JawaPos Radar

Derita Korban Gempa dan Tsunami di Palu

Pulang Tak Punya Ongkos, Harta Benda Tinggal Pakaian yang Menempel

04/10/2018, 08:02 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pengungsi Gempa di Palu
PENGUNGSI: 175 pengungsi dari Palu tiba di terminal 2 bandara internasional Juanda, Rabu (3/10) sekitar pukul 19.50 WIB. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebanyak 175 pengungsi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah tiba pukul 19.10 WIB di terminal 1 bandara internasional Juanda. Mereka tiba di bandara dengan menumpang pesawat Hercules A 1337 milik TNI AU pada Rabu (3/10) kemarin,

Sejak mendarat, anggota TNI AU dan Lanudal Juanda mendata semua pengungsi. Mulai pukul 20.00 WIB semua pengungsi berangsur-angsur pergi meninggalkan bandara. Ada yang dijemput keluarganya di Solo, Tuban, dan Lamongan. 

Namun, sebanyak 20 orang pengungsi terpaksa menginap semalam di Wisma Bhaskara Juanda di Jalan Raya Juanda, Semambung, Gedangan, Sidoarjo. Mereka terpaksa menginap karena tidak punya keluarga di Jawa Timur atau tidak punya ongkos pulang ke daerahnya. 

Pengungsi Gempa di Palu
Joko terpaksa menginap di Wisma Bhaskara karena tak punya sanak saudara di Jawa Timur. Dia hanya berharap dapat pulang ke daerah asalnya di Boyolali, Jawa Tengah. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)

Mereka menginap dan tidur beralaskan karpet merah di aula atau ruang tengah wisma sejak pukul 21.00 WIB. Beberapa pengungsi langsung tertidur. Namun, ada juga sebagian dari 20 pengungsi itu yang masih bangun. 

Masih tampak raut wajah lelah dan lesu. Maklum, selama perjalanan menumpangi pesawat Hercules, tak ada kata nyaman seperti pesawat komersil. Bagaimana tidak, mereka berjubel dengan 155 pengungsi lain yang juga ikut menumpang di pesawat tersebut. 

JawaPos.com sempat berbincang dengan salah satu pengungsi yang kebetulan masih terbangun. Namanya, Joko Waluyo, 34. Dia adalah perantauan asal Boyolali, Jawa Tengah. 

Di Palu, Joko tinggal dan bekerja sebagai pemasok jajanan pasar di Jalan Jabal Rahma, Kecamatan Mantekolore Kelurahan Talise. Namun, sama seperti pengungsi lain, dirinya terpaksa menginap semalam karena tak punya keluarga di Jawa Timur. 

"Saya juga nggak tahu akan diarahkan ke mana oleh TNI. Saya juga belum tahu kalau akan diantar ke Terminal Purabaya," kata Joko saat ditemui JawaPos.com di Wisma Bhaskara Juanda, Kamis (4/10). 

Joko dan 19 pengungsi lain memang berhasil mengungsi hingga ke Sidoarjo. Namun, tak ada satupun yang tersisa dari dirinya. Mulai pakaian seadanya, hingga sedikit makanan sisa yang sempat dibawanya dari Palu. 

Sisanya, hanya sejuta kisah pilu yang dapat dibaginya selama 4 hari bertahan dari amukan beberapa gempa susulan berkekuatan diatas 6 SR sejak Jumat lalu (28/9). Joko pun masih berkenan membagi kisahnya kepada JawaPos.com. 

Katanya, gempa pertama kali sudah terjadi seminggu sebelumnya (22/9). Namun, lanjutnya, dia mendapat informasi jika gempa tersebut hanya berkekuatan 6 SR. Joko mengaku merasakan getaran. 

Hanya tidak sampai menimbulkan kerusakan yang sangat parah. Hingga pada saat gempa terparah berkekuatan 7,4 SR yang disertai tsunami seminggu kemudian. Katanya, gempa terjadi mulai pukul 17.55 WITA. 

Kekuatannya sangat dahsyat hingga merobohkan separuh rumahnya. Sebab, posisi dapur dan kamar mandi rumahnya berada di pinggir tebing. Padahal, saat itu, Joko mengaku sedang mandi. 

Beruntung, saat kamar mandi di rumahnya akan rubuh, Joko masih sempat menyelamatkan diri. Meski harus telanjang bulat saat berusaha keluar dari rumahnya. 

"Saya terpaksa keluar rumah dengan keadaan telanjang. Beruntung, saat keluar rumah, saya masih sempat membantu anak bungsu, kakak, dan istri saya keluar rumah," tutur Joko. 

Beberapa jam setelah musibah itu, dia mendengar sirene tanda bahaya gempa. Joko pun lalu berlari ke bukit yang tak jauh dari rumahnya. Katanya, sirene itu tidak hanya pemberitahuan gempa. Tapi juga pertanda ada tsunami. 

Nahas, Joko terpisah dari putranya. Putra sulungnya yang bernama Riki Pratama, 10, tidak berada di rumah saat gempa terjadi. Katanya, saat gempa terjadi, Riki sedang mengaji. 

Dia juga tidak sempat mencari Riki selama seharian karena kondisi tanah dan jalanan yang ambles hingga 10 meter. Namun, nasib mujur kembali berpihak padanya. 

Sehari kemudian (29/9), ada seorang tetangganya yang juga berusaha menyelamatkan diri bersama Riki. Hanya saja, dia tidak melihat ada teman atau tetangga lainnya. Dia sempat mendengar kabar jika beberapa kawannya sudah tewas tergulung ombak tsunami. 

"Rumah saya roboh. Hancur. Beberapa teman saya hilang tergulung tsunami. Ada juga beberapa jenazah tetangga saya belum ditemukan. Kalau pun ada, pasti tidak dapat dikenali," tuturnya. 

Joko sudah berkumpul dengan keluarganya. Namun, karena sudah hancur, Joko terpaksa berusaha survive di halaman depan rumahnya. Soal pasokan makanan dan minuman, beberapa kali Joko mencoba mengais dari reruntuhan rumahnya. 

Perkara air minum, masih tak menjadi masalah bagi Joko. Katanya, pasokan air bersih masih tersedia. Dia dapat air dari bantuan para relawan dan tetangganya yang kebetulan mendapat jatah bantuan pangan. 

"Kalau air masih mudah didapat. Tapi, makanan itu yang sulit. Beruntung, saya selalu menyimpan persediaan beras di ruang depan rumah. Karena yang roboh hanya bagian belakang rumah, saya masih bisa cari sisa makanan di rumah," katanya. 

Upaya survive masih berlanjut. Karena bantuan tak kunjung datang, Joko terpaksa mencari bahan makanan di tempat lain selama bertahan di halaman rumahnya. Berbekal sepeda motornya yang masih utuh, Joko mencari bantuan makanan. 

"Soal penjarahan di Alfamidi, saya tidak ikut-ikutan. Saya nggak mau. Ibaratnya, kita ini sudah ditegur Tuhan, kok masih menjarah. Karena saya sendiri melihat warga menjarah barang-barang yang bukan makanan atau minuman," tuturnya. 

Namun, halangan masih di depan mata. Sebagaimana diberitakan, usai kejadian gempa tersebut, persediaan bahan bakar mesin (BBM) di Palu mendadak sangat langka. 

Joko mengaku mengantri mengisi bensin mulai pukul 08.00 WITA hingga pukul 17.00 WITA. Dia sempat mengisi bensin dua kali selama 4 hari berusaha survive di Palu. "Semua orang, termasuk saya mengantri selama 9 jam. Hanya dapat 5 liter seharga Rp 50 ribu," katanya. 

Namun penderitaan Joko di Palu akhirnya berakhir. Kemarin (3/10), sejumlah relawan dan anggota TNI AD mengajaknya pergi ke bandara Palu. Dia pun membawa kedua putra dan istrinya naik sepeda motor ke bandara. 

Sedangkan kakak ipar, kakak kandung, dan mertuanya, diantar oleh tetangga dan relawan lain yang membawa sepeda motor. "Saya berangkat dari bandara Pali sekitar pukul 14.00 WITA. Lalu, ya sampai di Juanda ini," katanya. 

Tak ada harapan selain keinginannya pilang ke rumah ibu kandungnya di Boyolali, Jawa Tengah. Katanya, dia ingin memulihkan diri dan psikologis anak-anaknya pascagempa. Meski, dia juga berharap dapat kembali mengais rejeki di Palu. 

"Ya namanya perantauan. Saya sebenarnya sudah nyaman tinggal di Palu. Tapi nanti saja. Saya tunggu sampai Palu benar-benar pulih," akunya.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up