JawaPos Radar

Kisah Korban Gempa Palu yang Tiba di Malang

Tiga Hari Terkatung-katung, Susah Payah Jalan Kaki ke Bandara

02/10/2018, 21:32 WIB | Editor: Dida Tenola
Tiga Hari Terkatung-katung, Susah Payah Jalan Kaki ke Bandara
Para pengungsi gempa Palu saat tiba di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Selasa (2/10). (Tika Hapsari/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Selasa petang (2/10), lebih dari seratus orang pengungsi gempa dan tsunami Palu mendarat di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang. Setelah terkatung-katung menahan rasa lapar dan haus, mereka bisa bernapas lega kembali ke tanah Jawa. Bayang-bayang bencana maha dahsyat itu perlahan-lahan coba disingkirkan dari memori mereka.

Dian Ayu Antika Hapsari- Malang

Tiga Hari Terkatung-katung, Susah Payah Jalan Kaki ke Bandara
Siti Zahra bersama putrinya, lega bisa kembali ke tanah kelahirannya. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

Roda Hercules A1318 milik TNI AU, mendarat mulus di landasan pacu Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Selasa petang (2/10). Suara mesinnya menderu seru. Meraung-raung memecah keheningan senjakala.

Sang burung besi super besar itu lambat laun mulai anteng. Baling-balingnya perlahan-lahan berhenti berputar. Mesin segera dimatikan. Tak beselang lama, pintu lambung pesawat mulai terbuka.

Seketika itu, ratusan pengungsi gempa dan tsunami Palu turun dari pesawat. Beragam mimik wajah tergambar. Ada yang terlihat lega. Ada yang tak kuasa menahan derai air mata. Tidak sedikit juga yang menengok kanan kiri, mencari sanak keluarganya yang datang menjemput.

Para pengungsi itu tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa barang tersisa yang bisa diselamatkan sebisanya. Koper, tas, sarung yang disulap menjadi pembungkus, sampai aneka kebutuhan makanan. 

Tampak juga para anak-anak yang masih nemplok di ibunya.  Seorang ibu bahkan terlihat menggendong bayinya yang masih berusia 1,5 bulan. Bayi mungil itu tampak gelisah, meski sang ibu terus setia mendekapnya. "Anak saya sakit sejak di pengungsian. Sampai sekarang dia tidak enak badan. Rewel terus," tutur perempuan yang mengaku berasal dari Lamongan sambil terus menyeka kening buah hatinya.

JawaPos.com tidak sempat menanyakan nama ibu itu. Dia buru-buru. Berlari-lari kecil keluar dari runway. Sepertinya dia ingin bayinya cepat mendapat perawatan.

Di sudut lainya, seorang perempuan terlihat bercengkrama dengan dua anaknya. Raut semringah terpampang jelas di wajahnya. Batinnya juga lega. Namanya Siti Zahra.

Siti membuka sarung yang dijadikan tas. Berusaha membongkar isi barang bawaannya. Si bungsu terus merengek minta diambilkan sepatu kesayangannya. Sejurus kemudian Siti berhasil menemukannya. Warna sepatu itu lucu imut-imut. Merah muda. 

Meskipun para pengungsi lain sibuk sendiri menuju bus, Siti tetap tenang. Seolah tak ada yang bisa mengusik kebahagiaannya. Siti lebih memilih meladeni putrinya. "Saya lega bisa meninggalkan Palu dan kembali ke kampung halaman," tambah perempuan berusia 36 tahun tersebut.

Setelah 12 tahun menetap di Palu, Siti harus rela meninggalkan kota perantauannya. Pasca gempa yang mengguncang Kota Kaledo, nyaris tak ada barang berharga yang bisa diselamatkannya.

Namun seperti petikan lagu Keluarga Cemara, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”, Siti patut bersyukur. Tiada harta yang paling indah selain berkumpul bersama keluarga. Keluarga Siti selamat. Siti masih bisa berbagi kebahagiaan dengan suami dan dua anaknya yang turut dievakuasi ke Malang.

Siti menceritakan, saat gempa pertama kali mengguncang, Jumat petang (28/9), keluarganya langsung naik motor untuk menyelamatkan diri."Kami takut ada tsunami, akhirnya menuju bukit. Tak lama memang benar, ada tsunami. Alhamdulillah kami semua selamat," katanya penuh syukur.

Bukit yang dituju keluarga Siti itu bernama Biromaru. Berada di atas bukit bukan berarti Siti sekeluarga aman. Tak lama kemudian, tak jauh dari sekitar mereka, muncul lumpur yang menenggelamkan satu kampung. 

Kembali dia harus lari dari kejaran bencana. Bersama keluarganya dia mengungsi ke rumah saudara di kawasan Basuki Rahmat. Menurutnya, kawasan ini aman karena jauh dari pusat gempa dan daerah terparah. Namun tetap saja, dia tidak berani tidur di dalam rumah. Karena takut dan trauma dengan gempa. "Kami tidur di lapangan depan rumah, bersama dengan pengungsi lainnya," beber penjual lalapan di Pantai Talise itu.

Selamat dari tsunami, Siti menceritakan bagaimana payahnya berjuang untuk bisa dievakuasi ke luar Palu. Dia harus antre mendaftarkan namanya dan keluarga. Selama tiga hari mereka terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Sebelum mencapai Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, keluarga Siti naik motor. Motor itu jalannya tidak mulus. Berguncang-guncang karena harus melalui aspal yang retak. Belum lagi jika ada gempa susulan berskala kecil.

Perjuangan belum berhenti sampai di situ. Jangan bayangkan saat tiba di bandara, Siti langsung dapat pesawat. Sehari hanya ada tiga penerbangan yang berangkat dari Palu untuk mengangkut para pengungsi.

Selama berada di bandara, Siti harus lari ke sana ke mari. Harus rajin mencari informasi terakurat soal keberangkatan pesawat. Dia berjuang mendapatkan slot bersama dengan suami dan dua anaknya, di tengah matahari yang menyengat kulit.

Antrean di bandara panjangnya mengular. Semua pengungsi ingin berebut segera diterbangkan keluar dari Palu. Suasananya kacau balau.

Siti mulai mencari informasi keberangkatan pesawat sejak hari pertama mengungsi. Sejak hari itu juga, warga Jalan Sam Ratulangi, Talise, Palu itu berupaya mencari slot pesawat. "Panas-panas, lari dipingpong tanya ke sana ke mari. Baru dapat informasi ada mobil Hercules gratis," ungkapnya.

Lain lagi dengan cerita Kusman, 47. Dia mengaku harus berjalan  sekitar 2 km menuju bandara. Dia berjalan dalam kondisi lapar dan haus.  "Makanan dan air sedikit. Tapi kita harus daftar untuk bisa naik itu pesawat bawa pulang ke Malang," kata dengan logat khas orang Sulawesi.

Kusman menjelaskan, banyak kawannya yang hingga kini belum jelas nasibnya. Teman-temannya juga ada yang sudah meninggal tertimpa material hingga tersapu tsunami. 

Maka dari itu, semua orang Jawa dan Makassar di Palu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Karena di Palu saat ini tak ubahnya seperti kota mati. "Kami ingin cepat kembali ke tanah asal, meninggalkan Palu. Susah sekali di sana, kacau. Kami juga ingin kasih tenang hati," kata lelaku yang sudah 15 tahun merantau ke Palu.

 

(tik/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up