JawaPos Radar

Kisah Pilu Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Palu

04/10/2018, 05:10 WIB | Editor: Estu Suryowati
Kisah Pilu Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Palu
ILUSTRASI Gempa Donggala dan Palu (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Gempa dan tsunami yang menghantam Kota Palu dan Donggala ini sangat menyayat hati. Kisah pilu yang dialami ribuan orang meninggalkan rasa trauma hebat. Satu di antara ribuan itu, Sedu, 40, dan keluarganya.


Masih jelas teringat di kepala Sedu, gempa disusul tsunami yang mengguncang Kota Palu dan Donggala, Jumat (28/9) sore, seketika menyapu rata penduduk setempat. Kala itu, ia sedang melayani seorang pembeli di tempatnya berjualan berjualan nasi lalap.

Tiba-tiba ia merasakan getaran. Orang-orang berlarian tak karuan. Sedu merasa lebih yakin, karena rumahnya berkonstruksi kayu.

"Saya meyakini tidak runtuh. Jadi kami diam saja, daripada lari ke sana dan ke mari," ujarnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Kamis (4/10).

Tak lama kemudian, gempa pun berlalu. Tiba-tiba ada yang berteriak air pantai naik. Seketika orang-orang kembali berhamburan. Mungkin jarak dari rumahnya dengan pantai tidak sampai satu kilometer.

"Saya pikir airnya tidak sampai ke rumah, tapi orang-orang teriak dan bilang air naik, air naik. Akhirnya kami ikut lari juga," katanya mengingat kisah pilu ini.

Tak sempat menyelamatkan surat penting seperti ijazah anaknya, yang dipikirkan hanya menyelamatkan diri. Kisah pilu ini pun tak mampu dibendungnya lagi.

Tak ada keinginan lain selain keluar dari Kota Palu. Selain istri dan kedua anaknya, adik perempuan yang juga telah berkeluarga juga diboyong. Sedu melihat sendiri temannya tertimbun dan terjepit reruntuhan bangunan.

Belum lagi kondisi pascatsunami. Jangankan listrik padam, jaringan seluler pun lumpuh total. Gempa skala kecil pun terus menghantui masyarakat setempat.

Ingin memberikan kabar kepada keluarga di kampung pun tak dapat dilakukan. Maklum, asalnya dari Surabaya, Jawa Timur yang mengadu nasib di Kota Palu.

"Kalau begini masih banyak pikiran, pikir keluarga, bagaimana caranya pulang ke kampung," jelasnya.

Awal Sedu dan keluarganya berniat keluar dari Palu, ia menginap di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu selama dua hari.

Beribu orang, hanya satu tenda saat itu. Tak berani masuk ke dalam bandara, mengingat kondisi bangunan pun rusak parah. Akhirnya aparat setempat memberi solusi dengan memanfaatkan kapal laut di Pelabuhan Pantoloan, Palu.

"Jadi aparat berkoordinasi dengan pihak kapal, mungkin Senin kami berangkat. Jadi di kapal, kami juga hubungi keluarga di kampung," katanya.

Informasi yang diterima, tujuan kapal tersebut berlayar ke Tarakan-Nunukan-Makassar. Ia dan rombongan lainnya pun merasa senang karena mendapatkan tumpangan tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Maksudnya saat di Makassar nanti, ia berencana pulang kampung ke Surabaya. Namun setelah kapal sandar di Tarakan pada Selasa (2/10) sore, untuk memastikan tujuan kapal, akhirnya ada rombongan yang bertanya ke petugas kapal.

Sayangnya, informasi yang diterima berbeda dengan informasi di awal. Begitu mengetahui kapal akan melanjutkan perjalanan ke Nunukan dan kembali ke Pantoloan, rombongan pun memutuskan turun di Tarakan.

"Kami tanya lagi mau sandar di mana lagi, katanya dari Tarakan ke Nunukan, baru balik ke Pantoloan lagi. Kami trauma dan enggak mau ke Palu lagi, jadi kami semua turun di Tarakan," terangnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan pun memfasilitasi tempat pengungsian, makanan dan minuman. Rabu (3/10) pagi, rombongan lainnya berangkat ke kampung halaman masing-masing.

Sedu dan keluarganya yang berjumlah delapan orang tak lagi memiliki uang. Tak putus asa, meski tak saling kenal, ia pun mengutarakan isi hatinya kepada orang di sekitarnya.

"Yang berangkat tadi pagi itu punya uang. Kalau kami tidak ada uang sama sekali. Jadi, saya yakin pasti masih ada hati orang yang seperti malaikat," ucapnya.

Bahkan ia sempat berpikiran akan mencari uang di Kota Tarakan ini, dengan berjualan kardus dan meminta sumbangan di pinggir jalan. Saat duduk merenung, tiba-tiba ia dihampiri orang tak dikenal, menyebut diri hamba Allah.

"Alhamdulillah ada hamba Allah yang mau bayarkan tiket, mungkin hampir Rp 8 juta karena kami ada delapan orang. Kami berangkat jam 5 sore nanti (kemarin, Red)," katanya.

Bila keadaan di Kota Palu sudah stabil, Sedu berencana akan kembali. Maklum sudah menetap di Kota Palu selama enam tahun.

Anak sulungnya baru saja duduk di bangku kelas satu SMA. Ia ingin anaknya menuntaskan pendidikan di sana.

"Saya mikir bagaimana nasib anak saya, surat-surat penting, ijazahnya di sana (Palu). Kalau keadaannya sudah stabil, kami mau balik ke sana (Palu) lagi," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up