JawaPos Radar

Donggala Utara Belum Tersentuh, Warga Sigi Mengungsi di Tenda Seadanya

03/10/2018, 11:29 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Donggala Utara Belum Tersentuh, Warga Sigi Mengungsi di Tenda Seadanya
Kondisi masjid Baitur Rahman kota Palu setelah diterjang gempa dan tsunami (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Dari seluruh kabupaten dan kota terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), tinggal kawasan Donggala bagian utara yang belum ditangani.

Sementara itu, korban di Donggala bagian selatan, Kabupaten Parigi, dan Kabupaten Parigi Moutong sudah bisa ditangani sekalipun wilayah tersebut belum bisa diakses.

Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) beserta unsur TNI dan Polri telah bekerja melakukan penanganan. "Kami mendapat info kalau hari ini (kemarin, Red) Donggala sudah bisa ditembus. Sigi dan Parigi juga. Cuma Donggala bagian utara yang belum tersentuh," katanya.

Donggala Utara Belum Tersentuh, Warga Sigi Mengungsi di Tenda Seadanya
Warga bahu membahu menyelamatkan harta benda yang masih bisa diselamatkan di Balaroa, Palu (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Begitu tim gabungan sampai di tiga kabupaten tersebut, prioritas pertama adalah evakuasi korban. Sutopo menyebut bahwa alat-alat berat sudah dimobilisasi. "Nanti ada bantuan tim dari perusahaan pertambangan yang expert dalam penanganan bangunan runtuh," jelasnya.

Jika jalur sudah terbuka, Sutopo menyatakan bahwa logistik segera disalurkan. Baik lewat darat maupun lewat udara. "Sudah ada tiga helikopter water bombing punya BNPB. Nanti logistik diantarkan dengan cara airdrop," katanya.

Sementara itu, Kementerian PUPR memprioritaskan pemulihan akses jalan pascagempa dan tsunami di Sulteng. Hal itu menjadi satu di antara empat fokus kementerian tersebut selain membantu evakuasi korban, menyediakan air bersih dan sanitasi, serta membersihkan kota.

Kelancaran konektivitas sangat penting bagi mobilitas orang dan distribusi bantuan agar bisa sampai ke lokasi-lokasi pengungsian.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, seluruh jalan nasional ke Kota Palu melalui lintas barat, timur, dan tengah telah terbuka. Jalur lintas barat meliputi ruas jalan Palu-Pelabuhan Pantoloan-Tolitoli-Buol sepanjang 546 km dan ruas Palu-Donggala-Pasangkayu-Mamuju sepanjang 420 km.

Jalur lintas tengah terdiri atas ruas Palu-Napu-Poso sepanjang 427 km dan Palu -Kebon Kopi-Parigi-Poso sepanjang 220 km. Lintas timur melalui ruas Palu-Kebon Kopi-Marisa-Gorontalo sepanjang 607 km. "Salah satu ruas krusial, yakni Kota Palu-Kabupaten Parigi, yang menjadi jalur utama dari utara Sulawesi menuju Palu di mana terdapat kawasan dataran tinggi yang rawan longsor, yakni di Kebon Kopi,'' kata Basuki kemarin (2/10).

Basuki menambahkan, Kementerian PUPR akan memperbaiki dua jembatan rusak pada ruas jalan nasional di Towalen-Toboyo dan Jembatan Kuning.

Di Kota Palu juga dilakukan perbaikan jalan yang retak dengan cara pengupasan/scrapping dan patching. "Untuk pengerjaannya, dilakukan mobilisasi alat berat 1 unit ekskavator, 1 loader, dan 2 dump truck," kata Basuki.

Kondisi Warga Sigi

Lima hari pascagempa dan tsunami, kondisi Kabupaten Sigi belum pulih. Dari pantauan wartawan Jawa Pos di Sigi, puluhan jalan rusak berat. Warga mengungsi dengan menggunakan material seadanya, seperti tenda lusuh berbahan terpal dan baliho caleg, di sejumlah kantong pengungsian.

Jawa Pos kemarin mengunjungi beberapa desa di kabupaten yang baru berdiri pada 21 Juli 2008 itu. Di antaranya, Desa Loru, Mpanau, Sidera, dan Jonooge. Semua berada di Kecamatan Sigi Biromaru.

Banyak warga yang mengungsi di kantong-kantong pengungsian mandiri. Mereka membuatnya bersama 3-10 kepala keluarga (KK). Pengungsi menggelar tenda di halaman rumah dan petak-petak lahan sawah. Beberapa di antaranya memilih mengungsi di atas bukit.

Di Loru misalnya, setidaknya ada lebih dari 10 kantong pengungsian yang digelar warga di petak sawah. Berbekal makanan seadanya. Bantuan sudah diberikan, tetapi jumlahnya minim.

Kondisi serupa terjadi di Desa Mpanau. Banyak warga yang memilih menggelar tenda di halaman. Mereka mengeluh karena bantuan yang diberikan warga kurang. Salah satunya soal jatah beras. "Untuk 43 orang, cuma dikasih beras 3 liter," terang Sukirman, salah seorang pengungsi di Mpanau. Jatah mi instan hanya satu kardus. Itu pun baru diterima pengungsi kemarin.

Tidak hanya itu, saat ini banyak pengungsi yang membutuhkan fasilitas tenda yang layak. Tenda yang ditempati warga tidak layak digunakan, terutama ketika hujan. Dua hari kemarin, turun hujan setiap dini hari. Banyak pengungsi yang terganggu tidurnya karena tetesan air.

Dia pun menyesalkan lambannya pemerintah dalam membagikan bantuan. Sebab, pemerintah hanya memprioritaskan pengungsi di Kota Palu. Padahal, kondisi di Sigi tidak kalah parah.

Kondisi di Desa Sidera juga sama. Lokasi tersebut sulit dijangkau saat ini. Banyak jalan yang retak. Terbelah karena guncangan gempa. Sepeda motor yang menuju ke area tersebut harus pintar bermanuver. Kalau tidak siap, mereka bisa terperangkap dalam lubang patahan aspal. "Kami belum dapat bantuan hingga hari ini (kemarin, Red)," terang Samsul Hadi, seorang pengungsi. Dia menyebut untuk mencukupi kebutuhan, pengungsi mengandalkan cadangan makanan yang sempat mereka selamatkan dari puing reruntuhan. Saat ini mereka membutuhkan air mineral, beras, dan mi instan.

Selain itu, warga Sigi sangat berharap adanya evakuasi korban. Salah satunya di Desa Jonooge yang hancur dilumat lumpur. Kondisi Desa Jonooge pascagempa sudah tidak berbentuk. Diterjang lumpur yang entah dari mana asalnya. Lumpur itu datang setelah gempa mengguncang. Lumpur tersebut menggeser posisi bangunan sekitar 400 meter dari tempat semula.

Kemarin belasan orang memarkir kendaraannya di pintu gerbang desa. Mereka berkeliling ke sana kemari di atas bekas desa yang tertutup timbunan lumpur. "Saya mencari Mamak saya," terang Abas, 31. Dia pantas kesal karena sejak Sabtu (29/9) mencari ke berbagai sudut gundukan lumpur. Namun, dia tidak bisa menemukan ibunya.

Abas memang sudah pisah rumah dengan ibunya. Dia warga Kecamatan Palolo sehingga tidak tahu kondisi terakhir ibunya saat terjadi gempa. Yang pasti, dia sudah mencari ke beberapa tempat pengungsian. Namun, sang ibu belum ditemukan.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan, pihaknya terus memperbaiki aliran listrik. Sejumlah titik sudah teraliri listrik. Salah satunya Makorem 132 Tadulako di Jalan Sudirman, Kota Palu.

Selain listrik, lanjut Willem, perbaikan infrastruktur berupa jalan dan jembatan mulai dilaksanakan petugas dari Kementerian PUPR. Akses dari Makassar menuju Palu, Gorontalo-Palu, dan Mamuju-Palu mulai terbuka. "Dalam tiga hari sudah terbuka akses itu," kata Willem seusai konferensi pers di Posko Satgas PB Gempa Sulteng di Makorem 132 Tadulako kemarin. 

(tau/elo/tyo/c6/agm)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 03/10/2018, 11:29 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 03/10/2018, 11:29 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 03/10/2018, 11:29 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 03/10/2018, 11:29 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 03/10/2018, 11:29 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 03/10/2018, 11:29 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 03/10/2018, 11:29 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up