JawaPos Radar

Dari Kasus Ratna Sarumpaet, PPP Usulkan 3 Oktober Jadi Hari Antihoaks

04/10/2018, 06:58 WIB | Editor: Ilham Safutra
Dari Kasus Ratna Sarumpaet, PPP Usulkan 3 Oktober Jadi Hari Antihoaks
Wasekjen DPP PPP Achmad Baidowi (Hendra Eka/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Tragedi kebohongan Ratna Sarumpaet yang menggempar tanah air membuat publik semakin paham makna dari hoaks. Masyarakat pun semakin berhati-hati memercayai sebuah informasi dari sumber yang tidak jelas.

Belajar dari kasus itu, Wasekjen DPP PPP Achmad Baidowi mengusulkan 3 Oktober sebagai Hari Antihoaks Nasional. Sebab pada tanggal itu skenario kebohongan yang dirancang oleh aktivis perempuan tersebut terbongkar.

Menurut Baidowi, saat ini Indonesia tengah berduka dengan adanya bencana gempa bumi disertai tsunami di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Masyarakat warga tengah membutuhkan uluran tangan. Ironisnya di tengah kondisi berduka itu Ratna Sarumpaet malah membuat gaduh dengan kebohongannya.

Dari Kasus Ratna Sarumpaet, PPP Usulkan 3 Oktober Jadi Hari Antihoaks
Ilustrasi: PPP mengusulkan 3 Oktober sebagai Hari Antihoaks Nasional (Kokoh Praba/JawaPos.com)

"Ironisnya pengakuan bohong Ratna Sarumpaet sempat dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh elite politik seberang," ujar pria yang biasa disapa Awiek tersebut dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/10).

Tragisnya, kata pria yang pernah jadi wartawan itu, pengakuan Ratna Sarumpaet justru dijadikan akrobat politik untuk menghantam kubu rivalnya di Pilpres 2019. Akan tetapi pertunjukan politik yang barbar menunjukkan sebuah kontestasi politik yang tidak etis dan jauh dari beradab.

"Padahal kita sedang membangun iklim politik yang kondusif, beretika, dan beradab. Masyarakat Indonesia menjadi korban pembohongan Ratna Sarumpaet," sebut Aweik.

Oleh karena itu, untuk mencegah peristiwa terulang dan untuk membangun budaya bermedsos yang positif, maka 3 Oktober 2018 diperingati sebagai Hari Antihoaks Nasional. Tanggal itu bersamaan dengan Ratna mengakui kebohongannya.

"Setidaknya pengakuan Ratna sekaligus menyadarkan publik Indonesia bahwa hoax telah menjadi pemicu perpecahan," tandasnya.

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up