau-1. Untuk itu, Kotjo mencari investor yang mau melaksanakan proyek tersebut.

Akhirnya didapatlah perusahaan asal China yakni China Huadian Engineering Company, Ltd (CHEC, Ltd) dengan kesepakatan jika proyek tersebut berjalan, maka Kotjo mendapatkan fee sebesar 2,5 persen atau 25 juta dolar AS dari total nilai proyek yang ditaksir bernilai 900 juta dolar AS. Uang itu rencananya akan dibagi ke sejumlah pihak, salah satunya Setya Novanto sebesar 6 juta dolar AS.

Untuk itu, kemudian Kotjo melalui Direktur PT Samantaka Batubara Rudy Herlambang mengirim surat ke PT PLN yang intinya meminta agar PLN memasukkan proyek PLTU MT Riau-1 ke dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PT PLN (Persero). Namun, rupanya tak ada tanggapan dari PLN.

Akhirnya, pada awal 2016 Kotjo menemui Setya Novanto meminta untuk dipertemukan dengan pihak PLN. Setnov yang saat itu menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar kemudian memperkenalkan Kotjo ke Eni Maulani Saragih yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

Setnov kemudian meminta Eni untuk membantu Kotjo memuluskan niatnya. Setnov pun menyebut akan ada fee untuk Eni jika menyanggupi permintaan tersebut.

Pada awal 2017, Eni kemudian memperkenalkan Kotjo dengan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir di Kantor Pusat PLN, dan menyampaikan niat Kotjo untuk menggarap proyek PLTU MT Riau-1. Sofyan pun mempersilakan Kotjo untuk berkoordinasi dengan Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN (Persero) Supangkat Iwan Santoso.

Pertemuan antara mereka berempat terus terjadi sepanjang 2017. Supangkat menjelaskan mekanisme pembangunan IPP kepada Kotjo. Ia pun menyanggupi. Masih pada tahun 2017 di lounge Bank BRI, Sofyan Basir menyampaikan bahwa Kotjo akan mendapat proyek PLTU MT Riau-1 dengan skema penunjukan langsung.

"Tetapi PT PJB harus memiliki saham perusahaan konsorsium minimal sebesar 51 persen," tutur Jaksa.

Akhirnya, pada 14 September 2017 di Kantor Pusat PLN dilakukan penandatanganan kontrak induk yang intinya mengatakan pihak-pihak yang terlibat akan bekerja sama dalam bentuk konsorsium untuk mengerjakan proyek pembangunan PLTU MT Riau-1.

Pihak yang menandatangani kontrak tersebut adalah Direktur Utama PT Pembangkit Jawa Bali Iwan Agung Firstantara, Direktur Utama PT PLN Batubara Suwarno, perwakilan CHEC, Ltd Wang Kun, CEO PT Blackgold Rickard Philip Cecile, dan Dirut PT Samantaka Batubara Rudy Herlambang.

Di tengah pengaturan proyek yang berlokasi di Indragiri Hulu, Riau tersebut, rupanya Setya Novanto diringkus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus KTP elektronik.

Selanjutnya, Eni Saragih melaporkan perkembangan proyek PLTU MT Riau-1 ke Idrus Marham yang kala itu menjadi Plt Ketua Umum Golkar. Salah satunya termasuk soal fee 2,5 persen yang akan ia terima dari Kotjo.

Pada 15 Desember 2017 Eni dan Idrus menemui Kotjo di kantornya di Graha BIP Jakarta. Di sana, Kotjo menegaskan soal fee untuk Eni. Selanjutnya, Eni selaku Bendahara Munaslub Golkar meminta sejumlah uang kepada Kotjo untuk penyelenggaraan Munaslub. Guna meyakinkan Kotjo, Idrus Marham menyampaikan "Tolong dibantu ya."

Kotjo pun menyanggupi permintaan itu. Atas permintaan itu, kemudian Kotjo meminta sekretarisnya, Audrey Ratna Justianty untuk memberikan sebesar Rp4 miliar kepada Eni. Uang itu diserahkan secara bertahap pada 18 Desember 2017 sebesar Rp2 miliar dan 14 Maret 2018 sebesar Rp2 miliar.

Kemudian, Eni kembali meminta uang ke Kotjo sebesar Rp10 miliar, tapi Kotjo keberatan. Karenanya, pada 5 Juni 2018 Eni mendatangi Kotjo di kantornya dengan membawa Idrus. "Tolong adik saya ini dibantu buat Pilkada," kata Idrus saat itu.

Namun, rupanya Kotjo masih bergeming, pada 8 Juni, Idrus mengontak Kotjo via Whatsapp guna menegaskan permintaannya tempo hari. Akhirnya, Kotjo menyerahkan uang Rp250 juta ke Eni melalui orang dekat Eni, Tahta Maharaya.

Pada 10 Juli, Eni kembali mendatangi kantor Kotjo dan meminta Rp500 juta. Permintaan itu baru direalisasikan 3 hari kemudian dengan memberikannya kepada Tahta Maharaya. Namun sayang, saat itu keduanya langsung diringkus oleh penyidik KPK.

"Terdakwa seluruhnya memberikan uang seluruhnya sejumlah R 4,75 miliar kepada Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," jelas jaksa.

Atas perbuatannya ini, Kotjo didakwa telah melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up