JawaPos Radar

Dianggap Paling Perjuangkan Pancasila

PDIP Dinilai Berpotensi Jadi Partai Adikuasa

04/10/2018, 15:01 WIB | Editor: Kuswandi
Megawati
Megawati Soekarno Putri saat memberikan dalam sebuah acara beberapa waktu lalu (Imam Husein/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Partai politik mendapat persepsi negatif dari masyarakat, terutama dalam kategori tingkat kepercayaan. Namun dalam rilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terbaru, publik merindukan lahirnya partai politik yang kuat untuk membangun Indonesia.

Peneliti Senior LSI, Rully Akbar mengatakan sejumlah partai di Indonesia masuk dalam nominasi menjadi partai terkuat di Indonesia. Yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 37,4 persen.

Partai Golkar 16,7 persen, Partai Gerindra dengan dukungan 14,8 persen, Partai Demokrat 9,8 persen, serta 9,2 persennya merupakan gabungan dari seluruh partai di luar partai di atas. Sedangkan 12,1 responden memilih tidak menjawab.

"Publik menilai PDIP menjadi partai paling berpotensi menjadi partai kuat dengan dukungan responden 37,4 persen," ujar Rully di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (5/10).

Rully menjelaskan setidaknya ada faktor utama yang menyebabkan PDIP bisa menjadi partai adikuasa di Indonesia. Pertama yakni terkait sejarah dari partai itu. Partai berlambang banteng tersebut menjadi satu-satunya partai sejak era reformasi yang pernah mendapat raihan suara di atas 30 persen.

"Satu-satunya partai sejak era reformasi yang pernah dipilih di atas 30 persen. Yaitu saat Pileg 1999 PDIP mendapat dukungan 33,7 persen," jelasnya.

Adapula faktor lain, mayoritas masyarakat percaya bahwa PDIP merupakan partai yang konsisten memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu sosok kepemimpinan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum menjadi faktor ketiganya.

"PDIP dianggap konsisten memperjuangkan Pancasila sebanyak 32,6 persen. Ketiga kuatnya leadership ketua umum 24,7," pungkas Rully.

Sebagai informasi, survei LSI ini dilakukan pada rentang waktu 14-22 September 2018. Diambil menggunakan metode multistage random sampling, dengan 1.200 responden. Wawancara dilakukan dengan tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of errornya sendiri 2,9 persen.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up