JawaPos Radar

Ini Sikap Kemenpora Soal Tewasnya Atlet Paralayang Akibat Gempa

03/10/2018, 05:30 WIB | Editor: Bagusthira Evan Pratama
Kemenpora, Gempa Palu, Gempa Sulawesi, Gempa donggala, tsunami, atlet paralayang
Satu unit perahu ikut terseret ke daratan akibat bencana tsunami di Kota Palu, Jumat (28/9) lalu (Boy Slamet - Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ikut berduka dengan adanya korban meninggal dunia akibat gempa 7,4 SR di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) lalu. Akibat bencana tersebut, tujuh atlet paralayang ikut menjadi korban dan sejauh ini baru empat nama yang bisa ditemukan oleh tim relawan.

Keempatnya adalah Franky Kowaas, Glenn Mononutu, Petra Mandagi, dan Ardi Kurniawan. Sementara tiga lainnya yang belum ditemukan yakni Reza Kambey, Fahmi Malang, dan Dong Jin asal Korea Selatan.

"Kami keluarga besar Kemenpora dan Paralayang Indonesia benar-benar berduka cita atas korban meninggalnya atlet paralayang Indonesia di saat kejadian gempa dan tsunami. Di antara korban tersebut, dua di antaranya atlet pelatnas Paralayang Indonesia di Asian Games 2018 kemarin. Sejak hari Jumat kehilangan kontak dengan tujuh atlet Paralayang yang menginap di Hotel Roa-Roa,. Tujuh atlet tersebut yakni Petra Mandagi, Ardy Kurniawan, Gleen Mononutu, Reza Kambey, Lee Dong Jin, Franky Kowas, Fahmi," ucap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Sejauh ini Menpora terus memantau perkembangan pencarian korban. Ia berjanji pihaknya bakal membantu mengurus semua hal yang berhubungan dengan ketujuh atlet ini.

"Pemerintah dan pengurus paralayang akan memberikan hak-hak para atlet, sekaligus kami akan memberikan tali kasih atau santunan kepada keluarga. Kita juga akan memberikan santunan kepada atlet PPLP yang menjadi korban di sana. Kita mohon kepada Allah SWT semoga semua almarhum atlet kita diterima disisi Allah," ujar Menpora.

Para atlet paralayang ini tadinya sedang mengikuti kejuaraan tahunan Pesona Palu, Lamoni 2018, di Pantai Talise. Kegiatan itu berlangsung dari 27-30 September 2018. Namun akibat bencana ini, festival tersebut terpaksa dihentikan.

(isa/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up