JawaPos Radar

Akui Berbohong, Pakar Kesehatan Jelaskan Amigdala Ratna Sarumpaet

04/10/2018, 07:22 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
ratna sarumpaet, wajah memar ratna sarumpaet, operasi plastik, ratna sarumpaet dianiaya, setya novanto,
Ratna Sarumpaet saat menggelar konferensi pers terkait dirinya mengaku dianiaya, Rabu (3/10) (Mifathul Hayat/ Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Aktivis Ratna Sarumpaet mengaku berbohong. Lebam-lebam di wajahnya bukan karena dipukuli. Akan tetapi lebam diperolehnya usai melakukan sedot lemak di bagian pipi kiri di Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika. Kebohongan Ratna tentu membuat masyarakat heboh di tengah duka gempa yang disertai tsunami di Palu dan Donggala.

Menanggapi sikap Ratna, Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. menilai, secara umum setiap manusia memiliki bagian otak yang dinamakan amigdala. Amigdala akan memberi respon saat seseorang berbohong dan terus memudar ketika terus melakukan kebohongan.

Dan jika seseorang terlalu sering berbohong, maka dia tak lagi memilki respons emosional saat berbohong.

"Amigdala akan memberi respons saat kita bohong, munculah rasa bersalah. Namun terlalu sering kita bohong, amigdala enggak akan respons lagi," kata Budi kepada JawaPos.com, Rabu (3/10).

Menurut Budi, jika bohong sudah menjadi kebiasaan, ada bagian otak yang bereaksi. Dia mencontohkan kasus Ratna Sarumpaet mirip dengan kejadian saat terpidana kasus korupsi dan mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto berakting bisu di ruang sidang.

Menurut Budi saat seseorang sudah lebih sering berbohong, itu sudah menjadi budaya dan bisa jadi tak merasa bersalah lagi. "Ini berlaku umum ya, analisis saya kadang lihat para koruptor itu, jangan-jangan sudah mati amigdalanya," ujarnya tertawa.

Sedangkan dalam kasus Ratna, seolah dia sedang berakting dalam permainan teater yang piawai dimainkannya.

Sebelumnya Ratna Sarumpaet menghebohkan masyarakat dengan membuat hoax bahwa dirinya mengalami lebam-lebam setelah dipukuli. Bahkan foto wajahnya lebam-lebam tersebar di media sosial. 

Namun dalam konferensi pers, Rabu (3/10), dia mengaku sambil menangis bahwa hal itu semuanya adalah kebohongan. Hal itu dilakukannya demi menutupi fakta yang sebenarnya dari keluarganya.

Ia bahkan mengaku sebagai salah satu orang yang menciptakan hoaks. Karena kebohongan luka lebamnya mengakibatkan publik heboh.

"Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan semua negeri. Mari kita ambil pelajaran dan bangsa kita ini dalam keadaan tidak baik, seperti yang saya lakukan ini mari kita hentikan," pungkasnya.‎

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up