JawaPos Radar

Kabut Asap Selimuti Sumsel

04/10/2018, 11:58 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Kabut Asap
Kondisi kabut asap di Sumsel. (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (kahutla) melalui jalur udara telah dihentikan sejak 30 September lalu. Ini berdampak meningkatnya titik panas serta kabut asap di Kota Palembang. Di Sumsel, setidaknya ada 50 titik panas yang terpantau dan kabut asap mulai menyelimuti sejak Rabu (3/10) malam.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengakui hal tersebut. Menurutnya, sejak beberapa hari terakhir titik panas selalu meningkat dikarenakan sumber air yang mengering. Akses menuju titik api juga sulit. Ditambah lagi adanya penghentian operasi udara atau waterboombing karena akan dievaluasi BNBP.

"Titik panas ini tersebar di Kabupaten Ogan Ilir, OKI, Banyuasin, Muba, Muara Enim, OKU, OKU Selatan dan Musirawas," kata Ansori saat dihubungi, Kamis (4/9).

Berdasarkan evaluasi BNBP, operasional helikopter untuk penanganan karhutla hanya sebatas 300 jam. Artinya, helikopter yang waktu terbangnya telah mencapai batasan tersebut harus diistirahatkan.

Sedangkan helikopter yang belum mencapai batas operasional, maka dapat melanjutkan proses pemadaman. Hal ini berbeda dengan Kalimantan Selatan yang operasi helikopternya tetap berjalan.

"Saat ini ada 10 helikopter untuk waterboombing. 6 Di antaranya belum mencapai batasan waktu. Artinya masih dapat digunakan untuk Sumsel. Sedangkan empat pesawat lagi distandbykan di BPBD," terang Ansori.

Terkait dampak kabut asap, Ansori menyebutkan bukan hanya berasal dari karhutla. Melainkan asap akumulasi keseluruhan atau radiasi. "Jadi bukan dampak karhutla," singkatnya.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang Nandang Pangaribowo menjelaskan, udara kabur atau haze merupakan kabut radiasi akibat campuran debu, asap kendaraan bermotor, asap limbah rumah tangga, dan asap karhutlah.

Asap tersebut terakumulasi bercampur naik hingga udara atas. Biasanya asap turun pada malam hari hingga dini hari. Terlebih lagi sejak 10 hari terakhir, Palembang dan sekitar belum mendapatkan curah hujan di atas 50 mm. Sehingga proses akumulasi asap gampang terjadi. "Tapi nilai ISPU kami sedang. Yakni, 50-150 Mikron/gram. Artinya masih normal," tutupnya.

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up