JawaPos Radar

Fatwa MUI soal Jenazah Korban Gempa dan Tsunami di Sulteng

04/10/2018, 13:13 WIB | Editor: Ilham Safutra
Fatwa MUI soal Jenazah Korban Gempa dan Tsunami di Sulteng
Petugas menurunkan jenazah korban gempa tsunami Palu untuk dimakamkan di Poboya, Mantikulore, Palu, Senin (1/10). Sebanyak 18 jenazah dimakamkan secara bersamaan, dan dilakukan secara bertahap. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Proses penanggulangan bencana di Palu dan sekitarnya tidak hanya berfokus pada korban selamat saja. Tetapi juga nasib jenazah yang mulai membusuk. Jenazah tersebut hingga kini masih banyak yang belum dimakamkan.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi menuturkan, MUI banyak menerima pertanyaan bagaimana mengurus jenazah dalam kondisi darurat. "Misalnya korban bencana alam seperti yang terjadi di Palu dan sekitarnya," katanya di Jakarta Kamis (4/10).

Lantas, jelasnya, secara rinci ketentuan atau fatwa tentang pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) dalam kondisi darurat. Dalam kondisi normal, jenazah atau mayat wajib dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan. Semua ketentuan ini telah diatur dalam syariat Islam.

Fatwa MUI soal Jenazah Korban Gempa dan Tsunami di Sulteng
Tim SAR terus mencari korban yang belum terselamatkan dari reruntuhan gempa dan tsunami di Sulteng. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Namun dalam keadaan darurat, memungkinkan pengurusan jenazah tidak bisa memenuhi ketentuan tadi. Untuk ketentuan jenazah wajib dimandikan, misalnya, jenazah boleh tidak dimandikan. "Apabila memungkinkan sebaiknya diguyur sebelum penguburan," jelasnya.

Selain itu dalam keadaan darurat jenazah juga tidak wajib dikafani. Kain, baju yang menempel, atau kantong mayat bisa menggantikan kain kafan. Meskipun kain, baju, atau kantong mayat itu terkena najis. Kemudian salat jenazah boleh dilakukan setelah jenazah dikubur. Ataupun melalui cara salat ghaib.

Lantas untuk urusan penguburan jenazah dalam keadaan darurat, di fatwa MUI ini ada beberapa ketentuan. Pertama jenazah korban wajib segera dikuburkan. Kedua jenazah boleh dikuburkan dalam kondisi masal dengan jumlah tidak terbatas. Penguburan masal juga tidak harus dihadapkan ke arah kiblat.

Penguburan secara masal tersebut juga diperbolehkan tanpa memisahkan jenazah perempuan dan laki-laki. Begitu pula tanpa harus memisahkan jenazah umat muslim atau non-muslim. Jenazah juga boleh langsung dikuburkan di tempat jenazah ditemukan.

(wan/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 04/10/2018, 13:13 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 04/10/2018, 13:13 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 04/10/2018, 13:13 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 04/10/2018, 13:13 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 04/10/2018, 13:13 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 04/10/2018, 13:13 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 04/10/2018, 13:13 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up