JawaPos Radar

VFS-Tasheel Bebani Jemaah, Pengusaha Umroh Geruduk Kanwil Kemenag

03/10/2018, 20:30 WIB | Editor: Budi Warsito
VFS-Tasheel Bebani Jemaah, Pengusaha Umroh Geruduk Kanwil Kemenag
Jemaah Umrah dan Masyarakat Tolak Visa Fasilitas Sistem Tasheel (Jumrat VFS-Tasheel) menggelar aksi damai ke Kantor Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumatera Utara di Jl Gatot Subroto, Medan, Rabu (3/10). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sekitar ratusan massa dari Jamaah Umrah dan Masyarakat Tolak Visa Fasilitas Sistem Tasheel (Jumrat VFS-Tasheel) menggelar aksi damai ke Kantor Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumatera Utara di Jalan Gatot Subroto, Medan, Rabu (3/10).

Mereka menganggap, kebijakan VSF Tasheel membebani para jamaah yang akan menjalani ibadah umroh. VSF Tasheel adalah kebijakan perekaman biometrik sidik jari dan wajah. Arab Saudi akan memberlakukan kebijakan tersebut pada 24 Oktober mendatang. Dalam aksinya, massa membawa spanduk dan poster berisi kecaman atas kebijakan yang sangat merugikan para jamaah.

Ikhwansyah Nasution selaku koordinator aksi mengatakan, kebijakan ini sangat memberatkan. Apalagi Indonesia sebagai penyumbang jamaah terbesar di dunia, sehingga termasuk negara penyumbang devisa terbesar bagi Arab Saudi.

VFS-Tasheel Bebani Jemaah, Pengusaha Umroh Geruduk Kanwil Kemenag
Jemaah Umrah dan Masyarakat Tolak Visa Fasilitas Sistem Tasheel (Jumrat VFS-Tasheel) menggelar aksi damai ke Kantor Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumatera Utara di Jl Gatot Subroto (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Data teranyar lanjut Ikhwansyah, Indonesia mengirim jamaah hingga 1.005.086 orang per tahun. "Perusahaannya bernama Tasheel di Dubai. Mereka yang sekarang ditunjuk menyelenggarakan Visa Fasilitas Sistem ini. Di Medan saat ini, mereka sudah membuka kantor di Cambridge. Mirisnya, para pegawai perempuannya itu tidak berhijab. Jelas ini mencurigakan. Jangan jemaah kita dijadikan komoditi bisnis pihak-pihak tertentu" kecamnya.

Keberatan mereka juga bertambah. Hal itu dikarenakan karena, meski sudah ikut VSF Tasheel, jamaah tetap saja harus mendapat stempel visa dari Kedutaan Arab Saudi.

"Anehkan. Provider visa tetap bekerja seperti biasanya, namun ada tambahan bukti telah melakukan sidik jari dan rekam wajah di VFS. Sementara perusahaan itu adalah perpanjangan tangan kedutaan dalam hal pengurusan visa. Lalu kenapa di urusan visa umrah sesudah dari VFS harus tetap melalui tahapan ke Kedutaan Saudi Arabia" ujarnya.

Hal lain yang dianggapnya tidak efisien adalah, soal sidik jari dan rekam wajah ini karena beredar info hanya berlaku untuk 6 bulan. Artinya lebih dari itu, jamaah harus kembali ke VFS dengan biaya yang sudah ditetapkan sebesar 7 USD.

"Ini pemerasan namanya," ujarnya.

Kebijakan ini juga menambah beban jamaah yang berada di daerah pelosok. Mereka harus merogoh kocek lagi untuk mengurus VSF Tasheel itu. Karena mereka harus datag ke Kota Medan.

Aksi tersebut mendapat tanggapan dari Plt Kakanwil Kemenag Sumut, Tengku Dharwansyah. Namun sayangnya, Kanwil Kemenag Sumut juga belum mengetahui soal VSF Tasheel itu.

Ironisnya, seolah kebobolan, di hadapan pengunjukrasa Dharwansyah malah mengaku pihaknya belum mendukung tuntutan para calon jamaah umrah dan pemilik travel sebagai penyelenggara kegiatan ibadah itu.

"Pihak Kemenag hingga kini belum menerima tentang hal ini. Bahkan menyebutkannya saja susah dan juga belum ada petunjuk tentang ini," ucap Dharwansyah.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up