JawaPos Radar

Atasi Konflik dengan Manusia, Tiga Gajah PLG Riau Dikirim ke Jambi

03/10/2018, 16:47 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Atasi Konflik dengan Manusia, Tiga Gajah PLG Riau Dikirim ke Jambi
Tiga ekor gajah PLG Riau yang ditampilkan saat acara pembukaan perkemahan Saka Bakti Kalpataru dan Saka Wanabakti, tingkat Nasional Regional Sumatera tahun 2018 di Kabupaten Siak, Senin (1/10). (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebanyak tiga ekor gajah jinak yang berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Riau, dikirim ke kawasan Tebo, Provinsi Jambi, untuk mengatasi konflik gajah liar dengan manusia.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan, tiga gajah PLG di bawah naungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, akan bertugas mengawal tiga gajah liar yang masuk ke pemukiman warga untuk kembali ke habitatnya.

"Tiga gajah di Jambi itu dua di antaranya berjenis kelamin jantan dan satunya betina. Gajah betina diperkirakan berusia 40 tahun dan sudah tidak ada lagi kawanannya," kata Suharyono, Rabu (3/10).

Untuk gajah betina ini, sudah tidak memiliki kelompok lagi. Sedangkan dua gajah jantan masih berusia muda. Mereka memisahkan diri dari kelompok karena sedang mencari pasangan.

"Gajah muda ini disebut tengah berada dipuncak keinginan untuk kawin. Jadi gajah muda jantan memang begitu sifatnya, suka ke sana kemari cari tantangan," jelasnya.

Hanya saja, keberadaan dua gajah jantan ini meresahkan masyarakat karena masuk kebun dan memakannya. Bahkan ada kejadian warga diseruduk oleh satu gajah jantan.

Untuk tiga gajah PLG yang dikirim bernama Indah, Bangkin dan Reno. Indah, sesuai namanya merupakan gajah betina dewasa yang akan dipergunakan untuk menggiring gajah betina di Jambi untuk masuk ke hutan lagi.

"Nanti akan diarahkan ke kelompok gajah lain karena dia sudah sendiri, begitu juga dengan dua jantan yang akan digiring ke kawanannya di hutan," jelasnya.

Penggiringan gajah liar oleh gajah PLG ini dilakukan karena gajah liar tidak dapat dihadapi oleh manusia. Penggunaan gajah yang telah dilatih oleh profesional ini, diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan gajah liar agar dapat kembali ke alamnya tanpa terlibat konflik lagi dengan manusia.

"Walaupun ada pawang tapi tidak ada gajah jinak, maka gajah liar tidak bisa dihadapi," sebut Suharyono.

Dijelaskan Suharyono, di PLG ada 25 ekor gajah. Dulunya gajah itu liar ataupun diselamatkan dari habitatnya lalu dilatih oleh pawang sehingga bisa berteman dengan manusia.

Gajah-gajah ini, sudah sering mengatasi konflik antara manusia dengan satwa berbelalai itu di Bumi Lancang Kuning. Upaya mengatasi konflik dengan melibatkan gajah jinak selalu berhasil.

Penggunaan gajah jinak dalam mengatasi konflik pertama kali dilakukan oleh Thailand. Indonesia lalu mendirikan PLG dan Riau ditunjuk sebagai salah satu lokasi karena ada beberapa kantong gajah.

"Di Riau ini ada delapan kantong gajah. Yang paling banyak itu terdapat di kantong Giam Siak Kecil, ada 50 gajah, lalu di Taman Nasional Tesso Nilo ada 40," pungkasnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up