JawaPos Radar

Gempa Lombok Tak Surutkan Semangat Nursyida Syam Bina Taman Bacaan

Gramedia Reading Community Competition 2018

03/10/2018, 12:09 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Gramedia Reading Community Competition 2018,
Nursyida Syam penggagas Klub Baca Perempuan Lombok Utara. (Inri Sembiring/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gempa bumi Lombok meninggalkan trauma dan duka yang mendalam bagi masyarakat. Gempa yang terjadi pada 29 Juli lalu telah mengubah hidup masyarakat Lombok. Namun, tekad dan semangat untuk bangkit tetap ditanamkan pada diri mereka.

Seperti halnya seorang Ibu rumah tangga bernama Nursyida Syam, ia mencoba untuk tidak larut dari kesedihan. “Trauma sudah pasti, bagaimana tidak, saya melihat bangunan menari-nari lalu ambruk, tanah terbelah,” Nursyida Syam kepada JawaPos.com, ketika ditemui di Balai Kartini, Jakarta, (28/9).

Ia dikenal sebagai duta baca di kalangan literasi masyarakat Lombok. Nursyida sudah 12 tahun membangun Klub Baca Perempuan Lombok Utara. Taman baca yang ia bangun telah menyebar menjadi 24 cabang.

Seperti bangunan lainnya, Klub Bacaan Perempuan Lombok pun banyak yang hancur. Tetapi ia merasa taman bacaan yang telah dibinanya tidak hilang. Taman baca yang dibangun dirumahnya sendiri justru dirobohkan karena sudha tak layak.

Ternyata masih ada yang peduli terhadap taman baca tersebut. “Alusi Tao Toba, taman baca dari Sumatera Utara menggalang donasi taman baca untuk kami, bang Togu dan kawan-kawan bersepeda 70 km, saya rasa menjadi berkah, kalau saya bukan jadi pegiat literasi mungkin tidak bertemu dengan orang-orang hebat seperti itu, inilah yang saya rasa saya tidak menghadapi kesedihan ini sendiri,” sambungnya.

Selain itu membangun kembali taman bacaan di Lombok, ia juga membantu pemerintah fokus membangun sekolah TK Paud yang juga roboh akibat gempa. Manfaat dan muzizat yang tak terduga ia rasakan sebagai orang yang peduli akan literasi.

Dulu masyarakat sekitar sangat asing dengan kata ‘literasi’. Namun karena kegigihan ia bersama suami, dan menyebar semangat minat baca, masyarakat Lombok pun mengenal mereka sebagai keluarga pembaca.

“Saya senang apa yang saya bangun, orang-orang menjadi tak asing dengan literasi. Saat ini didukung oleh pemerintah daerah terhadap gerakan minat baca. Tempat untuk menggodok minat bakat anak-anak. Misal seperti pendongeng, tari-tarian, penulis cilik, modern dance,” tambahnya.

Kecintaan terhadap membaca sudah ditanamkan sejak kecil. Membangun taman baca sudah ia impikan sejak duduk di bangku kuliah. Walaupun saat ini ia Ibu rumah tangga, namun ia percaya bahwa budaya dan pengetahuan yang positif dianut berasal dari Ibu.

Dunia Literasi merupakan pintu masuk penyelesai berbagai macam permasalahan sosial. Sebelum tertimpa bencana gempa, Klub Baca Perempuan Lombok sudah memiliki koleksi buku sebanyak 27 ribu, memiliki orang binaan sebanyak 300 dari kalangan SD, SMP, Mahasiswa, Ibu Rumah Tangga, dan masyarakat umum. Dana dan buku ia dapatkan dari urunan teman-teman dan masyarakat. Bahkan ada saja beberapa perusahaan atau wisatawan yang menyumbangkan buku.

(Inr/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up