JawaPos Radar

Psikolog: Trauma Korban Gempa Berbeda, dari Ringan Hingga Halusinasi

04/10/2018, 11:55 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
korban gempa, trauma korban gempa, penanganan korban gempa,
Warga mengambil bahan makan di gerai-gerai minimarket di Palu, Sulawesi Tengah. (Haritsah Almudatsir/Fajar/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Korban terus berjatuhan akibat tragedi gempa disertai tsunami di Palu dan Donggala, Silawesi Tengah. Masih banyak korban yang mengungsi dan mencari sanak keluarganya yang hilang. Rentetan kejadian bencana tersebut tentu menimbulkan trauma.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan level trauma seseorang tentu berbeda, antara individu yang satu dan yang lain berbeda. "Efeknya berbeda pada setiap orang. Misalnya stress level yang lebih rendah ditandai napas yang lebih lapang dan lainnya. Tergantung musibah yang dialami seperti apa," katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Liza menjelaskan yang membuat trauma bukan hanya skala bencana besar kecilnya yang telah terjadi, tetapi juga berapa kali bencana itu terjadi. Para korban dan siapapun individu tentu akan merasa lelah jika bencana terus menerus terjadi.

"Yang membuat complicated itu bencana yang beruntun, terus-terusan. Bencana maraton itu membuat lelah. Ibarat luka belum kering, ditimpa lagi bencana. Misalnya waktu di Lombok kan sempat ada jeda seminggu lalu ada lagi gempa lain, begitu juga di Palu dan Donggala kalau terus menerus maka bisa membuat lelah," papar Liza.

Maka skalanya trauma yang timbul akibat gempa bisa ringan hingga berhalusinasi. "Beda-beda ya. Ada yang sampai berhalusinasi dengan ada goyangan saja dikira gempa. Ada yang sensitif terhadap gerakan atau suara," katanya.

Efek trauma pada korban yang kehilangan keluarganya juga berbeda. Liza menjelaskan hal itu tergantung kekuatan mental dan spiritual seseorang.

"Ada yang spiritualnya kuat, maka ikhlas dan pasrah serahkan semuanya ke Tuhan. Tapi ada yang sangat sulit menerima kejadian ini. Bisa 2-3 bulan masih terus berlanjut traumanya," tutur Liza.

Liza pun akan berangkat tanggal 5 Oktober 2018 ke lokasi gempa dan tsunami di Palu dan Donggala bersama komunitas Sekolah Relawan. Liza akan berperan memberikan konseling dan trauma healing kepada para korban gempa.

"Kapan trauma healing usai bencana? Bahhkan saya berangkat tanggal 5 berikan trauma healing. Ajak anak-anak bermain, terapi relaksasi, mengobrol, pelepasan energi, hingga bersama tim lainnya untuk recovery para korban," tutup Liza.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up