JawaPos Radar

Pengungsi Sulteng Termakan Hoax: Kami Sudah Susah Tambah Dikasih Susah

03/10/2018, 17:25 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
pengungsi gempa
Ribuan warga mengantre di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie untuk dibawa pesawat Hercules milik TNI keluar dari Palu, kemarin (2/10). (REZA MANGANTAR/MANADO-POST/JPG)
Share this image

JawaPos.com - Tangan Widodo, 47, gemetaran. Kondisinya lemas. Ia baru saja tiba di Bandara Juwata Internasional Tarakan, Senin (1/10) sekira pukul 15.00 WITA. Widodo kurang makan. Empat hari pasca gempa dan tsunami mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng) nasibnya tak jelas.

Bersama dengan ratusan pengungsi lain, Widodo berangkat dari Kota Palu atas bantuan pemerintah menumpang KM Lambelu. Ia pun tiba di Pelabuhan Malundung, Tarakan. Lantas, turun bersama sebagian pengungsi.

Saat tiba di Pelabuhan Malundung, salah seorang pengungsi mendapat informasi dari seseorang bahwa ada bantuan berangkat menggunakan pesawat terbang yang disediakan salah satu maskapai penerbangan. Puluhan pengungsi tersebut beramai-ramai mendatangi Bandara bermaksud untuk ikut dalam penerbangan yang dimaksud. Namun ketika sampai di Bandara mereka terkejut karena informasi tersebut tidak benar adanya.

“Kami tadi tiba di pelabuhan jam 9 pagi, rencananya jam 4 nanti mau langsung ke Makassar lalu ke Surabaya. Lalu, ada teman yang bilang ada bantuan gratis naik pesawat. Tapi pas di sini (Bandara) ternyata kami disuruh beli tiket,” ungkapnya, sebagaimana diberitakan Prokal.co (Jawa Pos Group), Rabu (3/9).

Pengungsi yang lain tiba di Bandara menggunakan jasa angkot yang mereka bayar dengan sisa uang yang ada. Sebagian dari mereka tidak memiliki uang sekadar untuk makan.

“Uang terakhir kami untuk menyewa mobil supaya bisa sampai ke sini. Tapi kenyataannya begini, kami sudah tidak tahu mau makan apa,” terangnya.

Nuriati mengatakan, para pengungsi merasa tertipu atas informasi yang menyesatkan dari seseorang di Pelabuhan Malundung. Hingga saat ini, ia dan pengungsi lain tidak mengetahui harus melakukan apa, mengingat dirinya tidak memiliki sanak saudara di Kota Tarakan, sementara kapal yang mereka tumpangi sebelumnya sudah berlayar.

“Kami sudah susah, tambah dikasih susah. Saya belum makan dari tadi malam, ini bingung nanti mau makan apa dan ke mana. Kalau berangkat, jelas tidak bisa karena kami tidak memiliki uang lagi,” terangnya.

Persediaan air mineral yang mereka bawa semakin menipis sehingga mereka harus menggunakan air tersebut sehemat mungkin agar tidak kehausan di perjalanan.

“Ini baju kami sudah 4 hari sejak dari Pelabuhan Pantoloan belum diganti, dan sekarang air yang kami bawa sisa beberapa botol saja. Tinggal ini harapan kami mengganjal perut,” urainya.

“Jumlah kami sekitar 50 orang dari Palu. Di sini kami tidak memiliki siapa-siapa. Kami sudah bingung, mau bagaimana,” bebernya.

Sementara itu, Airport Manager Lion Air Tarakan Muhammad Arif terkejut mendapati pengungsi yang ingin diberangkatkan secara gratis. “Yang jelas kalau dari Lion Air, kami tidak tahu kalau mereka akan datang, artinya itu tiba-tiba karena kami juga tidak pernah membuat program seperti itu. Katakanlah program berangkat gratis atau tiket murah itu tidak ada. Karena tahu-tahu datang di Bandara dengan jumlah yang besar,” tuturnya.

Meski demikian Arif turut prihatin atas penyebaran informasi hoaks kepada pengungsi tersebut. Meski demikian, ia tidak bisa berbuat banyak dan tetap menjalankan pelayanan sesuai prosedur yang ada.

“Kami prihatin atas kejadian ini. Karena mereka juga termasuk korban, kan? Tapi. Mau bagaimana lagi kami memang itu pernah ada program seperti mereka katakan. Dan dengan hormat kami hanya melayani penerbangan sesuai prosedur,” terang Arif.

Dari pantauan media ini, pengungsi yang tiba di Tarakan sebanyak 86 orang. Rencananya diberangkatkan hari ini dengan kapal laut.

(fab/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up