JawaPos Radar

Mereka Korban, Mereka Menolong (1)

Sibuk Evakuasi sampai Tak Tahu Ibu, Kakak, dan Adik Selamat

'Dia Pahlawan Tak Dikenal'

04/10/2018, 12:10 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sibuk Evakuasi sampai Tak Tahu Ibu, Kakak, dan Adik Selamat
UNTUK SESAMA: Edi Setiawan di Mpanau, Sigi, kemarin. (EDI SUSILO/JAWA POS)
Share this image

Evakuasi pertama dilakukan Edi Setiawan tak lama setelah mendapati sang ayah meninggal. Berkomitmen membantu sampai semua warga desanya bisa ditemukan.

EDI SUSILO, Palu

Sibuk Evakuasi sampai Tak Tahu Ibu, Kakak, dan Adik Selamat
Rumah warga di Donggala Utara porak-poranda usai digoncang gempa 7,4 SR. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

---

DI rumah yang sebagian telah terendam lumpur itu, hati Edi Setiawan remuk redam. Sang ayah, Suryansyah, dan adiknya, The Friska Saskia, dia temukan tergolek berpelukan.

Sama-sama tak bernyawa.

Guncangan gempa Jumat lalu (28/9) telah merobohkan rumah di Desa Mpanau, Sigi, Sulawesi Tengah, tersebut. Juga, memicu proses likuefaksi yang berbuntut tersemburkannya material bawah tanah ke permukaan.

"Saya shock, nggak kuat melihat ayah dan adik saya," kenangnya ketika ditemui Jawa Pos kemarin (3/9).

Apalagi, hingga Sabtu lalu itu (29/9) atau sehari setelah gempa, dia juga tak tahu bagaimana nasib ibu, kakak, dan adiknya yang lain. Di mana mereka? Selamatkah mereka?

Di tengah kedukaan mendalam itu, tiba-tiba dia mendengar teriakan minta tolong. Tak jauh darinya tampak seorang pemuda yang sudah terendam lumpur sampai seleher.

Dengan segera Edi melompat dari rumah yang dia tinggali bersama ayah, ibu, dan para adik tersebut. Lantas, mengambil kabel listrik yang telah terputus diterjang ombak. "Langsung saya lemparkan ke orang itu," tutur pria 32 tahun tersebut.

Sayang, saat tali sudah terlempar, orang itu tetap tidak tertarik. Dia terlalu lemas dengan tangan patah.

Edi lantas meminta pemuda itu melilitkan kabel listrik ke perut. Dan, langsung dia tarik perlahan kabel tersebut. Sampai pemuda itu akhirnya bisa diselematkan.

Di Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong hari-hari ini, Edi hanyalah satu di antara sekian banyak "pahlawan tak dikenal". Mereka yang sebenarnya juga jadi korban guncangan gempa dan terjangan tsunami. Kehilangan harta benda dan orang-orang tercinta. Tapi, tetap mengerahkan segala tenaga untuk menolong korban lain.

Tak lama setelah menyelamatkan pemuda tadi, kembali terdengar suara minta tolong. Kali ini seorang pria yang sudah agak sepuh. Yang juga tenggelam oleh lumpur.

Untuk menyelamatkannya, Edi menggunakan cara sama. Melemparkan kabel listrik. Menarik korban langsung ke tepi.

Edi selamat dari bencana karena pada Jumat nahas lalu itu, sebelum gempa pertama dirasakan, dia sedang berkunjung ke ladang tomat milik kawannya. Di Desa Sidera, Sigi. Dia memboncengkan Jiane Tarias (sang istri) dan tiga putri saat itu untuk pulang. Nah, dalam perjalanan pulang, mereka merasakan langsung guncanag gempa.

Motor yang dikendarai Edi sampai oleng. Hampir tersungkur. Edi pun lantas berhenti menepi di Desa Loru. Memerintah istrinya untuk tetap tinggal di desa itu bersama tiga putri mereka. Edi menitipkan keluarganya bersama orang-orang yang mulai panik ke luar rumah. "Pokoknya, saya minta istri untuk ikut warga dulu," tuturnya.

Edi kemudiam tancap gas menuju rumah orang tuanya di Mpanau. Desa itu berbatasan dengan Petobo, kampung yang berada di bagian selatan Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.

Saat sampai ke desanya, dia sangat kaget. Sebab, kondisinya telah hancur dilumat lumpur.

Tanah bergerak naik turun. Melumat dinding semen rumah. Sangat aneh. Dampak dari likuefaksi itu juga terjadi di Petobo.

Edi pun langsung mengajak warga desa yang selamat mencari keluarga atau tetangga yang hilang. Mantan karyawan honorer Pemprov Sulawesi Tengah itu pun berinisiatif membuat lokasi penyisiran berdasar area.

Jika sudah menemukan korban, warga yang mencari bisa menyampaikan ke semua yang bergerak. Untuk membantu mengangkat korban. Tapi, jika saat ditemukan lokasinya sulit, diminta memasang penanda di atas area penemuan. Berupa patok kayu dengan bendera putih.

Hasilnya, sehari setelah gempa, dia berhasil mengevakuasi delapan jenazah. Sementara hari berikutnya berhasil mengangkat empat orang. Di hari ketiga dua orang. "Ayah dan adik saya ditemukan hari kedua," jelasnya.

Dia bekerja siang-malam. Di Mpnau dan Petobo, Edi mengaku sudah mengangkut total 14 korban meninggal. Yang terjebak di rumah dan genangan lumpur.

Masing-masing dilalui lewat proses yang tak mudah. Kakinya, misalnya, sering menginjak paku rumah yang menganga. Belum lagi harus menahan bau mayat yang sudah membusuk karena sudah lebih dari 24 jam tidak dievakuasi.

"Ini kaki saya masih pincang karena tertusuk paku di lokasi pencarian," terangnya.

Saking sibuknya, dia pun baru bisa menemukan sang ibu, kakak, dan dua adiknya setelah tiga hari gempa berlangsung. "Saya baru tahu mereka juga selamat ketika mencari di tempat pengungsian," jelasnya. Tapi, Edi belum akan berhenti. Kepada Jawa Pos yang menemuinya di Mpanau kemarin, dia menunjuk gundukan lumpur seluas lebih dari 2 hektare. Banyak tanda mayat yang membusuk di sana.

Dia akan bergabung dengan tim Basarnas untuk mengevakuasi jenazah-jenazah tersebut. "Saya akan membantu sampai warga desa ditemukan semua," tutur lelaki yang setia mengenakan ikat kepala dari kain hijab sang istri itu. 

(*/c10/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up