JawaPos Radar

Waspada, Infeksi dari Pembusukan Jenazah Korban Gempa Sangat Berbahaya

02/10/2018, 22:50 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Korbam Gempa Sulteng
Relawan bersama warga yang selamat saat melakukan evakuasi korban gempa di Sulawesi Tengah (Sulteng). (ACT for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Beberapa hari setelah terjadinya gempa disertai tsunami yang melanda Palu, Donggala, dan Mamuju, Sulawesi Tengah, ribuan korban jiwa ditemukan. Namun, saat ini jenazah-jenazah itu masih tergeletak di tempat umum karena belum semuanya bisa dievakuasi untuk segera dimakamkan.

Merespons itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyatakan, sebaiknya jenazah para korban yang berhasil ditemukan segera dikumpulkan (dipusatkan) di rumah sakit, untuk nantinya dikuburkan secara masal. 

Tujuannya untuk mengurangi risiko pencemaran akibat timbulnya penyakit infeksi yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah para korban gempa dan tsunami. Dia mengingatkan hal itu agar segera dilakukan.

“Jenazah-jenazah itu dikumpulkan sebaiknya segera dibawa ke RS. Agar cepat dikuburkan masal dengan maksud agar (pasien/masyarakat) tidak tercemar penyakit yang bisa menyebabkan infeksi (akibat pembusukan jenazah),” tutur Menteri Nila dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Selasa (2/10).

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dokter Achmad Yurianto menjelaskan, jenazah mengalami pembusukan sejak satu jam pertama kematiannya. Proses pembusukan tercepat ada di bagian otak dan saluran pencernaan.

"Karena di dalam usus manusia tidak steril sehingga banyak mikroorganisme yang membentuk gas sehingga jenazah akan membengkak dan menggelembung," ujarnya.

Adapun risiko kesehatan yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah, kata Achmad, adalah keberadaan kuman yang dicemarkan melalui cairan maupun gas, sehingga dapat menimbulkan penyakit.

“Cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana. Ini sangat berbahaya bagi pasien lain. Oleh karena itu, seharusnya segera dimakamkan. Ini bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka,” paparnya.

Saat ini, proses pemakaman masal sudah dimulai dengan menetapkan lokasi penggalian dan mulai penguburan secara bertahap karena jenazah masih terus berdatangan. Jenazah yang datang di rumah sakit terlebih dulu diidentifikasi oleh pihak kepolisian untuk mengentahui identitas korban.

Jika pada korban tidak terdapat kartu tanda pengenal, maka jenazah akan difoto kemudian dilabeli. Foto korban ini untuk bisa diketahui identitasnya bila di kemudian hari ada keluarga atau kerabat yang mengenali. Sementara pelabelan digunakan untuk data pada lokasi pemakaman masal.

(ika/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 02/10/2018, 22:50 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 02/10/2018, 22:50 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 02/10/2018, 22:50 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 02/10/2018, 22:50 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 02/10/2018, 22:50 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 02/10/2018, 22:50 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 02/10/2018, 22:50 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up