JawaPos Radar

Wacana Pembangunan Pasar Induk Beras di Semarang Dikebut

Pangkas Distribusi Beras

02/10/2018, 20:33 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pasar Beras Induk
ILUSTRASI: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyepakati wacana pembangunan Pasar Induk Beras (PIB) di wilayahnya. (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyepakati wacana pembangunan Pasar Induk Beras (PIB) di wilayahnya. Keberadaan pasar ini disebut bakal berdampak pada lebih dapat dikendalikannya stok serta harga beras.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengatakan, keberadaan PIB dinilai mampu memangkas rantai distribusi. Sehingga berujung pada makin mudahnya kontrol harga dan pengecekkan inflasi bahan pangan.

“Selama ini kan ada delapan perantara, delapan itu semua ambil keuntungan dikit-dikit sampai delapan kali sehingga ujungnya mahal sekali. Sehingga ini bisa membawa keuntungan lebih pada petani karena jalurnya bisa dipangkas,” katanya, Selasa (2/10).

Pasalnya, Ganjar pribadi menyebut bahwa penjual di PIB adalah mereka-mereka yang berjualan beras dari seluruh Jateng. Bisa petani perorangan, kelompok tani, maupun koperasi. “Jadi ini momentum petani kalau petani punya kekuatan, punya koperasi, poktan yang bisa agresif begitu ya maka harganya bisa lebih kuat,” sambungnya.
 
PIB ini rencananya juga bisa difungsikan buat segala kegiatan pemantauan pasokan beras. Baik dari segi kualitas, jenis, harga dan sebagainya. Ini penting supaya bibit masalah seperti fluktuasi dan kelangkaan dapat dideteksi sejak dini. 

Rencananya, PIB ini dibangun tahun 2019 besok, dimana Gudang Beras Bulog Tambakaji Ngaliyan, Semarang menjadi salah satu calon lokasinya. Dengan luas sekitar tiga hektare, tempat tersebut mempunyai enam unit gudang.

Lahan parkirannya pun luas dan berdekatan dengan Gudang Beras Bulog Randugarut, Pelabuhan Kendal, Bandara Ahmad Yani serta jalan tol. Selain itu, akses jalan Pantura-nya juga lebar.

Tak hanya berbentuk deretan kios, PIB ini secara desain bakal difasilitasi sarana-prasarana penunjang. Macam gudang, jembatan timbang, balai lelang, mesin packing dan lain sebagainya.

“Kemarin dari Bulog sudah datang mereka merencanakan feasibility study dua bulan, langsung akan ditindaklanjuti, maka saya minta FS-nya dulu. Efektifitasnya mungkin awal tahun depan,” cetus Ganjar.

Sebelumnya, Arif Sambodo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, juga telah menyampaikan kepada Ganjar bahwa pihaknya telah melaksanakan rapat di Kementerian Perdagangan terkait persiapan pembangunan PIB. “Jadi anggaran dari pusat, penyediaan lahan dan pengelolaan pasarnya dilakukan bersama kita dengan bulog,“ katanya.

Divisi Pengembangan Bisnis dan Industri Hulu Bulog, Djoni Nur Ashari mengatakan, selain Jateng, provinsi lain seperti Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Lampung dan Sumatera Selatan, juga direncanakan memiliki PIB. Pilot project di Pare-pare sendiri saat ini progres fisiknya sudah separuh jalan.

Dikatakan Djoni, dipilihnya Jateng sebagai salah satu daerah untuk pembangunan PIB lantaran produksi komoditas padinya besar. Hasil gilingnya juga berkualitas. “Jateng saat ini juga menjadi pemasok gabah atau beras ke sebagian wilayah di Indonesia. Jateng juga memiliki sarana pascapanen yang memadai di sejumlah Kabupaten dan memiliki pelabuhan di Kota Semarang,” tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up