JawaPos Radar

114 Anak di Kepri Terpapar Rubela

04/10/2018, 14:02 WIB | Editor: Ilham Safutra
114 Anak di Kepri Terpapar Rubela
Seorang anak menangis saat diberikan imunisasi Measleas Rubela (MR) oleh petugas Puskesmas Telanaipura, Kota Jambi baru-baru ini. (Ryan Syaputra / Jambi Independent)
Share this image

JawaPos.com - Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) termasuk salah satu daerah yang rendah cakupan imunisasi measles-rubella (MR) tahap dua. Akibat tidak maksimalnya imunisasi itu, hal itu berdampak pada kesehatan anak-anak di sana. Dinas Kepri mencatat setidaknya ada 114 anak yang terkena rubela.

Anak-anak tersebut berada di kabupaten/kota se-Kepri. "Itu untuk jumlah yang dilaporkan. Kalau yang tak terlaporkan, saya yakin jumlahnya lebih banyak," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tjejep Yudiana kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).

Tjejep menambahkan, bahkan saat rapat kami dengan jajarannya di Tanjungpinang, tiap satu RW, rata-rata ada dua sampai tiga anak yang terkena rubela. "Tapi, orang tuanya enggan melapor ke dinkes karena mereka tak mau anaknya sampai terpublikasi terkena rubela," terangnya.

114 Anak di Kepri Terpapar Rubela
Infografis cakupan Imunisasi MR fase II (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Berdasar data di Dinkes Kepri, jumlah terbanyak di Batam. Hanya, Tjejep menyebut tidak hafal jumlah pastinya. Menurut dia, penderita tersebut baru ketahuan setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Sedangkan jumlah yang keguguran atau telanjur cacat dan tidak diperiksakan tidak terdeteksi.

Dengan fakta itu, Pemprov Kepri pun kembali menggalakkan imunisasi MR. Bahkan, pemberian imunisasi diperpanjang hingga 31 Oktober 2018. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mengimunisasikan anaknya, dinkes terus gencar menggelar pertemuan dengan beberapa pihak. Misalnya, dengan tokoh masyarkat, kepala sekolah, MUI, dan tokoh-tokoh agama.

"Kendala terbesar dan paling sulit itu adalah sudah telanjurnya masyarakat terbentuk opini bahwa pemberian imunisasi atau vaksin MR ke anak itu haram," ujar Tjejep. Karena itu, sosialisasi dan pendekatan terus dijalankan. Dengan demikian, persepsi masyarakat berubah dan mereka mau anak-anaknya mendapat imunisasi MR.

"Kalau masyarakat kurang yakin dengan ganasnya virus rubela yang menjangkiti anak-anak, saya sarankan masyarakat datanglah ke SLB," ujarnya. Bagi yang terjangkit, virus rubela berdampak kebutaan, bisu, dan tuli. "Dampak lainnya, perkembangan tubuhnya tak normal atau cebol hingga ke kematian," imbuhnya. 

(gas/JPG/c10/fim)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up